Mengingat Kembali 'Kemesraan' Iran-Israel Kini Saling Kirim Bom Menghancurkan
Bahkan, terdapat kisaran 200 rudal yang dikirimkan dalam jumlah rentetan. Hal ini dilakukan oleh Iran menyusul serangan yang dikirimkan oleh Israel.
Hubungan dua negara di kawasan Timur Tengah sedang memanas. Adalah Israel dan Iran yang kini saling kirim rudal mematikan. Tercatat, Iran telah mengirimkan serangan kepada Israel sejak sepekan terakhir. Dikutip dari The Guardian, tercatat sudah ada lebih dari 400 rudal yang diluncurkan oleh Iran yang menargetkan wilayah Israel.
Bahkan, terdapat kisaran 200 rudal yang dikirimkan dalam jumlah rentetan. Hal ini dilakukan oleh Iran menyusul serangan yang dikirimkan oleh Israel, 13 Juni lalu.
Serangan yang telah dilakukan oleh Israel terhadap Iran menghilangkan nyawa sekitar lebih dari 600 orang dan melukai lebih dari 1.300 orang. Sebaliknya, serangan yang telah diluncurkan oleh Iran ke Israel juga telah menewaskan sekitar 25 orang dan ratusan orang lainnya terluka.
Meski demikian, faktanya hubungan kedua negara di zaman dulu sempat mesra. Pernah ada suatu periode di mana Iran dan Israel punya hubungan spesial. Sebelum tahun 1979 atau saat Republik Islam Iran belum berdiri, Iran-Israel merupakan sekutu mesra.
Dikutip dari berbagai sumber, pada saat Israel diproklamirkan pada tahun 1949 lalu, banyak negara Arab yang mayoritas Muslim menentang. Salah satu cara untuk meredam tentangan tersebut adalah lewat kerja sama. Pada titik ini, Iran jadi salah satu negara yang menerima dengan tangan terbuka kerja sama Israel.
Di bawah kuasa Mohammad Reza Pahlavi, Iran akhirnya menyetujui proposal kerja sama diplomatik dengan Israel. Reza yang cenderung pro-Barat sejak awal telah melihat cerahnya masa depan Iran jika hubungan dengan Israel terjalin. Sebab, dia takut terhadap agresi Uni Soviet di Timur Tengah. Tidak menutup kemungkinan, sewaktu-waktu Iran terpengaruh oleh rezim komunis bawaan Soviet.
Sebagai upaya mencari bekingan, Iran aktif menjalin hubungan dengan Israel pada 1953. Seperti dugaan Reza, hubungan bersama Israel membuat Iran menjadi cerah, terutama dari sisi ekonomi.
Dalam studi yang dilakukan Marta Furlan dengan judul "Israeli-Iranian Relations" (2022), disebut beberapa kali Iran mendapat proyek menguntungkan hasil kerja sama Israel dan AS. Proyek ini lantas membuat pendapatan negara meningkat pesat. Selain itu, kedua negara juga saling terlibat di sektor militer.
Pada 1960-an, Iran dan Israel menganggap Irak sebagai ancaman bersama. Keduanya terbukti membantu gerakan Kurdi yang memberontak di Irak. Tak hanya itu, kedua negara tersebut juga sempat mengerjakan persenjataan rudal bersama.
Semua itu dilakukan selama lebih kurang 20 tahun, atau saat berulangkali terjadi aksi penindasan Israel terhadap Palestina, negara yang sangat dibela oleh negara Muslim di seluruh dunia.
Namun, hubungan mesra itu sirna pada 1979. Revolusi Iran membuat Reza Pahlavi terguling dari kursi pemimpin. Revolusi itu juga mengubah Iran menjadi Republik Islam Iran. Kini, Iran menjadi negara yang sangat garang terhadap Israel dan AS.
Sementara itu, pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf mengatakan waktu zaman kerajaan Reza Pahlevi hubungan Iran dengan Israel dengan Amerika Serikat, terbukti adanya kedutaan Amerika Serikat di Iran.
"Iran menjadi negara berpenduduk mayoritas muslim kedua yang mengakui berdirinya Israel setelah Turki. Jadi tukri tahun 1949, karena Israel berdiri 14 Mei 1948 Turki pertama kali kedua Iran kalau enggak salah 6 Maret 1950. Mereka memang punya bonbaid tidak bermusuhan," katanya.
