Kinerja Unilever Indonesia Tumbuh 4,3 Persen di 2025, Divestasi Sariwangi Ditargetkan Rampung Maret 2026
Secara setahun penuh, penjualan 2025 tumbuh 4,3% menjadi Rp31,9 triliun.
Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) Benjie Yap memaparkan kinerja keuangan perseroan sepanjang 2025 yang menunjukkan pemulihan semakin solid, terutama pada kuartal keempat.
Benjie menegaskan laporan tahun ini difokuskan pada operasi berkelanjutan, tidak termasuk bisnis es krim dan Teh Sariwangi yang telah dikategorikan sebagai operasi dihentikan.
Ia menjelaskan, sepanjang presentasi kinerja, perseroan menggunakan basis tersebut agar memberikan gambaran yang lebih akurat terhadap performa inti perusahaan.
Pada kuartal keempat 2025, Unilever Indonesia membukukan penjualan bersih sebesar Rp7,9 triliun, tumbuh 17,5% secara tahunan (year on year/yoy).
Menurut Benjie, pertumbuhan ini terutama didorong peningkatan volume signifikan sebesar 12,4%, hasil dari pengaturan ulang bisnis yang telah dilakukan sejak tahun sebelumnya serta efek pembanding yang lebih rendah pada periode yang sama tahun lalu.
Ia menilai kinerja kuat di kuartal terakhir mempertegas momentum pemulihan operasional. Tren volume yang membaik menjadi indikasi bahwa permintaan konsumen mulai pulih lebih merata di berbagai kategori utama.
Secara setahun penuh, penjualan 2025 tumbuh 4,3% menjadi Rp31,9 triliun. Penjualan domestik tercatat stabil, sementara bisnis ekspor menunjukkan kinerja positif.
Sepanjang tahun, perseroan mencatat pertumbuhan volume 1,2% dan kenaikan harga rata-rata 2,8%, mencerminkan pemulihan yang dinilai seimbang dan tidak semata bertumpu pada penyesuaian harga.
“Penjualan domestik tumbuh stabil, dan bisnis ekspor kami terus berkinerja baik,” ungkap Benjie.
Dari sisi profitabilitas, margin kotor kuartal keempat tercatat 41,1%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya akibat biaya transformasi yang telah dikomunikasikan sebelumnya.
Namun, tanpa memperhitungkan biaya transformasi, margin kotor kuartal keempat sebenarnya meningkat 281 basis poin.
Laba sebelum pajak (PBT) kuartal keempat naik 7,5% yoy dan berpotensi mencapai 15% tanpa beban transformasi. Laba bersih Q4 tercatat Rp0,5 triliun, atau Rp1 triliun jika disesuaikan.
Untuk setahun penuh 2025, margin kotor mencapai 46,9%. Tanpa biaya transformasi, margin tersebut meningkat 46 basis poin.
Transformasi Portofolio dan Divestasi Sariwangi
Dalam kesempatan yang sama, Benjie mengungkapkan bahwa pemisahan bisnis es krim telah resmi rampung pada 8 Desember 2025.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi transformasi untuk memperkuat fokus pada kategori produk inti dengan potensi pertumbuhan lebih besar.
Selain itu, Unilever Indonesia menargetkan divestasi merek Sariwangi selesai pada Maret 2026. Menurut Benjie, penajaman portofolio ini bertujuan agar alokasi sumber daya lebih efektif dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Secara finansial, operasi es krim dan Sariwangi menyumbang 12,2% terhadap total penjualan tahun penuh 2025. Kontribusi laba bersih dari kedua lini tersebut sebesar 8%.
Dari sisi margin, penghentian dua bisnis tersebut berdampak positif.
Margin kotor meningkat 21 basis poin setelah operasi dihentikan dikeluarkan dari perhitungan, sementara profit before tax (PBT) naik 63 basis poin. Manajemen memperkirakan margin laba bersih akan meningkat sekitar 50 basis poin pascadivestasi.
Benjie menegaskan, langkah transformasi ini diharapkan memperkuat struktur margin sekaligus memastikan Unilever Indonesia lebih fokus pada kategori dengan pertumbuhan konsisten dan kualitas pendapatan yang lebih baik ke depan.