Membongkar Jaringan Mata-Mata Israel di Iran, Jejak Panjang Operasi Intelijen Mossad di Jantung Teheran
Ada operasi intelijen yang dilakukan Mossad ke dalam Iran sebelum serangan militer dilakukan Israel 13 Juni lalu.
Serangan militer Israel yang sukses membunuh sejumlah petinggi militer dan ilmuwan nuklir Iran di bulan ini tak lepas dari operasi intelijen yang direncanakan selama bertahun-tahun oleh Mossad. Hal itu diberitakan media Israel sebagai sebuah kesuksesan operasi intelijen yang dilakukan Mossad.
Serangan yang merusak sebagian besar sistem pertahanan strategis Iran dan menewaskan sejumlah petinggi militer utama Iran itu dilakukan setelah infiltrasi menyeluruh oleh badan intelijen Israel, Mossad, ke dalam sistem keamanan nasional Iran.
Pasca kejadian itu, Iran pun berusaha berbenah. Sejumlah warga Iran dilaporkan telah ditangkap atas tuduhan menjadi informan Mossad, menyebarkan propaganda pro-Tel Aviv, atau mencoba memengaruhi opini publik secara tersembunyi.
Sebagai respons, pemerintah Iran baru-baru ini menginstruksikan para pejabat tinggi dan tim pengamanan mereka agar tidak lagi menggunakan ponsel pintar yang terhubung ke internet, demi mencegah penyadapan atau peretasan oleh Israel.
Otoritas keamanan juga meminta masyarakat melaporkan penyewaan properti kepada pihak asing dalam beberapa tahun terakhir sebagai langkah pencegahan infiltrasi.
Dilansir Aljazeera, Rabu (25/6/2025), langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari reaksi Iran terhadap operasi intelijen Israel yang disebut-sebut sebagai yang paling canggih dan luas sejauh ini. Namun, seberapa jauh sebenarnya jangkauan operasi intelijen Isrel ke Iran tersebut dan sejak kapan berlangsung?
Peranan Intelijen dalam Serangan Israel ke Iran
Peranan intelijen Mossad dalam serangan militer Israel ke Iran yang mulai dilakukan Jumat (13/6/2025), dinilai begitu besar. Sesaat setelah serangan udara Israel ke wilayah Iran, berbagai laporan muncul mengenai keterlibatan besar operasi intelijen Mossad yang telah disiapkan sebelumnya.
Media internasional mengutip pejabat senior intelijen Israel yang mengungkapkan bahwa kombinasi antara agen lapangan dan kecerdasan buatan digunakan untuk merancang dan mengeksekusi serangan.
The Associated Press pada 17 Juni merilis wawancara dengan 10 pejabat militer dan intelijen Israel yang terlibat dalam perencanaan tersebut.
"Serangan ini adalah puncak dari kerja keras Mossad selama bertahun-tahun untuk menargetkan program nuklir Iran," ujar Sima Shine, mantan kepala riset Mossad, kepada AP.
Dalam laporan itu dijelaskan pula bagaimana Mossad menyelundupkan drone dan sistem peluncur rudal ke Iran. Senjata tersebut digunakan untuk menyerang target yang telah dipilih berdasarkan analisis AI milik AS, yang bekerja dengan data intelijen yang dikumpulkan langsung oleh agen-agen Israel di lapangan serta informasi dari serangan sebelumnya.
Apakah Operasi Intelijen Mossad di Iran Masih Berlangsung?
Operasi intelijen Israel di Iran diduga masih berlangsung di Iran. Salah satu indikasinya yakni, tewasnya dua perwira senior Pasukan Quds, Saeed Izadi dan Behnam Shahryari, dalam serangan akhir pekan lalu. Israel mengklaim lokasi mereka diketahui berkat jaringannya di dalam negeri Iran.
Sebelumnya, pada tanggal 17 Juni, Israel berhasil menemukan dan membunuh salah satu tokoh militer paling senior Iran, Mayor Jenderal Ali Shademani. Peristiwa itu terjadi hanya empat hari setelah pembunuhan pendahulunya dalam serangan udara yang ditargetkan.
"Saya rasa orang-orang tidak menyadari betapa beraninya kita," kata pakar intelijen militer Israel, Miri Eisin, kepada The Observer.
