Bolivia Mulai Terapkan Larangan Ponsel di Sekolah
Bagaimana Presiden Bolivia membela kebijakan ini? Berikut adalah pernyataannya yang menjelaskan alasan dan tujuan di balik kebijakan tersebut.
Mulai Senin, 2 Februari 2026, Bolivia memberlakukan larangan penggunaan telepon seluler di ruang kelas seiring dengan dimulainya tahun ajaran baru di negara yang terletak di Amerika Selatan ini. Associated Press melaporkan bahwa dalam kebijakan tersebut, siswa dan guru diharuskan menyimpan ponsel mereka di loker atau tas selama berada di dalam kelas.
Aturan ini diterapkan di seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta, dan berlaku untuk semua tingkatan pendidikan. Kebijakan serupa juga telah diterapkan di beberapa negara lain, seperti Brasil, Prancis, dan Korea Selatan, dengan tujuan untuk meningkatkan fokus siswa dan mengurangi gangguan selama proses belajar-mengajar.
Kebijakan ini merupakan bagian dari program yang disusun di bawah kepemimpinan Presiden Rodrigo Paz, yang merupakan seorang politikus berhaluan tengah. Ia terpilih dalam pemilihan umum tahun lalu dan mulai menjabat pada bulan November setelah dua dekade pemerintahan partai kiri Gerakan Menuju Sosialisme.
Pada kesempatan tersebut, Paz menegaskan bahwa ia tidak menolak teknologi. Ia menjelaskan bahwa upaya yang dilakukannya bertujuan untuk meningkatkan konektivitas bagi siswa di Bolivia, dengan memanfaatkan satelit untuk menghubungkan sekolah-sekolah di daerah terpencil ke internet.
Satelit Buatan China
"Saya tidak akan memberikan Wi-Fi untuk menonton film," ungkap Paz saat menghadiri sebuah acara di Copacabana, sebuah kota yang terletak di tepi Danau Titicaca, danau tertinggi di dunia yang dapat dilayari kapal.
"Saya akan menyediakan konektivitas agar para siswa dapat mengunduh pengetahuan."Tahun lalu, pemerintahan Paz juga mencabut larangan terhadap penyedia layanan internet satelit asing yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan yang lalu.
Selama ini, Bolivia mengandalkan satelit buatan China untuk menyediakan akses internet di wilayah terpencil. Namun, satelit yang dikenal dengan nama Tupac Katari kini sudah menua dan memiliki kapasitas yang terbatas. Selain itu, Bolivia juga tercatat sebagai salah satu negara dengan kecepatan internet terendah di kawasan tersebut, sehingga langkah-langkah ini diharapkan dapat memperbaiki situasi tersebut.