Saat Rumah Subsidi Negara Layaknya Sebuah Kamar Kos
Pemerintah mengklaim bahwa desain dan ukuran rumah subsidi tersebut masih sebatas rencana.
Di tengah viralnya rumah subsidi ukuran 14 meter persegi di media sosial, Rahman (28), seorang pekerja swasta yang kantornya berada tak jauh dari Lippo Mall Nusantara, Jakarta, memutuskan untuk melihat langsung rumah mungil tersebut.
Sejak beberapa hari terakhir, beranda TikTok-nya dipenuhi dengan video desain rumah subsidi yang dikembangkan Lippo Group, murah, mungil, dan katanya cocok untuk kaum muda urban.
Namun semangat Rahman langsung luntur ketika melangkah ke dalam mock-up rumah yang dipamerkan.
"Kecil banget ini, susah banget pergerakan di dalam," gumamnya.
Rumah subsidi itu memiliki luas mulai dari 14 hingga 25 meter persegi, dengan harga yang diklaim terjangkau sekitar Rp100 jutaan. Tapi bagi Rahman, harga bukan segalanya.
“Buat saya rumah itu tempat istirahat, bukan cuma tempat tidur. Enggak ada ruang kerja, enggak ada teras, bahkan masuk langsung ketemu dapur. Kayak kos-kosan,” ujarnya.
Meski tertarik dengan konsep desain modern-minimalis yang ditawarkan, Rahman mengaku ukuran adalah batas kenyamanan. Ia lebih memilih tinggal di kosan, sambil menabung untuk membeli rumah di kampung yang menawarkan ruang hidup lebih luas.
“Kalau rumah subsidi 14 meter, enggak dulu deh. Mending nabung dulu buat yang lebih manusiawi,” tuturnya.
Hal senada juga diungkapkan Wisman (30), rekan kerja Rahman. Ia juga datang melihat langsung rumah viral tersebut. Semangatnya luntur ketika menyadari betapa sempitnya ruang dalam rumah.
“Kaget aja sih, ternyata lebih kecil dari yang gue kira. Ruang tamunya nyatu sama dapur, sofanya pun kecil. Jujur, kamar mandi kosan gue aja lebih luas dari ini,” ujarnya.
Menurut Wisman, rumah subsidi 14 meter mungkin cocok bagi kaum muda lajang. Namun untuk pasangan muda, apalagi keluarga kecil, hunian sekecil itu dirasa tidak layak. Ruang yang terlalu sempit bisa mengganggu aktivitas, privasi, hingga kualitas hidup penghuninya.
“Kalau buat single masih oke lah ya. Tapi kalau udah punya pasangan atau anak, pikir-pikir lagi deh,” katanya.
Masih Sekadar Rencana
Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian PKP, Sri Haryati, menjelaskan bahwa desain rumah subsidi ukuran 14 meter karya Lippo Group yang beredar masih berupa rencana alias belum dipasarkan. Ia menyebut rumah subsidi yang ditawarkan Lippo tersebut untuk memberikan alternatif bagi masyarakat yang tertarik memiliki rumah subsidi di wilayah perkotaan.
"Saat ini kementerian PKP sedang membuat rencana untuk menambah fitur baru rumah subsidi. Sekali lagi ya ini rencana jadi belum sampai ke final," ujar Sri dalam acara Perkenalan Mockup Rumah Subsidi di Perkotaan di kawasan Lippo Mal Nusantara, Jakarta Senin (16/6).
Dia menekankan bahwa Kementerian PKP terbuka terhadap kritikan masyarakat terkait konsep rumah subsidi luasan 14 meter yang baru diperkenalkan. Pihaknya menyebut sayembara desain rumah subsidi mungil tersebut juga terbuka bagi semua pengembang.
"Karena kami kementerian PKP, Pak Menteri sangat terbuka untuk berdiskusi dengan seluruh stakeholder. Maka draft capmentnya kita juga sebarkan ke seluruh asosiasi pengembang, ke Kadin, ke HIPMI, ke REI dan lain-lain gitu ya," bebernya.
Dia menyebut ide untuk membangun rumah subsidi dengan luas bangunan 14 meter sendiri merupakan aspirasi dari para Gen Z. Menurutnya, saat ini Gen Z cenderung memilih rumah yang dekat dengan wilayah perkotaan untuk menunjang aktivitas pekerjaan.
"Jadi sebetulnya tujuannya adalah kita menangkap bahwa banyak masyarakat muda yang orang bilang Gen Z dan lain-lain. Itu yang lebih prefer untuk punya rumah yang lebih dekat ke tempat aktivitas kerja," ucapnya.