Pemkot Bontang Genjot Ekonomi Lewat Strategi Investasi Hijau
Pemerintah Kota Bontang menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 4,5% pada 2026 melalui strategi investasi hijau, berfokus pada pariwisata alam dan hilirisasi industri. Apa saja peluang investasi hijau Bontang yang menarik?
Pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, berupaya keras mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah. Target yang ambisius telah ditetapkan, yakni mencapai kisaran 4,2 hingga 4,5 persen pada tahun 2026 mendatang. Strategi utama untuk mencapai target ini adalah melalui pengembangan investasi hijau yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Langkah ini mencakup berbagai sektor, mulai dari pengembangan wisata berbasis alam hingga hilirisasi perkebunan. Fokus pada investasi hijau diharapkan dapat mengurangi emisi karbon sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat Bontang. Pendekatan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah terhadap pembangunan yang seimbang antara ekonomi dan lingkungan.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Muhammad Aspianur, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari transformasi ekonomi Bontang. "Langkah ini merupakan salah satu bentuk transformasi ekonomi Bontang, sehingga selain hilirisasi industri juga menjadi destinasi pariwisata hijau dan inklusif," ujarnya di Bontang, Kaltim.
Target dan Realisasi Investasi Hijau Bontang
Pemerintah Kota Bontang telah menetapkan target investasi yang signifikan untuk tahun ini. Total investasi yang diharapkan masuk ke Bontang adalah sebesar Rp3,42 triliun, menunjukkan kenaikan sebesar 11,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat Rp3,08 triliun. Angka ini mencerminkan optimisme pemerintah terhadap potensi daerah.
Aspianur menyatakan keyakinannya bahwa target tersebut akan tercapai, didukung oleh realisasi investasi pada triwulan I (Januari-Maret) 2026. Pada periode tersebut, investasi yang masuk telah mencapai Rp796,78 miliar, atau sekitar 23,25 persen dari total target. Pencapaian ini menjadi indikator positif bagi iklim investasi di Bontang.
Investasi sebesar Rp796,78 miliar tersebut didominasi oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan kontribusi sebesar 88,77 persen, atau senilai Rp707,31 miliar. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang 11,23 persen, atau setara dengan Rp89,46 miliar. Komposisi ini menunjukkan kekuatan investasi domestik dalam mendorong ekonomi lokal.
Mengembangkan Pariwisata Berbasis Lingkungan
Salah satu pilar utama investasi hijau Bontang adalah pengembangan pariwisata berbasis lingkungan. Peluang investasi ini mencakup pengembangan taman edukasi dan vila terapung di atas laut. Inisiatif ini bertujuan menjadikan Bontang sebagai magnet baru yang memadukan keindahan alam dengan pembelajaran lingkungan.
Pengembangan edupark, misalnya, dirancang sebagai wisata berbasis keluarga yang menggabungkan edukasi dan rekreasi. Ini merupakan implementasi dari draf Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM) Bontang 2025-2035, yang menempatkan sektor pariwisata edukatif dan industri kreatif sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi baru.
Bontang juga menawarkan investasi hijau pada destinasi wisata pesisir seperti Hutan Mangrove Bontang Kuala. Kawasan ini telah dilengkapi dengan atraksi eco-edupark mangrove, skybridge, menara pandang, galeri konservasi, dan eco-café. Investor memiliki kesempatan untuk menambah atraksi lain guna pengembangan lebih lanjut.
Selain itu, terdapat objek wisata Pulau Beras Basah yang sudah memiliki eco-resort, family beach park, dan fasilitas berbasis energi surya. Pulau ini dikenal dengan pasir putih dan lautnya yang jernih. Destinasi menawan lainnya adalah Pulau Tihi-Tihi, yang populer untuk snorkeling dan telah dilengkapi Marine EduPark serta konservasi karang berbasis masyarakat.
Hilirisasi Industri dan Transformasi Ekonomi
Selain sektor pariwisata, investasi hijau di Bontang juga menyasar hilirisasi industri perkebunan. Salah satu fokus utamanya adalah hilirisasi industri kelapa sawit. Produk turunan yang ditawarkan untuk investasi adalah fatty amine dan fatty acid.
Langkah hilirisasi ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk perkebunan lokal, sehingga tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah. Ini sejalan dengan upaya transformasi ekonomi Bontang yang ingin menciptakan diversifikasi sumber pendapatan daerah. Pengembangan industri pengolahan sawit ini juga diharapkan membuka lapangan kerja baru.
Melalui kombinasi pengembangan pariwisata hijau dan hilirisasi industri, Pemerintah Kota Bontang bertekad untuk mewujudkan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan inklusif. Strategi ini diharapkan dapat menarik lebih banyak investor dan menciptakan dampak positif jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat Bontang.
Sumber: AntaraNews