Italia Setop Sementara Perjanjian Pertahanan dengan Israel, Ada Kerja Sama Ekspor Senjata

PM Meloni hanya menyampaikan pernyataan singkat mengenai alasan di balik penangguhan ini. Berikut adalah penjelasannya secara lebih lengkap.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Italia Setop Sementara Perjanjian Pertahanan dengan Israel, Ada Kerja Sama Ekspor Senjata
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni pada Januari 2026. (Dok. AP/Andrew Medichini) (© 2026 Liputan6.com)

Italia menghentikan sementara perjanjian kerja sama pertahanan yang terkait dengan Israel. Demikian diumumkan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.

Menurut laporan dari BBC, Meloni menyebut bahwa pemerintah Italia telah memutuskan untuk menangguhkan perpanjangan perjanjian yang biasanya diperbarui setiap lima tahun, "mengingat situasi saat ini." Ia tidak merinci lebih lanjut mengenai keputusan tersebut. Hubungan antara Roma dan Tel Aviv yang selama ini kuat, belakangan ini menunjukkan penurunan signifikan.

Pekan lalu, Italia memanggil duta besar Israel di Roma setelah terjadi insiden di mana pasukan Israel melepaskan tembakan peringatan ke arah konvoi pasukan penjaga perdamaian PBB asal Italia yang berada di Lebanon. Insiden tersebut merusak satu kendaraan, namun tidak ada korban luka yang dilaporkan.

Israel juga memanggil duta besar Italia untuk menyampaikan protes atas pernyataan Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, yang mengutuk serangan tidak dapat diterima terhadap warga sipil di Lebanon, Senin (13/4).

Seorang pejabat dari Kementerian Pertahanan Italia menjelaskan kepada BBC bahwa mereka masih menilai bagaimana keputusan pemerintah ini akan berdampak pada konsekuensi hukum dan praktis dalam kerangka kerja sama antara Italia dan Israel.

Data dari Stockholm International Peace Research Institute menunjukkan bahwa Italia merupakan eksportir senjata terbesar ketiga ke Israel, meskipun kontribusinya hanya sekitar 1,3 persen dari total impor senjata Israel antara 2021 hingga 2025. Sementara itu, Amerika Serikat dan Jerman tetap menjadi pemasok utama senjata ke Israel.

Beberapa negara Eropa telah menghentikan atau membatasi ekspor senjata ke Israel selama operasi militer yang berlangsung di Gaza, yang dipicu oleh serangan yang dilakukan oleh Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Akibat aksi militer Israel di Gaza, lebih dari 72.330 orang dilaporkan tewas, termasuk 757 orang sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga Italia telah meminta pemerintah mereka untuk menghentikan atau membatasi ekspor senjata ke Israel. Protes ini ditunjukkan dengan ratusan ribu orang yang turun ke jalan atau melakukan mogok.

Meskipun demikian, pemerintahan koalisi sayap kanan Meloni tetap menjadi salah satu sekutu terdekat Israel di Eropa dan menolak untuk bergabung dengan semakin banyak negara yang mengakui Negara Palestina.

Pada akhir Maret, kubu Giorgia Meloni mengalami kekalahan dalam referendum mengenai reformasi konstitusi di bidang peradilan. Banyak pihak menilai hasil tersebut sebagai cerminan dari popularitas pemerintah, termasuk dalam konteks hubungan dengan Israel dan AS.

Dengan waktu sekitar 18 bulan menjelang pemilu berikutnya, Meloni mulai menyesuaikan retorikanya untuk menjauh dari asosiasi tersebut, yang semakin tidak populer di kalangan pemilih Italia. Sejak hasil referendum itu, ia menyebut perang Iran sebagai bagian dari tren intervensi yang semakin berbahaya dan berada di luar lingkup hukum internasional.

Pada hari Senin, ia juga melontarkan kritik langka terhadap Presiden AS Donald Trump, dengan menyebut pernyataannya yang merendahkan Paus Leo XIV sebagai tidak dapat diterima. Ia juga menyatakan solidaritasnya kepada bapa suci. Pernyataan tersebut memicu tanggapan cepat dari Trump, yang mengatakan kepada surat kabar Corriere della Sera bahwa ia "terkejut" oleh pernyataan Meloni.

Trump menambahkan, "Saya kira dia punya keberanian, tetapi saya salah," sembari menyatakan bahwa Meloni "tidak peduli apakah Iran memiliki senjata nuklir dan akan menghancurkan Italia dalam dua menit jika memiliki kesempatan.

Pada suatu waktu, kedekatan Meloni dengan Trump dianggap memberinya posisi istimewa sebagai penghubung potensial di antara negara-negara Uni Eropa dan dipromosikan oleh para pendukungnya sebagai keunggulan. Namun kini, dengan Trump yang semakin tidak populer, hubungan tersebut justru berisiko merugikan. Sebuah survei yang dilakukan pada bulan Januari menunjukkan bahwa 63 persen pemilih Italia memiliki pandangan negatif terhadap AS.

Setelah komentar Trump, sekutu Meloni segera memberikan pembelaan. Menteri Luar Negeri Antonio Tajani menegaskan bahwa aliansi Italia dengan AS dibangun atas dasar loyalitas, rasa hormat, dan kejujuran. "Dan mengenai Paus Leo XIV, ia mengatakan apa yang dipikirkan oleh kita semua orang Italia. Perdana menteri dan pemerintah hanya membela kepentingan Italia," kata Tajani.

Selain itu, Menteri Pertahanan Guido Crosetto menjelaskan bahwa menjadi sekutu tidak berarti menerima segala sesuatu tanpa bersuara. "Menjadi sekutu berarti memiliki keberanian untuk secara jelas menyatakan apa yang kita yakini benar," ujarnya.

Rekomendasi