Iran Rilis Identitas Lengkap Pilot Israel yang Bombardir Warga Sipil dalam Perang 12 Hari, Ada Pasangan Suami Istri
Informasi itu berupa detil pribadi personel Angkatan Udara, termasuk identitas mereka, tempat tinggal, unit operasi, pangkalan militer, serta peran mereka.
Intelijen Iran mengungkap profil lengkap para pilot Angkatan Udara Israel, komandan, dan operator drone yang terlibat dalam perang 12 hari dengan Iran pada Juni lalu.
Perkembangan ini dilaporkan oleh stasiun televisi Iran dan berbagai media berita Negeri Mullah pada Sabtu.
Dilansir Press TV, Minggu (3/8), menurut laporan tersebut, temuan ini telah mengungkap secara menyeluruh detil pribadi personel Angkatan Udara, termasuk identitas mereka, tempat tinggal, unit operasi, pangkalan militer, serta peran mereka dalam kejahatan-kejahatan lainnya.
Laporan tersebut menyoroti bahwa keberhasilan intelijen ini dicapai meskipun ada upaya ketat dari rezim Israel untuk menyembunyikan identitas para personelnya, sebagaimana ditunjukkan oleh kebiasaan media Israel yang selalu memburamkan wajah mereka dalam liputan televisi.
‘Mereka tak lagi aman’
Laporan itu menyebut dua nama pilot, yaitu “Mayor Yael Ash, wakil komandan Skuadron 119 (Skuadron 'Bat')” dan suaminya Bar Prince. Ash diidentifikasi sebagai cucu dari pihak ayah dari Mayor Shimon Ash, seorang pilot yang hilang selama Perang Yom Kippur yang terjadi antara rezim Israel dan koalisi negara-negara Arab pada tahun 1973.
‘Mereka tak lagi aman’
Salah satu saluran televisi Iran melaporkan aparat intelijen negara kini memiliki “citra satelit yang mengungkap lokasi persis” tempat tinggal para personel tersebut.
Saluran tersebut mengutip pernyataan Ash dalam sebuah wawancara televisi, di mana ia mengklaim bahwa “ia ingin memulihkan keamanan” bagi warga Zionis.
“Sekarang, dirinya sendiri tidak lagi aman,” katanya, seraya menambahkan bahwa pengungkapan informasi personel Israel ini “membuat seluruh dunia menjadi tidak aman bagi mereka.”
‘Contoh balasan sudah dilakukan’
Pengetahuan aparat intelijen Iran mengenai keberadaan, perlengkapan, dan pergerakan para personel tersebut “memberikan keunggulan strategis” bagi operasi intelijen Iran jika balasan diperlukan di masa depan, menurut laporan tersebut.
‘Contoh balasan sudah dilakukan’
Laporan-laporan itu lebih lanjut menjelaskan bahwa beberapa personel Angkatan Udara Israel telah mengalami rumah mereka menjadi sasaran dalam operasi balasan Iran selama perang 12 hari.
Salah satu laporan penyiaran menampilkan gambar dampak dari salah satu serangan balasan terhadap rumah salah satu personel di kota Yavne, wilayah tengah dari wilayah Palestina yang diduduki.
Beberapa tempat tinggal lainnya, tambah laporan itu, juga terkena serangan rudal Iran.
Aksi pembalasan tersebut melibatkan setidaknya 22 gelombang serangan balasan oleh angkatan bersenjata Iran di seluruh wilayah pendudukan.
Serangan balasan itu menargetkan situs-situs nuklir, militer, dan industri Israel, hingga akhirnya memaksa negara itu untuk meminta gencatan senjata hanya setelah 12 hari.
Laporan-laporan tersebut juga mengungkap bahwa begitu keberadaan para personel mulai menjadi sasaran serangan balasan Iran, rezim Israel memindahkan mereka ke lokasi-lokasi seperti sekolah.
Evakuasi ini, kata laporan tersebut, dilakukan agar rezim Israel bisa mengklaim bahwa Iran telah menargetkan “situs sipil” jika tempat-tempat tersebut kemudian diserang.
Laporan itu akhirnya menyatakan bahwa apa yang telah dipublikasikan sejauh ini hanyalah “salah satu contoh.”
“Pengungkapan informasi rahasia semacam ini akan terus berlanjut.”