Dampak Hunian Hotel Singkat di NTB: Ancaman Jangka Panjang bagi Ekonomi dan Pariwisata Daerah
Durasi hunian hotel yang singkat di Nusa Tenggara Barat (NTB) menimbulkan dampak serius bagi ekonomi dan keberlanjutan pariwisata. Apa saja ancaman jangka panjang dari tren ini dan bagaimana mengatasinya?
Dampak Hunian Hotel Singkat di NTB: Ancaman Jangka Panjang bagi Ekonomi dan Pariwisata Daerah
Mataram, 06/1 (ANTARA) - Durasi hunian kamar hotel yang singkat di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi perhatian serius bagi keberlanjutan ekonomi daerah. Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram, Zefanya Andryan Girsang, mengingatkan bahwa fenomena ini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan terhadap industri pariwisata NTB.
Kondisi ini secara langsung memengaruhi pendapatan rata-rata per wisatawan, yang pada gilirannya menekan kinerja finansial hotel serta pelaku usaha pariwisata lainnya. Penurunan pendapatan ini berpotensi memicu penutupan usaha, terutama bagi pelaku skala kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan finansial.
Selain itu, dampak dari hunian hotel singkat ini juga meluas pada stabilitas ketenagakerjaan di sektor pariwisata. Risiko seperti pengurangan jam kerja, pemutusan hubungan kerja, hingga penurunan kualitas layanan menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi oleh daerah.
Penurunan Pendapatan dan Kinerja Finansial Hotel Akibat Hunian Hotel Singkat
Zefanya Andryan Girsang menjelaskan bahwa length of stay yang pendek secara langsung berkorelasi dengan penurunan pendapatan rata-rata per wisatawan. Situasi ini memberikan tekanan besar pada kinerja finansial hotel dan seluruh pelaku usaha pariwisata di NTB.
Dampak hunian hotel singkat ini tidak hanya dirasakan oleh hotel-hotel besar, tetapi juga sangat memukul usaha skala kecil dan menengah. Dengan daya tahan finansial yang terbatas, mereka lebih rentan terhadap risiko penutupan usaha jika pendapatan terus menurun secara signifikan.
Pariwisata merupakan tulang punggung ekonomi NTB, sehingga setiap penurunan pendapatan di sektor ini akan memiliki efek domino. Kesejahteraan masyarakat lokal yang bergantung pada pariwisata juga akan terancam oleh kondisi ini. Memahami dampak hunian hotel singkat ini menjadi krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Ancaman Ketenagakerjaan dan Minat Investor di Sektor Pariwisata NTB
Penurunan pendapatan yang diakibatkan oleh durasi hunian hotel singkat berdampak langsung pada stabilitas ketenagakerjaan di sektor pariwisata. Risiko seperti pengurangan jam kerja, pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga penurunan kualitas layanan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Lebih jauh, Zefanya juga menyoroti potensi penurunan minat investor untuk menanamkan modal di wilayah Nusa Tenggara Barat. Ketika prospek pertumbuhan industri pariwisata terlihat stagnan dan berisiko tinggi, investor cenderung menahan atau mengalihkan modal ke sektor lain.
Kondisi ini pada akhirnya menghambat inovasi, pengembangan fasilitas baru, serta daya saing destinasi NTB di tingkat nasional maupun internasional. Tanpa investasi baru, potensi pariwisata NTB akan sulit berkembang dan bersaing dengan destinasi lain yang lebih menarik bagi investor.
Data Statistik dan Rekomendasi untuk Peningkatan Lama Menginap Wisatawan
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTB menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga November 2025, total jumlah tamu hotel yang menginap di Nusa Tenggara Barat mencapai 2,42 juta orang. Angka ini terdiri dari 1,3 juta tamu domestik dan 1,12 juta tamu mancanegara.
Namun, rata-rata lama menginap tamu hotel non-bintang hanya selama 1,59 hari pada November 2025, mengalami penurunan 0,06 hari dari bulan sebelumnya. Sementara itu, tamu hotel bintang tercatat menginap selama 1,85 hari pada periode yang sama, turun 0,02 hari dibandingkan Oktober 2025.
Menanggapi data ini, Kepala BPS NTB Wahyudin menyarankan pemerintah dan pihak terkait untuk memperbanyak pertunjukan atraksi budaya. Tujuannya adalah agar para tamu semakin lama menginap di hotel-hotel yang tersebar di wilayah Nusa Tenggara Barat, sehingga dapat meningkatkan pendapatan pariwisata.
Upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, pelaku industri, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan pengalaman berwisata yang lebih kaya dan beragam. Dengan demikian, wisatawan akan memiliki alasan kuat untuk memperpanjang durasi hunian mereka di NTB dan menikmati lebih banyak daya tarik lokal.
Sumber: AntaraNews