Terinspirasi dari Leluhur, Pria Temanggung Sukses Ternak Ayam Paling Mahal di Dunia
Harga satu pasang ayam hias ini bisa mencapai jutaan rupiah di usianya yang masih remaja.
Harga satu pasang ayam hias ini bisa mencapai jutaan rupiah di usianya yang masih remaja.
Terinspirasi dari Leluhur, Pria Temanggung Sukses Ternak Ayam Paling Mahal di Dunia
Pada zaman dahulu kala, di daerah Temanggung, Jawa Tengah, hiduplah seorang tokoh bernama Ki Ageng Makukuhan. Ia merupakan penyebar agama Islam di wilayah Temanggung dan sekitarnya. Dalam kesehariannya, ia mempunyai seekor ayam cemani.
Saat ada salah satu dari anggota kerajaan yang sakit, Ki Ageng Makukuhan berhasil menyembuhkan dengan media ayam cemani.
Kisah-kisah leluhur itulah yang menginspirasi Anas Ariffudin untuk beternak ayam cemani.
Ayam cemani tergolong unik dan termasuk ayam paling mahal di dunia. Ayam jenis itu semua organ tubuhnya serba hitam. Mulai dari bulu, kulit, lidah, bahkan sampai ke tulang-tulang warnanya serba hitam.
Namun pada awal-awal mencoba beternak ayam cemani, percobaannya bisa dibilang gagal. Ia sempat menyerah mencoba beternak hewan asli Indonesia tersebut.
Saat itulah ada seorang tour guide yang menghubunginya. Ia membawa beberapa peneliti peternakan dari China ke peternakannya.
“Mereka lihat ada ayam yang bertelur. Telur itu mereka beli cukup mahal saat itu. Dari situlah saya berpikir orang luar saja jauh-jauh ke sini untuk meneliti ayam cemani. Saya yang sudah punya cemani kok menyerah,” ungkap Anas, dikutip dari kanal YouTube Cap Capung.
Anas mengatakan bahwa ayam cemani tergolong ayam hias. Selain itu, tak ada patokan harga untuk penjualannya. Untuk usia 1-2 bulan ayam cemani di tempatnya dihargai mulai dari Rp1 juta per pasang. Sedangkan ayam cemani remaja dijual dengan harga Rp3 hingga Rp5 juta per pasang.
Ia mengatakan, untuk memelihara ayam cemani, yang perlu dipersiapkan adalah kandang.
Untuk satu paket ternak yang terdiri dari satu ayam jantan dan 4-6 betina, ia menggunakan kandang ukuran 3x3 meter.
Sedangkan untuk pakannya ia menggunakan pakan pabrikan untuk usia 1 hari hingga 2 bulan. Sedangkan untuk 2 bulan ke atas biasanya pakan pabrikan itu ia campur dengan bekatul, jagung giling, dan sebagainya.
“Kunci beternak itu kita harus suka dulu terhadap apa yang kita ternak. Jadi tanpa ada rasa suka untuk memelihara dengan sepenuh hati itu susah. Jangan hanya mementingkan hasil di situ karena sudah terbukti peternak yang hanya mementingkan hasil di awal tidak akan bertahan lama,”
kata Anas terkait kunci keberhasilan beternak ayam.