China Perkuat Sistem Pengawasan, Warga Asing Makin Dipantau Ketat
Selain warga asing, otoritas di China juga memantau aktivitas warga lokal, termasuk individu yang terlibat dalam politik, aktivisme, dan organisasi sosial.
Seorang ahli keamanan siber mengungkapkan bahwa sistem pengawasan terbaru di China kini dapat melacak individu dengan sangat mendetail. Teknologi ini mencakup berbagai aspek, seperti pengenalan wajah di resor ski dan informasi tentang kursi di kereta, yang digunakan untuk membangun profil lengkap seseorang. Peneliti keamanan siber yang menggunakan nama samaran NetAskari baru-baru ini mengklik tab bertuliskan "Pencarian data jurnalis" pada sebuah dasbor web China yang tidak terlindungi. Awalnya, ia mengira akan menemukan kumpulan data tiruan yang dihasilkan secara otomatis, namun, seperti yang dikutip dari laman DW Indonesia, Selasa (26/5/2026), yang muncul adalah wajah-wajah yang ia kenal.
Ternyata, itu adalah basis data lengkap hampir semua jurnalis asing yang berbasis di Beijing pada tahun 2021. Data tersebut mencakup foto paspor resmi yang diambil di kantor imigrasi, nomor ponsel pribadi, rincian visa, dan tanggal lahir. Yang lebih mengejutkan, ia juga menemukan data pribadinya sendiri tersimpan dalam daftar pantauan polisi China.
"Ini lebih menarik daripada mengejutkan," ungkap NetAskari kepada DW.
"Saat bekerja sebagai jurnalis di China, Anda cenderung menganggap diri Anda selalu dalam pengawasan. Namun, yang mengejutkan adalah betapa mudahnya mengakses sistem yang sangat sensitif ini," tambahnya.
Pengawasan Berbasis Data Terpadu
Temuan ini merupakan bagian dari sistem yang dikenal sebagai "profil holografik", yaitu model pengawasan yang menggabungkan berbagai sumber data secara real-time. Sistem ini dikembangkan untuk Biro Keamanan Publik di Zhangjiakou, yang merupakan lokasi Olimpiade Musim Dingin 2022. Pengawasan kini tidak lagi hanya bergantung pada kamera CCTV, tetapi telah berevolusi menjadi jaringan berbasis analitik data yang mampu mencatat pergerakan individu secara rinci.
Data ini menunjukkan arah perkembangan sistem pengawasan di negara tersebut yang bergerak cepat, dari sekadar jaringan kamera jalanan menjadi mesin pengendalian sosial yang terintegrasi, beroperasi 24 jam, dan mampu memprediksi perilaku.
Selama ini, China telah dikenal memiliki jaringan CCTV terbesar di dunia. Melalui proyek nasional "Xueliang" atau "Mata Terang", pemerintah berupaya menyatukan berbagai sistem pengawasan yang tersebar menjadi satu jaringan terpadu. Namun, data dalam dasbor kepolisian Zhangjiakou menunjukkan tingkat detail pengawasan yang jauh lebih tinggi.
Sistem ini mampu melacak pergerakan individu dengan sangat rinci, mencerminkan semakin canggihnya kemampuan aparat dalam memantau masyarakat. Teknologi ini tidak lagi bergantung pada kamera pengawas di sudut jalan. Sistem tersebut mampu merekam secara spesifik gerbong dan nomor kursi kereta yang digunakan seseorang saat bepergian, misalnya dari Beijing atau Shanghai.
Integrasi data juga mencakup foto dari gerbang tiket berbasis pengenalan wajah di resor ski yang langsung tersinkronisasi ke sistem pelacakan. Pergerakan individu, termasuk aktivitas di lokasi wisata, dapat dipetakan secara rinci dengan jejak perjalanan yang jelas.
"Ide dasarnya adalah memproses sebanyak mungkin data dari sebanyak mungkin sensor secara real-time," jelas peneliti tersebut. Selain itu, sistem ini juga mencatat aktivitas harian seperti konsumsi bahan bakar, lokasi belanja rutin, hingga pola kunjungan ke area tertentu. Semua data ini kemudian digabungkan untuk membentuk profil individu yang komprehensif, mencakup lokasi fisik, kebiasaan konsumsi, hingga jejak digital.
