Bangun Jakarta Tanpa Kompromi, Gubernur Pramono Beri Peringatan Keras ke Anak Buah
Alih-alih mengeluh, Pramono justru mengeluarkan peringatan keras kepada jajarannya di Balai Kota untuk tidak menjadikan hal tersebut.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menghadapi tantangan berat di awal masa kepemimpinannya dengan adanya pemotongan anggaran daerah sebesar Rp15 triliun.
Namun, alih-alih mengeluh, Pramono justru mengeluarkan peringatan keras kepada jajarannya di Balai Kota untuk tidak menjadikan hal tersebut alasan melambatnya pembangunan.
Pramono menegaskan bahwa situasi defisit ini harus dilihat sebagai momentum untuk melakukan reformasi birokrasi dan mencari sumber pendanaan kreatif di luar APBD.
"Saya menyampaikan kepada teman-teman sekalian di Balai Kota, enggak boleh ada protes satu kata pun. Ini adalah opportunity kita untuk mengembangkan Jakarta, membuat Jakarta menjadi naik kelas," ujar Pramono dalam diskusi 'Berita Satu Regional Forum 2025 - Empowering Regions, From Local to Global' di Jakarta, Rabu (10/12).
Pangkas Izin 12 Tahun Jadi 15 Hari
Sebagai solusi menambal celah anggaran tersebut, Pramono melakukan terobosan radikal dalam perizinan Koefisien Luas Bangunan (KLB) yang selama ini menjadi "momok" bagi para pengembang properti dan Real Estate Indonesia (REI).
Ia memangkas birokrasi berbelit yang sebelumnya memakan waktu belasan tahun menjadi hitungan hari dengan sistem transparan.
"Dulu, mengurus KLB untuk membangun gedung membutuhkan waktu 12 tahun. Namun ketika saya masuk, saya tanya Wali Kota, 'Mau berubah enggak?'. Kalau mau berubah kita buat semuanya transparan. Akhirnya yang terjadi, dulu diurus selama 12 tahun, saat ini hanya cukup 15 hari dan transparan," jelasnya.
"Harta Karun" Rp453 miliar dari Wisma Nusantara
Salah satu bukti nyata keberhasilan strategi ini adalah penyelesaian kasus KLB Wisma Nusantara di kawasan Bundaran HI yang sempat mangkrak perizinannya selama lebih dari satu dekade. Dengan pendekatan baru yang cepat dan transparan, Pemprov Jakarta berhasil mengamankan dana ratusan miliar rupiah dari satu proyek saja.
"Saya membuktikan, KLB Wisma Nusantara Bundaran HI, 12 tahun enggak selesai. Ketemu sama saya, saya cuma tanya mau enggak diselesaikan 2 minggu? Semuanya transparan, kamu akan bayar berapapun angka yang keluar. Berapa angka yang keluar? Rp453 miliar," ungkap Pramono.
Wajah Baru Bundaran HI dan Dukuh Atas
Dana segar dari optimalisasi KLB inilah yang kini digunakan Pramono untuk membiayai proyek infrastruktur modern tanpa membebani APBD yang sedang terpotong. Fokus utamanya adalah integrasi antarmoda yang nyaman layaknya negara maju.
Tahun depan, kawasan Bundaran HI akan mengalami transformasi besar di mana akses pejalan kaki antar-gedung pencakar langit akan terhubung langsung di bawah tanah.
"Maka dana (KLB) inilah yang saya gunakan untuk membangun Jakarta sekarang ini. Maka tahun depan ini yang akan berubah, Bundaran HI. Antara Pullman, Grand Hyatt, Mandarin, dan Kempinski, di bawahnya dihubungkan langsung masuk ke MRT. Itu indikasi negara maju," ucapnya.
Tak hanya Bundaran HI, kawasan Dukuh Atas juga akan dibenahi agar pengguna transportasi umum tidak lagi kehujanan saat berpindah moda.
"Kemudian Dukuh Atas ada 5 kuadran yang dulu tidak terhubungkan, orang pasti kehujanan. Sekarang kami hubungkan, sebentar lagi akan kami bangun. Maka MRT, LRT, Kereta Bandara, TransJakarta terhubungkan di atas," katanya.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie