Sepak Terjang Intelijen Legendaris Israel dan Iran
Peran intelijen tidak bisa dipisahkan dari konflik yang kini tengah memanas antara Iran dan Israel.
Perang Iran-Israel yang kali ini terjadi tidak lepas dari operasi intelijen tingkat tinggi di kedua negara.
Iran dan Israel sejak lama terlibat dalam perang yang melibatkan operasi intelijen tingkat tinggi, spionase, dan pembunuhan rahasia. Baik Iran atau Israel masing-masing memiliki sosok intelijen legendaris yang meninggalkan jejak sejarah.
Berikut adalah sosok legendaris yang menjadi sorotan di antara kedua negara yang telah membentuk lanskap intelijen modern:
Eli Cohen: Mata-mata Israel yang Menipu Suriah
Salah satu nama yang tidak boleh terlewat dari daftar intelijen legendaris Israel adalah Eli Cohen. Lahir pada 1924, Cohen adalah agen Mossad yang menyusup ke Suriah pada awal 1960-an dengan identitas samara Kamel Amin Thabeet, seorang pengusaha kaya keturunan Arab. Cohen berhasil menjalin hubungan dengan elit politik dan militer Suriah berkat kecerdikannya. Ia bahkan menjadi kandidat potensial untuk posisi menteri.
Cohen mengumpulkan informasi penting tentang pertahanan Suriah, termasuk rincian benteng di Dataran Tinggi Golan, yang kemudian menjadi kunci kemenangan Israel dalam perang Enam Hari pada 1967.
Namun pada 1965, ia tertangkap basah setelah komunikasi radionya dicegat intelijen Suriah. Ia dieksekusi di Damaskus, tapi warisannya sebagai salah satu mata-mata terhebat Israel tetap diingat oleh masyarakat di negaranya. Bahkan, kata seorang analitis sejarah di Tel Aviv, Cohen merupakan “simbol keberanian dan pengorbanan dalam dunia intelijen.”
Meir Dagan: Arsitek Sabotase Nuklir Iran
Tokoh lain yang tak kalah legendaris dari Israel adalah Meir Dagan. Ia merupakan direktur Mossad dari 2002 hingga 2011. Dagan dikenal karena pendekatan agresifnya dalam operasi rahasia, terutama pada program nuklir Iran. Pencapaian terbesarnya adalah peran Mossad dalam serangan siber Stuxnet yang merusak sentrifugal nuklir Iran pada akhir 2000-an.
Dagan dikaitkan dengan serangkaian pembunuhan ilmuwan nuklir dan operasi melawan kelompok seperti Hezbollah. Hingga kematiannya pada 2016, ia tetap dihormati sebagai sosok supremasi intelijen Israel.
Esmail Khatib: Wajah Baru Intelijen Iran
Menteri Intelijen Iran sejak 2021, Ismail Khatib, adalah seorang ulama Syiah dengan latar belakang intelijen. Khatib lahir pada tahun 1961 di provinsi Qazvin, Iran. Sebelum menjadi menteri, ia pernah menjabat sebagai kepala departemen keamanan di kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Khatib juga dikenal sebagai bagian dari jaringan intelijen Iran yang beroperasi di bawah IRGC dan Kementerian Intelijen dan Keamanan (MOIS). Ia dilibatkan dalam klaim Iran pada Juni 2025 atas penemuan harta karun berupa dokumen rahasia Israel. Dokumen tersebut termasuk informasi sensitif tentang fasilitas nuklir di Dimona dan operasi militer iSrael.
Di bawah Khatib, Iran telah meningkatkan kemampuannya dalam perang siber. Menjadikannya sebagai alat utama dalam perang bayangan melawan Israel dan Barat. Khatib diyakini telah memperkuat unit siber MOIS dan bekerja sama dengan IRGC untuk melancarkan serangan yang lebih canggih.
Melanjutkan warisan Qassem Soleimani, Khatib telah memperluas jaringan militer Iran di Timur Tengah. Ia bekerja memperkuat hubungan dengan kelompok proksi Iran, seperti Hizbullah di Lebanon dan milisi Syiah di Irak. Hal ini adalah aksi untuk mengumpulkan intelijen tentang Israel dan AS. Iran dikabarkan meningkatkan kerja sama intelijen dengan Rusia dan China, yang dipercaya difasilitasi oleh strategi Khatib.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey