Bukukan Penjualan Rp9,5 Triliun, Unilever Indonesia Raup Untung Rp1,2 Triliun di Kuartal I-2025

Marjin kotor naik menjadi 48,2 persen, sementara porsi belanja iklan dan promosi meningkat menjadi 9,2 persen dari total penjualan bersih.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Bukukan Penjualan Rp9,5 Triliun, Unilever Indonesia Raup Untung Rp1,2 Triliun di Kuartal I-2025
Bukukan Penjualan Rp9,5 Triliun, Unilever Indonesia Raup Untung Rp1,2 Triliun di Kuartal I-2025 (Merdeka.com)

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) meraup laba bersih sebesar Rp1,2 triliun pada kuartal I-2025. Perolehan laba ini meningkat signifikan sebesar 244,7 persen (qtq) dibandingkan kuartal IV 2024. Namun demikian, capaian laba ini masih terkoreksi 14,6 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Meskipun hasil kuartal pertama kami masih terkoreksi dibandingkan tahun sebelumnya, kami berhasil mencatatkan peningkatan kuartal ke kuartal (qtq) dalam hal pertumbuhan dan profitabilitas. Kinerja ini mencerminkan hasil dari inisiatif tegas dan tepat sasaran yang dilakukan perseroan untuk mengatasi tantangan operasional," kata Presiden Direktur Unilever, Benjie Yap dalam paparan laporan kinerja keuangan Unilever Indonesia di Jakarta, Kamis (24/3).

Dalam paparannya, Unilever Indonesia membukukan penjualan bersih Rp9,5 triliun, dengan penjualan domestik tumbuh 21,6 persen dibandingkan kuartal IV 2024, meski masih terkoreksi 6,6 persen secara tahunan. Marjin laba sebelum pajak juga menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 1.054 basis poin dibandingkan kuartal sebelumnya, mencapai 16,8 persen.

Marjin kotor naik menjadi 48,2 persen, sementara porsi belanja iklan dan promosi meningkat menjadi 9,2 persen dari total penjualan bersih, menandakan fokus kuat pada penguatan merek dan keterlibatan konsumen.

"Kami telah membuat kemajuan dalam mengurangi stok pelanggan, menstabilkan harga pada kanal penjualan kami dan meningkatkan profitabilitas mitra distributor kami, serta memberikan tingkat layanan pelanggan yang lebih baik. Kemajuan ini memberikan fondasi yang kokoh untuk mendorong pertumbuhan di masa depan," jelas Benjie Yap.

Dia menjelaskan, salah satu pendorong kinerja kuartalan adalah keberhasilan strategi transformasi go-to-market dan penguatan portofolio produk. Pada kuartal I tahun ini, Unilever meluncurkan kembali sejumlah merek utama seperti Clear, Sunlight, dan Royco dengan pendekatan 6P.

Pendekatan perseroan 6P berfokus pada produk (product), dengan menyediakan manfaat yang unggul; harga (price) dengan menerapkan harga yang kompetitif; tempat (place), yang memastikan ketersediaan produk secara luas; promosi (promotion) dengan melaksanakan kampanye yang berdampak besar; preposisi (preposition) dengan mempertajam posisi merek, dan pengemasan (pack) melalui peningkatan presentasi produk.

Untuk menjangkau lebih banyak konsumen, lanjutnya, perusahaan juga meluncurkan produk inovatif di berbagai segmen.

Di segmen value, perseroan meluncurkan produk Rinso ukuran baru seharga Rp500 dan Glow & Lovely DermaGlow Multivitamin Cream dalam kemasan mini dengan efikasi pencerah kulit 40 kali lebih baik.

Sementara itu, di segmen premium, Unilever menghadirkan Dove Pro-Ceramide Serum Body Wash, LUX Peaceful Galaxy, dan Closeup White Now. Perseroan juga memanfaatkan momen hari raya untuk meningkatkan konsumsi produk makanan.

"Merek makanan ikonik kami yaitu Bango mengedepankan hidangan utama hari raya 'Semur' dan mempromosikannya melalui eksekusi offline yang kuat, termasuk visibilitas di toko, menggandeng komunitas, dan mengadakan roadshow Food Truck Jajanan Bango," sebut Benjie.

Lebih lanjut, ke depannya Unilever Indonesia akan terus melanjutkan strategi pengaturan ulang (reset), dengan fokus pada penguatan merek utama, distribusi yang lebih luas, efisiensi biaya, dan disiplin dalam eksekusi pasar.

"Didukung oleh investasi yang berkelanjutan, peningkatan belanja digital, distribusi yang lebih luas; perluasan dan perbaikan cakupan toko, serta eksekusi pasar yang lebih disiplin. Kami juga akan terus berfokus pada program pengaturan ulang biaya untuk melindungi marjin laba kotor," paparnya.

Kinerja positif tersebut turut mendukung posisi Unilever Indonesia sebagai salah satu emiten unggulan dalam indeks IDX High Dividend 20 (IDXHIDIV20) yang berlaku untuk periode 5 Februari 2025 hingga 3 Februari 2026. IDXHIDIV20 merupakan indeks yang menampilkan 20 saham dengan riwayat pembagian dividen tunai stabil selama tiga tahun terakhir dan memiliki yield dividen tinggi. Kembalinya UNVR dalam jajaran indeks ini menjadi sinyal kepercayaan pasar terhadap komitmen perusahaan terhadap pemegang saham.

Unilever Indonesia (UNVR) dikenal sebagai emiten yang rajin membagikan dividen dengan disiplin tinggi. Menurut Nafan Aji Gusta, Analis Senior Mirae Asset Sekuritas, Kamis (24/4) konsistensi ini menjadi fondasi kepercayaan investor, terutama di masa pasar sedang downtrend.

"Unilever tidak hanya overwhelming dalam kinerja, tapi juga sangat menjaga komitmen bagi hasil kepada pemegang saham," ujarnya.

Disiplin dalam pembagian dividen ini bukan sekadar strategi jangka pendek, melainkan upaya membangun reputasi sebagai perusahaan yang andal (dependable). Hal ini menjadi daya tarik bagi investor yang mencari stabilitas pendapatan pasif di tengah gejolak ekonomi.

Meski tantangan pasar seperti inflasi dan persaingan ketat terus menghantui, Unilever dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang solid.

"Ada harapan peningkatan kinerja fundamental, terutama jika Unilever terus memperkuat inovasi produk yang sesuai kebutuhan konsumen," jelas Nafan.

Kemampuan Unilever menghadirkan produk yang mudah diserap pasar, seperti varian sehat (health & wellness) atau kemasan terjangkau, menjadi kunci pertumbuhan.

Pemanfaatan jaringan online dan offline secara optimal juga mampu memperluas jangkauan pasar.Kemudian, efisiensi Operasional upaya pemangkasan biaya dan peningkatan produktivitas telah berkontribusi pada perbaikan bottom line.

Nafan menekankan bahwa selama Unilever konsisten dalam inovasi dan efisiensi, peluang untuk mencetak pertumbuhan penjualan yang lebih kuat tetap terbuka.

"Yang penting, mereka tidak hanya fokus pada produk, tapi juga menjaga brand loyalty dan distribusi yang luas," tambahnya.

Rekomendasi