Media Israel: Netanyahu Tunduk Kepada Hamas, Sembunyikan Fakta Sebenarnya
Hamas dan Israel baru sama menyepakati gencatan senjata dengan menukar tawanan.
Surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, mengungkapkan laporan mengejutkan terkait kesepakatan perdamaian Gaza. Dalam laporan investigatifnya, media tersebut menuding Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberikan syarat-syarat utama tetapi melakukan sejumlah konsesi besar terhadap Hamas sekaligus menutupi fakta sebenarnya dari publik.
Menurut dokumen yang dikaji Yedioth Ahronoth, Netanyahu sebelumnya menetapkan beberapa syarat utama untuk mengakhiri perang, namun hasil akhir justru menunjukkan apa yang digambarkan sebagai “penyerahan total kepada Hamas”.
Dalam perjanjian tersebut, “Hamas tidak dilucuti dari senjata, Gaza tidak didemiliterisasi, dan wilayah itu tidak dibersihkan,” berdasarkan dokumen-dokumen yang telah ditinjau.
“Jika syarat-syarat itu dianggap penting, mengapa Netanyahu mengabaikannya?” tulis Yedioth Ahronoth dalam laporannya yang menimbulkan kehebohan di kalangan politik Israel, seperti dikutip Middle East Monitor, Senin (13/10).
Seorang sumber intelijen yang dikutip surat kabar itu menyebut meskipun perjanjian ini dipandang berhasil secara diplomatik, namun “kompromi yang dilakukan sangat dalam dan penuh risiko”.
Sumber tersebut, yang memiliki hubungan dekat dengan komunitas intelijen dan lembaga pertahanan Israel, menegaskan bahwa publik berhak mengetahui kebenaran di balik proses negosiasi tersebut.
“Masyarakat berhak mendapatkan jawaban jujur atas pertanyaan-pertanyaan penting yang hingga kini masih belum dijawab oleh pemerintah maupun kampanye Netanyahu,” ujarnya.
Sementara itu kemarin kantor media tahanan menerbitkan daftar tahanan yang akan dibebaskan berdasarkan perjanjian gencatan senjata, sebanyak 1.780 tahanan Palestina dan 250 tahanan seumur hidup yang akan dibebaskan diganti dengan sandera Israel.
Proses pembebasan sandera Israel resmi dimulai pada Senin, sebagaimana dikonfirmasi oleh Palang Merah Internasional. Kelompok Hamas menyatakan bahwa pembebasan para sandera merupakan bagian dari tahap awal rencana perdamaian yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza.
Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan komitmen untuk menjalankan seluruh kewajiban sesuai isi perjanjian, sekaligus mendesak para mediator agar memastikan Israel juga mematuhi kesepakatan yang telah disepakati bersama.
Repoter Magang: Adinda Washiilah Mo'o