Intip Strategi Prioritas Kinerja Campina Tahun 2026
Strategi tersebut tercermin dari pencapaian pendapatan Campina hingga kuartal III 2025 yang tumbuh 1,14% secara tahunan menjadi Rp860 miliar.
PT Campina Ice Cream Industry Tbk menempatkan pertumbuhan pendapatan berkelanjutan sebagai prioritas utama di tengah kondisi konsumsi rumah tangga semakin selektif. Di saat daya beli masyarakat masih tertekan dan sensitif terhadap harga, perseroan berupaya menjaga volume penjualan agar momentum bisnis tetap terpelihara.
Sekretaris Perusahaan Campina Ice Cream Industry, Sagita Melati mengatakan, strategi tersebut tercermin dari pencapaian pendapatan Campina hingga kuartal III 2025 yang tumbuh 1,14% secara tahunan menjadi Rp860 miliar.
"Kinerja yang relatif resilient di tengah dinamika makro ekonomi. Dalam konteks tersebut, Campina mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,14% year-on-year menjadi Rp860 miliar, sejalan dengan laju pertumbuhan industri es krim nasional yang sedikit melambat," kata Sagita dalam Paparan Publik Campina, Senin (15/12).
Industri Es Krim Nasional
Pertumbuhan ini dinilai sejalan dengan laju industri es krim nasional yang melambat, sekaligus menunjukkan ketahanan top line perseroan di tengah tantangan makro ekonomi.
Bagi investor pasar modal, kemampuan menjaga pertumbuhan pendapatan saat konsumsi melemah menjadi sinyal penting bahwa model bisnis Campina masih relevan. Konsistensi top line ini juga menjadi fondasi awal untuk menjaga stabilitas kinerja jangka menengah.
"Dari sisi pendapatan, Campina mencatatkan pertumbuhan yang stabil dengan CAGR sebesar 3,16% sejak tahun 2012 hingga tahun 2024. Trend ini menunjukkan kemampuan perseroan dalam menjaga top line secara konsisten, meskipun dihadapkan pada periode tekanan konsumsi dan disrupsi eksternal," ujar Sagita.
Efisiensi Operasional dan Profitabilitas Jadi Perhatian Investor
Selain pertumbuhan pendapatan, penguatan profitabilitas melalui efisiensi operasional menjadi prioritas kedua perseroan. Tekanan biaya bahan baku dan distribusi meningkat sepanjang 2025 berdampak pada margin laba kotor serta laba bersih Campina.
"Namun tekanan biaya berdampak pada profitabilitas laba kotor hingga kuartal III tahun 2025 tercatat turun 5,12% year on year, terutama disebabkan oleh kenaikan signifikan biaya bahan baku dan distribusi," ujar Sagita.
Manajemen memilih untuk tidak menaikkan harga jual secara agresif demi menjaga daya beli konsumen dan volume penjualan. Keputusan ini memang menekan profitabilitas jangka pendek, namun dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis dan pangsa pasar.
Perluasan Distribusi dan Penguatan Merek
Prioritas berikutnya adalah perluasan jaringan distribusi dan penguatan kanal penjualan, termasuk pemanfaatan kanal digital. Strategi ini diarahkan untuk memperluas jangkauan produk dan menjaga kedekatan dengan konsumen di tengah perubahan pola belanja.
Di sisi lain, penguatan brand equity dan loyalitas konsumen juga menjadi fokus utama. Campina menilai bahwa kekuatan merek akan menjadi penopang utama permintaan ketika konsumen semakin berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya.
"Optimalisasi distribusi serta penyesuaian portfolio produk. Dengan langkah-langkah tersebut, manajemen optimis dapat memperbaiki margin secara bertahap seiring membaiknya kondisi pasar," pungkasnya.