Perang Israel-Iran: Kerinduan Terpendam terhadap Kawan Lama Dinasti Pahlevi
Namun semua berubah pada tahun 1979. Revolusi Islam menggulingkan Shah dan membawa Ayatollah Ruhollah Khemeini ke tampuk kekuasaan.
Konflik antara Israel dan Iran sering kali digambarkan sebagai benturan ideologis yang tak terelakkan—pertarungan antara Zionisme dan Republik Islam yang anti-Zionis. Namun, narasi ini mengaburkan kenyataan historis bahwa kedua negara pernah menjalin hubungan erat, bahkan strategis, di masa lalu. Di balik retorika perang dan ancaman nuklir, ada nostalgia tersembunyi dari pihak Israel terhadap era ketika Iran adalah salah satu sekutu terdekatnya di Timur Tengah: masa Dinasti Pahlevi.
Iran dan Israel: Kawan Lama yang Kini Bermusuhan
Pada era Dinasti Pahlevi, di bawah kepemimpinan Shah Mohammad Reza Pahlavi, Iran merupakan salah satu dari sedikit negara mayoritas Muslim yang menjalin hubungan erat, meskipun tidak secara terbuka, dengan negara Yahudi yang baru berdiri: Israel.
Hubungan tersebut dimulai sejak 1950-an, tidak lama setelah berdirinya negara Israel. Meski Iran secara resmi tidak mengakui Israel, hubungan de facto berkembang cepat. Iran memasok minyak ke Israel, dan sebaliknya, Israel membantu membangun infrastruktur dan intelijen Iran. Kedua negara juga bekerja sama dalam proyek-proyek militer rahasia, termasuk program nuklir awal Iran, yang ironisnya, mendapat bantuan teknis dari Israel dan Amerika Serikat.
Kerja sama ini berpijak pada kepentingan geopolitik bersama: kedua negara merasa terancam oleh nasionalisme Arab dan pengaruh Soviet. Di mata Tel Aviv, Iran adalah pilar penting dari apa yang mereka sebut sebagai periphery doctrine—strategi untuk membentuk aliansi dengan negara-negara non-Arab di sekitar Timur Tengah untuk menyeimbangkan dominasi Arab.
Revolusi Iran: Dari Sekutu Menjadi Musuh Nomor Satu
Namun semua berubah pada tahun 1979. Revolusi Islam menggulingkan Shah dan membawa Ayatollah Ruhollah Khemeini ke tampuk kekuasaan. Dalam semalam, Israel berubah dari mitra strategis menjadi 'Setan Kecil', sebutan yang disematkan oleh Khemeini (sedangkan Amerika Serikat menjadi "Setan Besar").
Hubungan antara kedua negara memburuk drastis. Iran memutuskan hubungan diplomatik dan mulai mendukung kelompok-kelompok militan anti-Israel seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina. Narasi anti-Zionis menjadi pilar ideologi politik luar negeri Iran, dan konflik tidak lagi sekadar geopolitik, melainkan menjadi perang ideologi.
Operasi Rising Lion: Simbolisme dan Nostalgia Masa Lalu
Dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak 2023, Israel semakin terbuka dalam melancarkan operasi militer terhadap target Iran, baik di Suriah, Irak, hingga diduga di dalam wilayah Iran sendiri. Salah satu operasi yang menarik perhatian media adalah yang disebut sebagai Operasi Rising Lion.
Nama ini bukan sekadar simbol kekuatan, tapi juga sarat makna historis. Singa adalah lambang utama Iran sebelum Revolusi 1979. Bendera resmi Iran pada masa Dinasti Pahlevi memuat gambar singa yang memegang pedang dengan latar belakang matahari—sebuah simbol kekuasaan, kebijaksanaan, dan kedigdayaan.
Dengan menyebut operasi tersebut sebagai 'Rising Lion,' Israel seolah mengirim pesan ganda: pertama, ancaman kepada rezim saat ini; dan kedua, ajakan tersirat kepada rakyat Iran untuk kembali ke masa kejayaan sebelum Republik Islam—era ketika Iran adalah mitra modern dan pro-Barat, bukan teokrasi revolusioner.
Bagi sebagian analis Israel, rakyat Iran bukanlah musuh, melainkan korban dari pemerintahan yang dianggap tiran dan represif. Di mata mereka, Iran yang 'asli' adalah Iran yang dulu—Iran yang membuka diri terhadap dunia, berteknologi tinggi, dan menjalin kerja sama dengan Barat, termasuk Israel.
Netanyahu dan Agenda Perubahan Rezim
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka telah menyatakan bahwa ancaman terbesar bagi stabilitas global bukan konflik Palestina, melainkan program nuklir Iran. Namun lebih dari itu, Netanyahu telah berulang kali menyatakan bahwa perubahan rezim di Iran adalah tujuan yang diidamkan oleh Israel.
Dalam berbagai pidatonya, Netanyahu menyampaikan bahwa rakyat Iran pantas mendapatkan pemerintahan yang tidak menindas mereka. " Dunia harus berdiri bersama rakyat Iran, bukan dengan para mullah yang membawa kehancuran," ujar Netanyahu. Meski tidak secara eksplisit menyerukan intervensi militer langsung, sikap Israel mendukung penuh segala bentuk oposisi terhadap rezim Teheran, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dalam kacamata geopolitik Israel, perubahan rezim di Iran bukan hanya soal mengakhiri permusuhan, tetapi juga membuka kembali pintu lama yang tertutup sejak 1979—pintu menuju aliansi strategis yang pernah terbukti saling menguntungkan.
Perang terbuka dengan berbagai senajata modern dan mematikan antara Israel dan Iran hari ini sering disalahartikan sebagai konflik yang tak memiliki akar sejarah damai. Namun kenyataannya, ada jejak hubungan erat yang lama tertanam, dan mungkin tak sepenuhnya hilang dari ingatan para pemimpin Israel. Operasi Rising Lion, pernyataan Netanyahu, dan strategi diplomasi bayangan Israel menunjukkan bahwa dalam hati mereka, masih ada kerinduan terhadap Iran yang dulu—bukan sekadar sebagai musuh yang bisa ditaklukkan, tetapi sebagai kawan lama yang mungkin bisa kembali.