Pramono Anung: Kemitraan Kunci Pembangunan Jakarta Tak Boleh Kendor, Meski Ada Efisiensi Pusat!

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan pembangunan Jakarta harus tetap berjalan, bahkan dipercepat, melalui kemitraan strategis dan percepatan perizinan, menepis efisiensi pusat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pramono Anung: Kemitraan Kunci Pembangunan Jakarta Tak Boleh Kendor, Meski Ada Efisiensi Pusat!
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan pembangunan Jakarta harus tetap berjalan, bahkan dipercepat, melalui kemitraan strategis dan percepatan perizinan, menepis efisiensi pusat. (AntaraNews)

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung baru-baru ini menegaskan komitmennya terhadap kelanjutan pembangunan ibu kota. Ia menyatakan bahwa ekosistem pembangunan di Jakarta tidak boleh melambat. Hal ini disampaikan di tengah kebijakan efisiensi yang diterapkan oleh pemerintah pusat.

Pernyataan tersebut menekankan pentingnya menjaga momentum pembangunan. Pramono Anung percaya bahwa kemajuan Jakarta memerlukan sinergi dari berbagai pihak. Kemitraan strategis menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi tersebut.

Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta akan terus mendorong berbagai proyek vital. Langkah ini diambil guna memastikan Jakarta tetap menjadi kota yang dinamis dan berkembang. Percepatan perizinan juga menjadi fokus untuk mendukung investasi dan pembangunan.

Pramono Anung menekankan bahwa pembangunan Jakarta tidak dapat dilakukan hanya oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI saja, melainkan harus melibatkan pihak lainnya. Kemitraan menjadi esensi penting dalam setiap langkah pembangunan kota. Salah satu contoh nyata adalah rencana pembangunan Transit-Oriented Development (TOD).

Strategi pembangunan perkotaan yang terintegrasi dengan sistem transportasi massal ini menjadi prioritas. Contohnya adalah TOD Bundaran Hotel Indonesia, yang akan menghubungkan Hotel Pullman, Hotel Mandarin, dan bangunan di sekitarnya langsung di bawah tanah menuju stasiun MRT. Proyek ini menggunakan dana kompensasi Koefisien Lantai Bangunan (KLB).

Selain itu, ada juga rencana pembangunan kawasan TOD Dukuh Atas yang akan dikembangkan tanpa menggunakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Pemprov DKI mempercayakan proses pembangunan kawasan tersebut sepenuhnya kepada pihak MRT. Pramono Anung menyatakan, "Dukuh Atas nanti akan dibangun melalui kerja sama secara partnership strategis. Kami akan percayakan MRT, Pemprov hanya bersifat back-up."

Pramono Anung juga menyoroti masalah perizinan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta yang sebelumnya memakan waktu sangat lama. Ia mengungkapkan bahwa ada kasus di mana proses perizinan bisa mencapai 12 tahun tanpa kejelasan. Situasi ini tentu menghambat investasi dan perkembangan infrastruktur kota.

Namun, saat ini, pihaknya telah mengambil langkah tegas untuk mempercepat proses perizinan tersebut. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan izin kini tidak lebih dari 15 hari. Kebijakan ini diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi dan mempercepat pembangunan di ibu kota.

Lebih lanjut, Pramono Anung menegaskan bahwa seluruh proses perizinan dilakukan secara transparan dan terbuka. "Tidak ada lagi yang ditutup-tutupi dalam pemberian izin tersebut," ungkapnya, menjamin akuntabilitas dan meminimalisir praktik korupsi. Transparansi ini menjadi kunci untuk membangun kepercayaan investor dan masyarakat.

Gubernur Pramono Anung juga menyatakan keinginannya untuk melanjutkan sejumlah pekerjaan yang telah dimulai oleh gubernur-gubernur sebelumnya. Komitmen ini mencakup penuntasan pembangunan monorel dan RS Sumber Waras yang akan segera dimulai kembali. Kedua proyek ini sempat menjadi sorotan publik karena berbagai kendala dan kontroversi.

Ia mengapresiasi dukungan dari aparat penegak hukum, terutama Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang mendukung program pembangunan rumah sakit tersebut. Dukungan ini penting untuk memastikan proyek berjalan sesuai aturan dan terhindar dari masalah hukum di masa depan.

Pramono Anung menegaskan tekadnya untuk menyelesaikan proyek-proyek tersebut. "Dulu kasus monorel dan RS Sumber Waras ini menghebohkan. Kami ingin menyelesaikan pembangunan kedua proyek ini," tegas Pramono. Langkah ini menunjukkan upaya Pemprov DKI untuk menyelesaikan warisan proyek yang tertunda demi kemajuan Jakarta.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi