Fakta Unik: Produksi Beras NTB Diprediksi Melonjak 16,65 Persen pada 2025, Pertanda Swasembada?
Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) memprediksi kenaikan signifikan pada produksi beras NTB tahun 2025, mencapai 965,64 ribu ton, yang patut dinantikan dampaknya bagi ketahanan pangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) mengumumkan proyeksi peningkatan produksi beras yang menggembirakan untuk tahun 2025. Prediksi ini menunjukkan kenaikan sebesar 16,65 persen, atau setara 173,86 ribu ton, dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya. Angka ini membawa harapan baru bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan di wilayah tersebut.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan bahwa total produksi beras pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 965,64 ribu ton. Peningkatan signifikan ini merupakan hasil dari berbagai intervensi kebijakan dan upaya optimalisasi lahan pertanian. Proyeksi ini diumumkan di Mataram pada Senin (04/11), menarik perhatian banyak pihak terkait.
Kenaikan produksi ini didorong oleh perluasan areal tanam padi yang masif, didukung oleh program optimalisasi lahan pertanian. Bantuan pompa air dari dinas terkait menjadi salah satu faktor kunci yang memungkinkan peningkatan frekuensi tanam padi, sehingga berkontribusi pada proyeksi positif ini.
Pendorong Kenaikan Produksi dan Luas Panen
Peningkatan produksi beras di NTB pada tahun 2025 tidak terlepas dari sejumlah faktor pendukung utama. Wahyudin menyebutkan bahwa penambahan luas panen padi diperkirakan mencapai 40,79 ribu hektare. Angka ini merupakan dampak langsung dari program optimalisasi lahan pertanian yang difasilitasi oleh pemerintah daerah.
Menurut Wahyudin, "Intervensi kebijakan tersebut menyebabkan terjadi perluasan areal tanam padi serta peningkatan frekuensi tanam padi." Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung sektor pertanian untuk mencapai target produksi yang lebih tinggi. Program ini juga mencakup penyediaan bantuan pupuk dan penggunaan varietas benih unggul.
Varietas benih unggul dan bantuan pupuk yang meningkat di beberapa wilayah NTB turut menyumbang pada peningkatan produktivitas padi. Kombinasi faktor-faktor ini secara sinergis mendorong proyeksi kenaikan produksi padi secara keseluruhan. Upaya ini diharapkan dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi kesejahteraan petani.
Luas panen padi tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 322,50 ribu hektare. Jumlah ini mengalami kenaikan signifikan sebesar 40,79 ribu hektare, atau 14,48 persen, dibandingkan luas panen padi pada tahun 2024 yang tercatat 281,72 ribu hektare. Data ini menegaskan keberhasilan program perluasan lahan yang telah dijalankan.
Proyeksi Gabah dan Peningkatan Lahan Baku Sawah
Selain produksi beras, BPS juga memprediksi kenaikan pada produksi padi dalam bentuk gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG). Pada tahun 2025, produksi GKP diperkirakan mencapai 2,04 juta ton, naik sebanyak 291,63 ribu ton atau 16,65 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 1,75 juta ton.
Untuk produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG), proyeksi menunjukkan angka 1,70 juta ton pada tahun 2025. Angka ini juga mengalami kenaikan sebesar 242,04 ribu ton atau 16,65 persen dibandingkan produksi tahun lalu yang mencapai 1,45 juta ton. Data ini menunjukkan konsistensi peningkatan di seluruh lini produksi padi.
BPS juga mencatat adanya peningkatan lahan baku sawah di NTB. Selama kurun waktu enam tahun, terjadi kenaikan seluas 2.799 hektare, dari 234.542 hektare pada tahun 2019 menjadi 237.341 hektare pada tahun 2024. Peningkatan ini merupakan indikator positif bagi keberlanjutan sektor pertanian.
Wahyudin menambahkan, "Dari perhitungan BPN (Badan Pertanahan Nasional), lahan baku sawah di NTB pada 2024 sekitar 237.341 hektare, jadi ada peningkatan jika dibandingkan pada tahun 2019 yang berkisar 234.542 hektare, sehingga NTB berada di peringkat ke sembilan nasional untuk lahan baku sawah." Posisi ini menempatkan NTB sebagai salah satu provinsi dengan lahan baku sawah terbesar secara nasional.
Sumber: AntaraNews