Gawat! RI Masuk Daftar Target kena Tarif Impor Trump
Negara-negara lain seperti Jerman, Irlandia, Jepang, dan Korea Selatan juga mulai merasakan dampak dari kebijakan perdagangan AS.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa Indonesia termasuk dalam daftar negara yang dikenakan tarif impor oleh Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan mantan Presiden Donald Trump.
“Presiden Donald Trump memang mengincar negara-negara dengan surplus perdagangan terhadap AS, atau negara yang membuat AS mengalami defisit perdagangan,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita Maret 2025 yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta.
Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah proteksionis AS terhadap negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan mereka. Menurut Sri Mulyani, Indonesia berada di posisi ke-15 dalam daftar 20 negara yang mencatatkan surplus perdagangan terhadap AS. Negara-negara lain, seperti China, Meksiko, Kanada, dan Vietnam, juga ada dalam daftar yang sama dan kini menghadapi kebijakan tarif yang lebih ketat dari AS.
“Perang dagang ini tidak hanya terjadi antara AS dan China, tetapi juga meluas ke negara-negara lain yang memiliki hubungan dagang signifikan dengan AS,” ungkap Sri Mulyani.
"Ini menandai pergeseran besar dalam sistem perdagangan global di mana perdagangan yang sebelumnya diatur dengan aturan internasional kini lebih sering diputuskan secara sepihak oleh negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar, khususnya AS."
Pergeseran Lanskap Perdagangan Global
Sri Mulyani juga menyoroti bahwa kebijakan tarif AS dapat meningkatkan biaya rantai pasokan, terutama di sektor manufaktur dan digital, yang akan dirasakan oleh negara-negara seperti Indonesia.
Dia juga menambahkan bahwa kebijakan tarif AS terhadap Kanada tidak hanya terkait dengan perdagangan, tetapi juga mencakup masalah imigrasi serta ancaman kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh peredaran opioid, khususnya fentanyl.
“Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan tarif AS tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga memiliki dimensi politik dan keamanan,” jelasnya.
Negara-negara lain seperti Jerman, Irlandia, Jepang, dan Korea Selatan juga mulai merasakan dampak dari kebijakan perdagangan AS. Uni Eropa bahkan telah mengumumkan langkah-langkah balasan terhadap AS, yang berpotensi memicu perang tarif yang lebih luas di masa depan.
“Negara-negara Uni Eropa telah mulai melakukan langkah-langkah balasan dan ini bisa memicu perang tarif yang lebih luas,” ujar Sri Mulyani, yang menekankan pentingnya untuk memantau perkembangan ini.
Dampak Ekonomi Bagi Indonesia
Sri Mulyani mengingatkan bahwa Indonesia dan negara-negara lain yang mengalami surplus perdagangan dengan AS perlu lebih waspada terhadap potensi dampak dari kebijakan tarif tersebut terhadap ekonomi domestik.
“Ini adalah sesuatu yang perlu kita teliti dengan hati-hati dan waspadai jika kebijakan tarif diberlakukan pada semua negara dengan surplus,” tambahnya.
Sebagai respons terhadap tekanan kebijakan perdagangan AS, negara-negara di luar blok ekonomi AS mulai mencari alternatif baru. Beberapa blok ekonomi seperti ASEAN dan BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) semakin diperhitungkan sebagai kekuatan ekonomi global yang lebih independen.
"Blok ekonomi alternatif seperti ASEAN dan BRICS semakin penting dan bisa berkembang menjadi pilihan yang lebih kuat di luar zona AS," kata Sri Mulyani.
Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kerjasama ekonomi dengan negara-negara dalam blok tersebut dan mengurangi ketergantungan terhadap AS.
“Selama ini kita menganggap bahwa hubungan yang baik akan memastikan kita aman, tetapi kenyataannya hubungan tersebut tidak lagi seaman dulu, bahkan dengan AS dan Kanada,” tutupnya.