Memahami Paradoks Ekspansi di Bisnis Makanan dan Minuman, Apa Solusinya?
Ini merupakan fenomena di mana pertumbuhan jumlah cabang tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan profitabilitas.
Sektor makanan dan minuman atau F&B dan retail Indonesia sedang berada di titik panas. Data Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan ritel tumbuh 6,5 persen secara tahunan per Maret 2026, sementara kategori makanan dan minuman bahkan menyentuh 8,5 persen selama delapan bulan berturut-turut di penghujung tahun lalu.
Di permukaan, angka-angka ini menjanjikan. Namun di lapangan, sebuah ironi sedang berlangsung. Semakin banyak outlet yang dibuka, semakin banyak pula bisnis yang justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Inilah yang disebut sebagai paradoks ekspansi, sebuah fenomena di mana pertumbuhan jumlah cabang tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan profitabilitas.
Pencatatan transaksi yang terfragmentasi antar outlet, data stok yang tidak sinkron, hingga laporan keuangan yang baru terlihat utuh dua minggu setelah penutupan bulan, menjadi 'Silent Killer' ekspansi yang jarang dibicarakan. Banyak pebisnis, baru menyadari masalahnya ketika kerugian sudah terakumulasi.
Stok bocor di outlet ketiga, harga jual tidak konsisten di outlet kelima, dan kas yang tidak pernah benar benar bisa direkonsiliasi.
Melihat fakta ini, perusahaan Software as a Service (SaaS), Mekari memperkenalkan Mekari POS sebagai teknologi point of sales modern yang dirancang khusus untuk sektor food and beverage (F&B) dan ritel dengan fitur yang dapat disesuaikan kebutuhan masing-masing industri.
CEO Mekari, Suwandi Soh mengatakan Mekari POS hadir dengan pendekatan berbeda dibanding pemain lain di pasar, yakni point of sales tidak lagi sekadar diposisikan sebagai mesin kasir, tetapi sebagai pusat kendali operasional harian yang menjadi acuan utama pengambilan keputusan bisnis.
"Selama bertahun tahun mendampingi puluhan ribu bisnis di Indonesia, kami menemukan satu pola yang konsisten dan jarang diakui secara terbuka," kata Suwandi Soh di Jakarta, Selasa (26/5).
Ia menyinggung bahwa pertumbuhan bisnis ritel dan F&B tidak ditentukan oleh ramainya pelanggan pada hari pembukaan, melainkan oleh ketangguhan dan keteraturan operasional di balik bisnis tersebut.
"Banyak bisnis hebat di Indonesia berhenti di outlet kedua atau ketiga, bukan karena kehabisan pelanggan, tetapi karena kehilangan kendali atas data mereka sendiri," tutur dia.
"Mekari POS dirancang untuk menjawab persoalan paling mendasar ini. Karena pada akhirnya, seorang pengusaha tidak seharusnya berekspansi dengan keberanian semata. Ia berhak berekspansi dengan keyakinan yang berbasis data," kata Suwandi Soh dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan Mekari POS dirancang dengan fokus memberikan kontrol operasional secara real-time kepada pemilik bisnis. Melalui fitur 'Manajemen Multi Cabang' dalam satu dashboard terpusat, pemilik usaha dapat memantau pergerakan seluruh jaringan outlet dari satu lokasi.
Mengelola Berdasarkan Sinyal dan Data Terkini
Menurut dia, pendekatan tersebut merupakan pergeseran dari 'managing by report' atau mengelola berdasarkan laporan sebelumnya menjadi 'managing by signal', yakni mengelola berdasarkan sinyal dan data terkini.
Selain itu, Mekari POS juga terintegrasi dengan berbagai layanan dalam ekosistem Mekari, antara lain Mekari Jurnal untuk laporan keuangan dan akuntansi, Mekari Desty untuk operasional omnichannel marketplace, Mekari Talenta untuk manajemen tenaga kerja, serta Mekari Klikpajak untuk kepatuhan perpajakan.
Integrasi tersebut memungkinkan sinkronisasi otomatis data transaksi penjualan dan inventori sehingga dapat mengurangi proses rekonsiliasi manual yang selama ini memakan waktu tim keuangan.
Perusahaan menilai peluncuran Mekari POS menjadi langkah baru dalam melengkapi ekosistem operasional garda depan atau front end yang selama ini dinilai menjadi titik lemah dalam proses skalabilitas bisnis di Indonesia.
Mekari juga menyebut sistem Mekari POS dibangun dengan standar keamanan internasional ISO 27001 serta kepatuhan terhadap regulasi lokal Indonesia guna menjaga keamanan data transaksi dan informasi bisnis di tengah meningkatnya ancaman siber.