'Darurat' Mata-Mata Mossad Israel, ini yang Dilakukan Iran buat Mengatasinya
Iran berlakukan aturan tegas terhadap siapapun yang terlibat sebagai agen mossad Israel.
Maraknya upaya sabotase dan ancaman intelijen, pemerintah Iran bergerak cepat untuk mengantisipasinya.
Salah satu upayanya adalah memberlakukan hukuman yang lebih berat bagi siapapun yang bekerja sama dengan pemerintah asing, setelah perang 12 hari dengan Israel dan Amerika Serikat berakhir dengan gencatan senjata pada hari Senin.
Dikutip dari Al Jazeera, pihak parlemen dan badan peradilan negara tengah berupaya untuk menegakkan hukuman yang lebih berat terhadap tindakan apa pun yang dianggap merusak keamanan nasional.
Hasilnya, parlemen Iran menyetujui rencana untuk memperketat hukuman bagi spionase dan kolaborator dengan rezim Zionis dan negara-negara yang bermusuhan terhadap keamanan dan kepentingan nasional.
Anggota dewan pimpinan parlemen, Alireza Salimi mengatakan bahwa siapapun yang terlibat dalam upaya spionase dan intelijen bagi musuh Iran akan terancam hukuman mati.
"Setiap kegiatan intelijen atau spionase atau tindakan praktis yang akan menguntungkan Israel, AS, dan negara-negara lain dapat, sebagai bagian dari usulan tersebut, dianggap sebagai contoh korupsi di Bumi dan kejahatan yang dapat dijatuhi hukuman mati," ucapnya.
RUU tersebut diharapkan akan "memberikan keleluasaan lebih bagi pasukan keamanan", menurut anggota parlemen tersebut.
Juru bicara pengadilan Iran, Asghar Jahangir dalam keterangannya terhadap media pemerintah mengatakan kepada undang-undang spionase negara saat ini terlalu umum, dan mungkin tidak mencakup jenis spionase yang saat ini dihadapi Iran.
Ia mengatakan undang-undang saat ini akan memberikan "pembatasan" bagi pihak berwenang yang ingin menghukum orang-orang yang ditangkap selama perang dengan Israel.
Gagal Deteksi Serangan Israel Akibat Sabotase Mossad
Serangan pertama Israel terhadap Iran dalam perang 12 hari terjadi pada Jumat (13/6) berawal dari bobolnya sistem pertahanan intelijen Iran.
Sebelum serangan dilancarkan, operasi intelijen telah dilakukan lebih dulu oleh Israel. Operasi sabotase rahasia jauh ke dalam jantung Iran yang dipimpin Mossad dilakukan untuk merusak situs rudal dan kemampuan pertahanan udara Iran.
Dikutip Times of Israel, Sabtu (14/6/2025), seorang pejabat keamanan Israel mengatakan negeri zionis menghabiskan waktu bertahun-tahun mempersiapkan operasi melawan program nuklir dan rudal Iran.
Hal itu termasuk membangun pangkalan pesawat tak berawak di dalam Iran dan menyelundupkan sistem senjata presisi dan pasukan komando ke negara itu.
Menurut pejabat tersebut, agen Mossad mendirikan pangkalan pesawat nirawak di wilayah Iran dekat Teheran.
Pesawat nirawak tersebut diaktifkan pada malam hari serangan dilakukan untuk menyerang peluncur rudal permukaan-ke-permukaan milik Iran yang ditujukan ke Israel.
Tak cuma itu, kendaraan yang membawa sistem persenjataan juga diselundupkan oleh para agen Mossad ke Iran. Sistem ini menghancurkan pertahanan udara Iran dan memberikan jet tempur Israel keleluasaan menyerang target-target di Iran.
Selain itu, upaya rahasia ketiga adalah pasukan komando Mossad menyebarkan rudal presisi di dekat lokasi antipesawat di Iran tengah.
Operasi tersebut mengandalkan "pemikiran yang inovatif, perencanaan yang berani, dan operasi bedah dengan menggunakan teknologi canggih, pasukan khusus, dan agen yang beroperasi di jantung Iran sambil sepenuhnya menghindari pantauan intelijen setempat," kata pejabat tersebut.
Dalam rekaman video yang dirilis Mossad, tampak agen-agen Mossad berada di wilayah Iran.
Video lain menunjukkan apa yang dikatakan badan tersebut sebagai serangan terhadap sistem pertahanan Iran, sementara video ketiga menunjukkan rudal jarak jauh Iran yang menjadi sasaran.
Terbunuhnya Petinggi Militer dan Ilmuwan Iran
Serangan militer Israel yang sukses membunuh sejumlah petinggi militer dan ilmuwan nuklir Iran di bulan ini tak lepas dari operasi intelijen yang direncanakan selama bertahun-tahun oleh Mossad.
Hal itu diberitakan media Israel sebagai sebuah kesuksesan operasi intelijen yang dilakukan Mossad.
Serangan yang merusak sebagian besar sistem pertahanan strategis Iran dan menewaskan sejumlah petinggi militer utama Iran itu dilakukan setelah infiltrasi menyeluruh oleh badan intelijen Israel, Mossad, ke dalam sistem keamanan nasional Iran.
Operasi intelijen Israel di Iran diduga masih berlangsung di Iran. Salah satu indikasinya yakni, tewasnya dua perwira senior Pasukan Quds, Saeed Izadi dan Behnam Shahryari, dalam serangan akhir pekan lalu. Israel mengklaim lokasi mereka diketahui berkat jaringannya di dalam negeri Iran.
Sebelumnya, pada tanggal 17 Juni, Israel berhasil menemukan dan membunuh salah satu tokoh militer paling senior Iran, Mayor Jenderal Ali Shademani. Peristiwa itu terjadi hanya empat hari setelah pembunuhan pendahulunya dalam serangan udara yang ditargetkan.
"Saya rasa orang-orang tidak menyadari betapa beraninya kita," kata pakar intelijen militer Israel, Miri Eisin, kepada The Observer.
Ia menjelaskan bahwa untuk menghindari deteksi, sasaran harus benar-benar melepaskan semua perangkat elektronik mereka.
"Kebanyakan orang tidak melepaskan diri dari jaringan," tambahnya.
Penangkapan Meningkat
Pasca banyaknya aksi sabotase mossad, pihak berwenang Iran melakukan penangkapan terhadap warganya yang diduga terafiliasi dengan agen intelijen zionis.
Di Urmia di provinsi Azerbaijan Barat di barat laut Iran, dekat perbatasan dengan Irak dan Turki, pihak berwenang mengeksekusi tiga warga negara Iran karena bekerja sama dengan Israel pada Rabu (25/6) pagi.
Mereka dituduh berkhianat karena moharebeh atau "berperang melawan Tuhan" dan korupsi di Bumi, setelah dituduh membawa peralatan yang digunakan untuk membunuh pejabat Iran melintasi perbatasan.
Meski pengadilan tidak menyebutkan nama tokoh yang dibunuh, tetapi eksekusi tersebut diyakini terkait dengan pembunuhan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh pada November 2020 oleh Israel.
Iran juga mengeksekusi tiga orang lainnya terkait dengan mata-mata untuk Israel, sejak dimulainya perang pada 13 Juni.
Menurut laporan media setempat, setidaknya 700 orang ditangkap di seluruh negeri dalam 12 hari perang dan pihak berwenang mengumumkan lebih banyak penangkapan setiap hari.
Penangkapan atau kasus serupa telah diumumkan di banyak provinsi, termasuk 115 penangkapan di Kermanshah di barat, 53 di Fars di selatan, dan 36 di Gilan di utara Iran.