DPRD Apresiasi Lonjakan Pertumbuhan Ekonomi NTB 13,64 Persen di Triwulan I 2026
Nusa Tenggara Barat mencatat lonjakan pertumbuhan ekonomi sebesar 13,64 persen pada Triwulan I 2026, menempatkannya di posisi kedua nasional. DPRD mengapresiasi kinerja Pemprov NTB dalam mendorong Pertumbuhan Ekonomi NTB yang signifikan ini.
Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang impresif pada triwulan I tahun 2026. Angka pertumbuhan mencapai 13,64 persen secara tahunan (year-on-year), menunjukkan kinerja positif daerah.
Pencapaian ini mendapat apresiasi tinggi dari Komisi III Bidang Keuangan dan Perbankan DPRD NTB. Gubernur Lalu Muhamad Iqbal beserta jajaran dinilai telah melakukan berbagai ikhtiar strategis.
Ketua Komisi III DPRD NTB, Sambirang Ahmadi, menyampaikan penghargaan atas stabilitas pembangunan daerah. Kebangkitan ekonomi di tengah tantangan global dan nasional menjadi fokus utama.
Pendorong Utama Kenaikan Ekonomi NTB
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, pertumbuhan ekonomi 13,64 persen ini didorong oleh beberapa sektor. Sektor pertambangan dan penggalian menjadi penopang utama dengan kontribusi 4,56 persen.
Selain itu, sektor industri pengolahan juga memberikan sumbangan signifikan sebesar 2,97 persen terhadap pertumbuhan. Sektor perdagangan dan pertanian turut berkontribusi masing-masing 1,79 persen dan 1,48 persen.
Secara struktur ekonomi daerah, sektor pertanian menyumbang sekitar 22,23 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB. Sektor pertambangan dan penggalian berkontribusi 19,71 persen, diikuti perdagangan 14,10 persen, dan industri pengolahan 10,31 persen.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang pesat ini didorong oleh peningkatan aktivitas produksi pada seluruh lapangan usaha. Terutama pada industri pengolahan, pertambangan, dan jasa keuangan.
Kinerja industri pengolahan mengalami pertumbuhan paling signifikan, mencapai 60,25 persen secara tahunan. Peningkatan ini seiring dengan beroperasinya fasilitas pemurnian mineral atau smelter di daerah tersebut.
Produksi smelter menghasilkan tembaga, perak, asam sulfat, hingga emas, yang secara langsung mendorong kenaikan nilai tambah industri pengolahan. Hal ini menjadikannya penggerak utama Pertumbuhan Ekonomi NTB pada triwulan I 2026.
Strategi Penguatan Fiskal Daerah dan Posisi Nasional
Sambirang Ahmadi menekankan bahwa angka pertumbuhan ini menunjukkan momentum penting bagi NTB. Daerah ini sedang dalam proses transformasi sektor-sektor produktif.
Untuk memperkuat momentum ini, perubahan Peraturan Daerah (Perda) tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menjadi sangat relevan dan strategis. Perubahan ini berfungsi sebagai instrumen untuk memperkuat kapasitas fiskal daerah.
Simulasi dan proyeksi dari Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) NTB menunjukkan potensi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari perubahan Perda. Peningkatan ini diperkirakan mencapai sekitar Rp182,84 miliar.
Peningkatan PAD ini sangat berarti untuk memperkuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), serta meningkatkan kapasitas pembangunan. Ini juga akan memperbaiki kualitas pelayanan publik dan memperbesar ruang fiskal daerah ke depan.
Secara nasional, pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 13,64 persen menempatkan provinsi ini pada posisi kedua. NTB menjadi daerah dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi secara nasional, setelah Maluku Utara.
Pencapaian ini menunjukkan efektivitas langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah daerah. Ini juga menjadi indikator keberhasilan dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah berbagai tantangan.
Sumber: AntaraNews