Pemerintah Korsel Siapkan Dana Rp53 Triliun untuk UMKM Terdampak Tarif AS
Perekonomian berbasis ekspor seperti Korea kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan lanskap perdagangan global.
Pemerintah Korea Selatan mengalokasikan dana sebesar USD3,25 miliar atau sekitar Rp53 triliun guna membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terdampak kebijakan tarif dari Amerika Serikat.
Langkah ini diambil untuk mendorong peningkatan produksi dan perluasan ekspor sektor UMKM. Berdasarkan data pemerintah, ekspor dari UMKM menyumbang sekitar 17% dari total ekspor Korea Selatan pada kuartal pertama tahun ini. Sebanyak 81% pelaku UMKM mengaku rentan terhadap tarif sebesar 25% yang diberlakukan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada awal April, meski kebijakan tersebut saat ini tengah ditangguhkan selama 90 hari.
Sebagai bagian dari upaya menghadapi dampak kebijakan perdagangan global, pemerintah Korea Selatan sebelumnya telah menyetujui anggaran tambahan sebesar 13,8 triliun won. Anggaran ini mencakup belanja untuk merespons tarif serta mendukung perekonomian domestik yang tengah melemah.
Pada Jumat lalu, pemerintah juga mengumumkan rencana penyuntikan dana tambahan sebesar 9 triliun won (sekitar USD6,6 miliar) untuk mendukung eksportir yang terkena dampak tarif AS dan meningkatnya ketegangan perdagangan global. Keputusan ini diambil dalam pertemuan para menteri ekonomi luar negeri di Seoul.
Dalam rincian kebijakan, pemerintah akan meluncurkan “program tanggap krisis” yang menyediakan pinjaman berbunga rendah senilai 3 triliun won bagi UMKM. Sebanyak 2 triliun won akan dialokasikan untuk pembiayaan tambahan bagi eksportir utama, sementara 3 triliun won lainnya disiapkan dalam bentuk dana kebijakan guna mendorong kerja sama antara perusahaan besar dan pemasok UMKM.
Selain itu, pemerintah akan membentuk program pembiayaan baru senilai 1 triliun won untuk membantu pelaku usaha menjajaki pasar alternatif di tengah ketidakpastian global.
Menteri Keuangan Korea Selatan, Choi Sang-mok, menyatakan bahwa perekonomian berbasis ekspor seperti Korea kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan lanskap perdagangan global.
“Kita sekarang berada di bawah seperangkat aturan baru yang rumit dan penuh risiko. Inilah saatnya mengembangkan strategi sendiri untuk bertahan dan tumbuh,” ujar Choi. Ia juga menyerukan agar langkah-langkah dukungan diterapkan secara cepat dan berani, serta mencari solusi jangka panjang yang fundamental.