Jurnalis Asing kini menjadi sasaran
Dalam sistem pengawasan yang semakin terintegrasi, perhatian utama otoritas China kini tertuju pada warga asing, terutama jurnalis dari negara-negara Barat. Data yang diperoleh dari fitur "smart report" menunjukkan bahwa aparat keamanan memberikan perhatian lebih besar kepada warga dari negara-negara "Five Eyes", yaitu Amerika Serikat, Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Kanada.
Beberapa jurnalis bahkan diberi label khusus yang memungkinkan mereka dilacak secara real time. Ketika mereka memasuki suatu wilayah, sistem dapat segera mengirimkan peringatan kepada aparat keamanan. Keadaan ini dianggap sebagai ancaman serius bagi jurnalisme independen di China.
Sebelumnya, jurnalis asing yang meliput di wilayah sensitif seperti Xinjiang dapat menghindari pengawasan dengan metode konvensional. Namun, pendekatan tersebut kini tidak lagi efektif. Sistem yang berbasis algoritma memungkinkan pemantauan dilakukan tanpa perlu adanya pembuntutan fisik.
"Mereka tidak perlu lagi mengirim beberapa mobil untuk mengikuti Anda," ungkap NetAskari. Dengan akses terhadap data pembayaran digital, tiket perjalanan, dan jaringan sosial, aparat dapat memprediksi pergerakan individu dengan sangat akurat. Bahkan, interaksi dengan narasumber dapat terdeteksi, yang berpotensi menyebabkan tekanan terhadap pihak-pihak yang terlibat. Dalam sistem pengawasan yang semakin tertutup ini, ruang untuk melakukan investigasi secara diam-diam semakin menyempit.
Mampu Memprediksi Pergerakan
Sistem pengawasan ini semakin maju dengan kemampuan untuk menganalisis hubungan antar manusia serta pola interaksi kelompok. Teknologi ini memungkinkan aparat untuk memetakan jaringan sosial tanpa memerlukan pengawasan fisik yang intensif.
Melalui dasbor utama, sistem secara otomatis membangun grafik jaringan berdasarkan frekuensi interaksi yang terekam oleh kamera. Dari analisis tersebut, aparat dapat memahami relasi antar individu, termasuk tingkat kedekatan dan intensitas pertemuan.
Pengembangan teknologi ini telah berlangsung cukup lama. Pada tahun 2019, perusahaan teknologi asal China, Hisense, mengajukan paten untuk model relasi menyeluruh yang mencakup data perjalanan, catatan komunikasi, hingga penggunaan kendaraan.
Sementara itu, pada tahun 2025, Biro Keamanan Publik Putuo di Shanghai menggelontorkan dana sekitar 200.000 dolar AS untuk pengembangan sistem arsip personel terpadu. Keterbatasan metode pengawasan manual di masa lalu, seperti tingkat kesalahan yang tinggi dan kebutuhan akan tenaga kerja yang besar, kini dengan cepat tergantikan oleh algoritma otomatis yang efisien, tanpa lelah, dan sangat akurat.
Walaupun negara-negara demokrasi Barat juga menghadapi kontroversi terkait penyalahgunaan teknologi pengawasan seperti Palantir, menurut NetAskari, perbandingan tersebut hanya berlaku sampai batas tertentu.
"Di negara demokrasi Barat, masih ada debat. Di China, debat itu hampir tidak ada. Polisi dan Kementerian Keamanan Negara bisa melakukan apa saja dengan pengawasan yang relatif minim," jelasnya.
Baik jurnalis asing yang menjelajahi lorong sempit di Beijing untuk mencari berita maupun wisatawan biasa yang sedang berlibur di resor ski, pada akhirnya semua orang menjadi sekadar data dalam sistem besar ini.
NetAskari menegaskan bahwa dalam sistem tersebut, manusia direduksi menjadi angka, pola, dan operasi matematis. Mereka berubah menjadi "sekumpulan data" yang dapat dikendalikan, dibentuk, dan ditekan sesuai dengan kebutuhan. Hal ini menunjukkan betapa canggihnya teknologi pengawasan saat ini dan dampaknya terhadap privasi individu. Dengan kemajuan ini, penting untuk mempertimbangkan etika dan implikasi sosial yang ditimbulkan oleh penggunaan teknologi tersebut.