Ia menjelaskan bahwa untuk menghindari deteksi, sasaran harus benar-benar melepaskan semua perangkat elektronik mereka.
"Kebanyakan orang tidak melepaskan diri dari jaringan," tambahnya.
"Anda bisa menyerang siapa saja".
Hamze Attar, analis pertahanan yang berbasis di Luksemburg, menduga Israel kemungkinan memiliki sekitar 30 hingga 40 sel aktif di dalam Iran. Menurutnya, sebagian besar dari mereka merupakan kaki tangan, bukan agen Israel, yang membuat Iran terlihat lebih rentan.
"Beberapa sel tersebut akan bertanggung jawab atas penyelundupan senjata dari Israel, yang lain atas pelaksanaan serangan, dan yang lainnya atas pengumpulan intelijen," katanya mengutip instruksi perakitan yang ditemukan pada perangkat keras yang disita oleh pihak berwenang.
Sejak Kapan Operasi Intelijen Mossad di Iran Berlangsung?
Infiltrasi Israel ke dalam sistem Iran bukan fenomena baru. Menurut sejumlah analis, kegiatan intelijen semacam ini telah dilakukan sejak Revolusi Islam 1979 dengan tujuan memata-matai, merusak, dan menghancurkan kekuatan militer Iran dari dalam.
Ali Larijani, penasihat Ayatollah Ali Khamenei, dalam wawancara dengan kantor berita ISNA pada November 2024 mengakui bahwa operasi Israel telah menjadi semakin serius.
"Masalah infiltrasi telah menjadi sangat serius dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya, seraya menyesalkan kelalaian yang terjadi selama bertahun-tahun.
Peledakan perangkat komunikasi yang digunakan oleh kelompok Hizbullah di Lebanon pada September 2024 hanya mungkin dilakukan setelah infiltrasi rantai pasokan kelompok tersebut oleh intelijen Israel. Demikian pula, pembunuhan pemimpinnya, Hassan Nasrallah, dilakukan setelah rincian lokasinya diperoleh oleh agen Israel.
Dalih serupa juga digunakan dalam pembunuhan yang ditargetkan terhadap kepala politik Hamas, Ismael Haniyeh, di Teheran pada Juli 2024, ketika sebuah alat peledak yang ditempatkan di kediamannya beberapa minggu sebelumnya diledakkan.
Selama dua dekade terakhir, Israel telah mengeliminasi sejumlah ilmuwan nuklir Iran. Salah satunya adalah Mohsen Fakhrizadeh, yang dibunuh dengan senjata otomatis yang dikendalikan dari jarak jauh melalui truk.
Pada 2010, Israel juga diyakini berada di balik penyebaran virus komputer Stuxnet yang merusak sistem komputer di lebih dari selusin fasilitas nuklir Iran.
Apakah Iran Juga Melakukan Spionase Terhadap Israel?
Hal yang sama juga dilakukan Iran terhadap Israel. Pada akhir Oktober, badan intelijen dalam negeri Israel, Shin Bet, menangkap tujuh warga negara Israel atas tuduhan bekerja sebagai mata-mata untuk Iran.
Sehari sebelumnya, tujuh orang lainnya ditahan di Haifa atas dugaan keterlibatan dengan Kementerian Intelijen Iran.
Menurut sumber dari kepolisian Israel saat itu, jaringan-jaringan lain yang memiliki afiliasi dengan Iran diyakini masih aktif dan belum sepenuhnya terdeteksi.
Mengapa Informasi Operasi Rahasia ini Banyak Terbuka ke Publik?
Menurut para pengamat, keterbukaan informasi ini bukan karena kebocoran, melainkan bagian dari strategi. Dengan mengungkap seberapa jauh mereka berhasil menembus sistem lawan, Israel dapat mengguncang moral publik dan elite Iran, sekaligus memperkuat posisi politik di dalam negeri.
"Ini adalah bentuk perang psikologis," jelas Attar.
"Jika saya terus mengklaim telah masuk ke rumah Anda dan Anda menyangkalnya, lalu saya menunjukkan bukti, bagaimana tanggapan Anda? Anda tampak lemah. Israel sengaja menyebarkan informasi untuk menunjukkan betapa dalam mereka menyusup, lalu membiarkan Iran membantah, sebelum akhirnya mereka mengungkap lebih banyak bukti."