Alih Fungsi Lahan Sungai Picu Banjir Parah di Kota Serang, Ribuan Rumah Terdampak
Alih fungsi lahan sungai di Kota Serang menjadi penyebab utama banjir yang merendam ribuan rumah dan fasilitas umum. Wali Kota Serang targetkan penertiban bangunan liar mulai pekan depan.
Banjir besar kembali melanda Kota Serang, Banten, pada Sabtu (3/1), merendam setidaknya 1.023 rumah dan melumpuhkan sejumlah fasilitas publik penting. Pemerintah Kota (Pemkot) Serang secara tegas menyatakan bahwa alih fungsi lahan di bantaran sungai menjadi pemicu utama bencana ini. Kondisi ini diperparah dengan adanya bangunan liar yang menyebabkan penyempitan drastis badan sungai, mengubahnya menjadi sekadar saluran drainase.
Wali Kota Serang, Budi Rustandi, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi tersebut setelah meninjau langsung lokasi banjir yang terdampak. Ia menyoroti pelanggaran tata ruang yang dilakukan oleh oknum warga, yang secara signifikan mengurangi kapasitas sungai. Akibatnya, sungai yang seharusnya lebar 15 meter kini menyempit hingga hanya menyisakan satu meter, tidak mampu menampung debit air yang tinggi.
Dampak dari alih fungsi lahan sungai ini terasa lebih parah dibandingkan kejadian banjir sebelumnya, mengancam ribuan jiwa dan mengganggu aktivitas masyarakat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang mencatat bahwa 1.087 Kepala Keluarga atau sekitar 3.033 jiwa terdampak langsung oleh banjir ini. Wilayah Kecamatan Kasemen menjadi salah satu area terparah, dengan ketinggian air mencapai 100 cm di beberapa titik.
Penyebab Utama Banjir dan Pelanggaran Tata Ruang
Wali Kota Serang, Budi Rustandi, dengan tegas menunjuk alih fungsi lahan di bantaran sungai sebagai akar masalah banjir yang melanda wilayahnya. Pernyataan ini disampaikan setelah ia meninjau langsung lokasi terdampak banjir yang menyebabkan kerugian besar. Pelanggaran tata ruang oleh oknum warga telah mengubah secara drastis kondisi alami sungai.
Menurut Budi, penyempitan badan sungai adalah konsekuensi langsung dari pembangunan liar yang tidak sesuai aturan. "Kali yang aslinya lebar 15 meter, lama-lama ujungnya menjadi satu meter. Ini ada oknum warga melakukan pelanggaran tata ruang dengan mengalihkan fungsi sungai," ujarnya. Kondisi ini secara fundamental mengubah fungsi sungai besar menjadi hanya saluran drainase.
Perubahan fungsi ini membuat sungai tidak lagi mampu menampung volume air yang besar, terutama saat curah hujan tinggi. Akibatnya, air meluap dan merendam permukiman serta fasilitas umum. Budi Rustandi menekankan bahwa penyempitan sungai akibat alih fungsi lahan sungai ini menjadi pemicu utama bencana banjir yang dampaknya kini jauh lebih parah.
Dampak Luas dan Upaya Penertiban
Banjir yang disebabkan oleh alih fungsi lahan sungai ini tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga berdampak luas pada fasilitas publik. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang menunjukkan bahwa 1.087 Kepala Keluarga atau sekitar 3.033 jiwa harus merasakan langsung dampak bencana ini. Kecamatan Kasemen, khususnya Lingkungan Baru Bugis, menjadi wilayah yang paling parah terdampak dengan ketinggian air mencapai satu meter.
Tidak hanya permukiman, fasilitas kesehatan, gedung sekolah hingga Masjid Agung Banten Lama turut terendam banjir. Kondisi ini mengganggu pelayanan publik dan aktivitas pendidikan serta keagamaan. Kerugian materiil dan non-materiil akibat bencana ini diperkirakan sangat signifikan, membutuhkan penanganan serius dari pemerintah daerah.
Menanggapi situasi genting ini, Wali Kota Budi Rustandi telah menginstruksikan camat dan jajaran terkait untuk segera mendata seluruh bangunan liar di bantaran sungai. Ia menargetkan eksekusi penertiban akan dimulai pada pekan depan. "Saya minta minggu depan sudah mulai eksekusi, silahkan didata dan segera disosialisasikan Pak Camat, sesegera mungkin karena ini berdampak kepada masyarakat yang tidak bersalah," tegas Budi.
Kewaspadaan dan Penanganan Bencana
Mengingat kondisi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi, BPBD Kota Serang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Peringatan ini penting untuk meminimalisir risiko dan dampak lebih lanjut dari bencana banjir. Kesiapsiagaan masyarakat sangat dibutuhkan dalam menghadapi potensi luapan air yang bisa datang sewaktu-waktu.
Saat ini, proses pendataan dan evakuasi korban masih terus dilakukan di lokasi-lokasi yang tergenang banjir. Tim gabungan dari BPBD dan instansi terkait bekerja keras untuk memastikan keselamatan warga dan memberikan bantuan yang diperlukan. Fokus utama adalah evakuasi warga yang terjebak dan penyaluran bantuan dasar.
Upaya penanganan bencana ini juga mencakup koordinasi antarlembaga untuk memastikan respons yang cepat dan efektif. Data yang terkumpul dari pendataan bangunan liar dan korban terdampak akan menjadi dasar bagi langkah-langkah mitigasi jangka panjang. Ini termasuk rencana restorasi fungsi sungai dan penegakan aturan tata ruang.
Sumber: AntaraNews