Awal mula Iran-Israel Saling Serang
Dikutip laman USA Today, konflik antara Iran dan Israel dimulai sejak Israel secara mengejutkan mengirimkan serangan nuklir ke Teheran, Iran yang merenggut nyawa sejumlah pemimpin militer di wilayah tersebut.
Menurut The Critical Threats Project (CPT) di American Enterprise Institute and the Institute for the Study of War (ISW), pada sekitar pukul 8 malam waktu setempat Israel mengirimkan serangan udara pertama yang ditargetkan pada program nuklir di Iran. Serangan tersebut juga turut menargetkan kepemimpinan Iran.
Adapun wilayah yang ditargetkan oleh pada saat itu adalah 'jantung' program rudal di Republik Islam Iran. Dengan adanya serangan mendadak tersebut tercatat seluruh eselon atas komandan militer Iran di wilayah tersebut meninggal dunia.
Selanjutnya, Israel kembali mengirimkan serangan kepada Iran, pada 14 Juni 2025. serangan ditargetkan pada fasilitas senjata bawah tanah yang berada di wilayah Iran bagian barat.
Bahkan, Israel telah mengebom sejumlah fasilitas energi yang ada di wilayah lain Iran, yaitu di bagian selatan.
Salah satu lokasi yang menjadi target Israel adalah ladang gas terbesar di Iran, yaitu South Pars. Bahkan Kementerian Perminyakan Iran memberikan informasi yang menyatakan depot Shahran juga menjadi sasaran target pengeboman.
Mulai Minggu (15/6) serangan balasan melalui udara juga dikirimkan oleh Iran. Israel masih tetap menargetkan sejumlah lokasi strategis di Iran, satu di antara kawasan pemerintahan Iran.
Sementara itu, Iran juga turut mengirimkan ratusan pesawat nirawak dan juga rudal. Serangan ini menargetkan pusat penelitian terkemuka hingga kilang minyak yang ada di negara tersebut.
Pada 16 Juni 2025, serangan Israel masih terus dikirimkan terhadap Iran. Terjadi pengeboman di pusat komando unit militer elit yang ada di kawasan Iran. Bahkan Israel berhasil menyerang pesawat tempur milik Iran.
Dengan adanya serangan susulan dari Israel kali ini, beberapa pabrik pengayaan uranium terbesar yang ada di Iran mengalami kerusakan yang parah. Tidak hanya itu, pemadaman listrik juga sempat terjadi di Natanz, Iran.
Kemudian, Selasa (17/6), Israel kembali menyerang kota-kota yang berada di kawasan Iran dengan bom. Sebaliknya, beberapa rudal Iran juga telah diluncurkan ke Israel. Di tanggal inilah sejumlah infrastruktur penting di Iran mengalami kerusakan.
Bahkan pihak militer Israel menargetkan salah satu kawasan tersulit yang ada di Iran. Kawasan tersebut tidak lain adalah pabrik pengayaan nuklir yang terletak di Fordo, Iran.
Hingga kini, konflik antara Israel dan Iran terus berlanjut yang tak hanya merusak infrastruktur di beberapa wilayah yang ada di kedua negara tersebut. Akan tetapi, serangan udara yang terus-menerus dikirimkan satu sama lain juga telah merenggut korban jiwa hingga luka-luka.
Alasan Dibalik Serangan Israel ke Iran
Berdasarkan laporan Al-Jazeera, terdapat klaim yang diberikan oleh pemerintah Israel terkait dengan alasan negara tersebut menyerang Iran.
Pemerintah Israel menjelaskan, tindakan yang mereka ambil merupakan langkah preventif yang dilakukan guna mengatasi ancaman dari pihak Iran.
Terlebih lagi pihak Iran telah membangun bom nuklir. Oleh sebab itu, Israel berusaha melakukan serangan pencegahan yang dimaksudkan untuk pertahanan diri yang diakibatkan oleh keadaan darurat.
Terdapat juga klaim yang didasarkan pada laporan Atomic Energy Agency (IAEA) yang dirilis pada Kamis (12/6) yang menyebut adanya pelanggaran materi dilakukan oleh Iran. Terutama kaitannya dengan perjanjian terhadap Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT).
Meskipun begitu klaim yang diberikan oleh pihak Israel belum dapat dibuktikan. Bahkan, pihak IAEA juga cenderung menolak klaim tersebut karena laporan tadi belum diketahui oleh pihak-pihak yang relevan.