Jenderal Iran Ini 3 Kali Lolos Serangan Maut Israel, Benarkah Dia Agen Mossad?
Dia selamat saat Israel membunuh Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dan ketika perang 12 hari Iran-Israel yang menewaskan enam jenderal Iran.
Dalam peristiwa serangan Amerika Serikat-Israel ke Teheran, Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei kemarin sejumlah jenderal militer Iran juga ikut tewas. Namun ada salah satu jenderal Iran yang tidak tewas dalam serangan mematikan itu.
Tak hanya itu jenderal Iran itu juga selamat dalam dua serangan mematikan Israel sebelumnya yaitu serangan yang menewaskan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah di Beirut pada 27 September 2024 dan pada saat perang Iran-Israel yang berlangsung 12 hari pada 13 Juni 2025 ketika enam jenderal Iran tewas.
Dia adalah Brigjen Esmail Qaani.
Hilangnya Qaani di saat serangan Israel memicu klaim bahwa ia mungkin merupakan agen badan intelijen Israel, Mossad, yang berada di balik keberhasilan sejumlah operasi terbaru Israel.
Tahanan Rumah
Menurut seorang pejabat, Qaani berada di pinggiran selatan Beirut, Dahiyeh, saat terjadi serangan yang dilaporkan menargetkan pejabat senior Hizbullah, Hashem Safieddine. Namun, pejabat tersebut mengatakan Qaani tidak sedang bertemu Safieddine pada saat itu.
Sumber-sumber yang dikutip oleh The Sun mengklaim bahwa Qaani berada dalam tahanan rumah dan sedang diinterogasi atas dugaan sebagai mata-mata Israel.
Dari peristiwa itu, sejumlah kalangan dan netizen mencurigai Qaani adalah agen atau aset Mossad yang disusupkan di lingkaran satu militer Iran.
Ketika rumor itu beredar pada Juni lalu, akun resmi Mossad berbahasa Farsi di X menyatakan bahwa Brigjen Esmail Qaani, komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), “bukan mata-mata kami,”.
Dilansir the Yerusalem Post, akun itu menepis spekulasi yang menyebut jenderal Iran tersebut telah direkrut oleh badan intelijen Israel.
Muncul ke Publik
Unggahan enam kata — “قاآنی جاسوس ما نیست.” (“Qaani bukan mata-mata kami.”) — muncul di akun @MossadSpokesman pada Senin sore. Akun tersebut telah mengumpulkan lebih dari 140.000 pengikut sejak Iran dan Israel menyepakati gencatan senjata pada 24 Juni 2025.
Laporan yang belum terkonfirmasi mengatakan Qaani bekerja sama dengan Mossad muncul setelah ia tiba-tiba menghilang dari publik selama serangan udara Israel pada akhir 2024. Media tabloid Inggris dan sejumlah media regional menyebutkan ia diinterogasi — dan kemungkinan disiksa — oleh aparat keamanan Iran yang mencurigainya membocorkan data target yang memungkinkan serangan Israel terhadap para pemimpin Hizbullah di Beirut.
Para blogger dan situs berita pinggiran kemudian mengklaim Qaani berada dalam tahanan rumah atau telah meninggal karena serangan jantung “saat pemeriksaan.”
Cerita-cerita tersebut kembali ramai ketika sejumlah komentator mengaitkan serangan presisi Israel terhadap depot rudal Iran dengan adanya “sumber orang dalam” di tubuh IRGC.
Teheran Membantah
Iran menepis tuduhan spionase tersebut sebagai “perang psikologis.” Pada 25 Juni, Qaani muncul tanpa pemberitahuan dalam sebuah aksi massa di pusat Teheran, tersenyum dan berbincang dengan warga dalam apa yang media Iran sebut sebagai “perayaan kemenangan” menandai gencatan senjata.
Kemunculan itu menjadi penampilan pertama kepala Pasukan Quds tersebut di depan kamera dalam hampir dua pekan dan tampak dirancang untuk membantah laporan asing tentang penahanan atau kematiannya. Kantor berita pemerintah IRNA secara tegas mencatat bahwa sang jenderal terlihat “dalam kondisi kesehatan yang baik.”
Qaani, 68 tahun, menggantikan mendiang Qassem Soleimani sebagai kepala Pasukan Quds setelah Soleimani tewas dalam serangan drone AS pada Januari 2020. Ia mengawasi jaringan milisi proksi Iran di seluruh Timur Tengah dan menjadi subjek sanksi terorisme dari AS dan Uni Eropa.
Siapa Esmail Qaani?
Esmail Qaani ditunjuk sebagai kepala Quds Force setelah Qassem Soleimani tewas oleh Amerika Serikat pada 2020. Perannya mencakup mengelola sekutu paramiliter Teheran di Timur Tengah dan secara global.
Sementara Soleimani memiliki pengaruh besar dan menjalin hubungan erat dengan sekutu regional Iran, Qaani dinilai belum mampu menyamai tingkat pengaruh maupun otoritas tersebut, menurut analis militer dan pihak yang mengenal keduanya.
Di bawah kepemimpinan Qaani, proksi Iran seperti Hizbullah dan milisi Irak menghadapi tekanan, khususnya dari pasukan Israel, berbeda dengan periode ekspansi pengaruh mereka di era Soleimani.
Qaani, yang lahir di Mashhad, Iran, memiliki latar belakang di Garda Revolusi dan pernah bertempur dalam perang Iran-Irak. Ia menjadi wakil komandan Pasukan Quds pada 1997. Ia juga memiliki pengalaman di Afghanistan dan Pakistan, namun tidak fasih berbahasa Arab, berbeda dengan Soleimani.
Berbeda dengan pendahulunya yang kerap terlihat di garis depan pertempuran, Qaani cenderung mengambil pendekatan lebih tertutup, mengadakan pertemuan secara rahasia dan menjaga diri jarang tampil dalam memimpin Pasukan Quds.