NTB Siapkan 2.695 Ton Benih Padi untuk Masa Tanam 2026, Surplus Bakal Disalurkan ke Daerah Lain

Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB melaporkan ketersediaan benih padi mencapai 2.695 ton untuk masa tanam 2026, melebihi kebutuhan dan siap disalurkan ke provinsi lain.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
NTB Siapkan 2.695 Ton Benih Padi untuk Masa Tanam 2026, Surplus Bakal Disalurkan ke Daerah Lain
Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB melaporkan ketersediaan benih padi mencapai 2.695 ton untuk masa tanam 2026, melebihi kebutuhan dan siap disalurkan ke provinsi lain. (AntaraNews)

Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah mengumumkan ketersediaan benih padi yang melimpah untuk masa tanam tahun 2026. Stok benih yang mencapai 2.695 ton ini diproyeksikan akan melebihi kebutuhan lokal. Kondisi ini menunjukkan kesiapan NTB dalam mendukung sektor pertanian.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Muhamad Riadi, menyatakan bahwa NTB saat ini berada dalam kondisi surplus benih padi. "Kebutuhan tahun 2026 diperkirakan mencapai 1.586 ton, sedangkan NTB memiliki estimasi stok benih sekitar 2.695 ton," ucapnya dalam pernyataan di Mataram, Minggu. Ini berarti ada kelebihan stok yang signifikan.

Surplus benih padi ini tidak hanya akan memenuhi kebutuhan internal NTB. Pemerintah daerah berencana menyalurkan sekitar 1.107 ton benih ke provinsi tetangga. Bali dan Nusa Tenggara Timur akan menjadi penerima manfaat dari kelebihan stok benih ini.

Ketersediaan benih padi yang melimpah di NTB sejalan dengan proyeksi peningkatan produksi padi. Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi gabah kering panen (GKP) NTB pada tahun 2025 akan mencapai 2,04 juta ton. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 16,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 1,75 juta ton.

Peningkatan produksi ini didorong oleh berbagai upaya optimalisasi lahan pertanian. Salah satu faktor utamanya adalah penambahan luas panen padi. Diperkirakan ada penambahan luas panen sebesar 40,79 ribu hektare.

Program optimalisasi lahan ini terlaksana berkat bantuan pompa air yang disediakan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan. Inisiatif ini memungkinkan petani untuk mengelola lahan dengan lebih efisien. Hasilnya, produktivitas lahan dapat ditingkatkan secara substansial.

Selain GKP, produksi gabah kering giling (GKG) juga diperkirakan meningkat. Pada tahun 2025, produksi GKG diproyeksikan mencapai 1,70 juta ton. Kenaikan ini juga sebesar 16,65 persen dari tahun sebelumnya, yang menunjukkan tren positif dalam sektor pertanian NTB.

Muhamad Riadi berharap tren positif ini dapat terus berlanjut di masa mendatang. Hal ini penting agar Nusa Tenggara Barat mampu mempertahankan predikatnya sebagai daerah swasembada padi. Kontribusi NTB sangat vital dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Data BPS juga menunjukkan adanya perluasan lahan baku sawah di NTB. Selama enam tahun terakhir, luas lahan baku sawah bertambah sekitar 2.799 hektare. Ini merupakan peningkatan dari 234.542 hektare pada tahun 2019 menjadi 237.341 hektare pada tahun 2024.

Perluasan lahan ini menjadi indikator komitmen NTB dalam mendukung produksi pangan. Dengan lahan yang semakin luas dan didukung ketersediaan benih padi yang cukup, potensi pertanian di NTB semakin besar. Ini memperkuat posisi NTB sebagai lumbung pangan.

Upaya pemerintah daerah dalam menyediakan benih padi dan mengoptimalkan lahan menunjukkan strategi jangka panjang. Tujuannya adalah untuk memastikan keberlanjutan pasokan pangan. Langkah-langkah ini juga mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi