Libur Lebaran 2025, Tingkat Hunian Hotel di Yogyakarta Turun Drastis
Untuk periode 1-6 April 2025, angka reservasi hotel di Yogyakarta baru mencapai 40 persen, jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Libur Lebaran biasanya menjadi momen emas bagi pengusaha hotel di Yogyakarta, dengan tingkat okupansi yang selalu tinggi. Namun, tahun ini kondisinya berbeda. Okupansi hotel di Yogyakarta mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengungkapkan bahwa berdasarkan data reservasi periode 28 Maret hingga 1 April 2025, tingkat hunian hotel baru mencapai 20 persen. Padahal, pada H-7 Lebaran di tahun-tahun sebelumnya, angka reservasi sudah di atas 40 persen.
Untuk periode 1-6 April 2025, angka reservasi hotel di Yogyakarta baru mencapai 40 persen, jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai 70 persen.
"Memang ada tren penurunan jika melihat data reservasi yang masuk. Tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Deddy, Jumat (28/3).
Faktor Penyebab Penurunan Okupansi Hotel
Deddy menilai ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya okupansi hotel selama libur Lebaran 2025. Salah satunya adalah kelesuan ekonomi, yang membuat daya beli masyarakat menurun.
"Situasi ekonomi mempengaruhi daya beli masyarakat. Saat Lebaran, masyarakat lebih memilih pulang ke rumah orang tua atau saudara daripada menginap di hotel," jelasnya.
Selain itu, Deddy juga menyoroti dampak dari kebijakan pemangkasan anggaran pemerintah, yang turut mempengaruhi industri perhotelan dan restoran di Yogyakarta.
Hotel dan Restoran Terpaksa Lakukan Efisiensi
Sepinya tamu hotel membuat pengusaha harus berjuang keras untuk bertahan. Efisiensi operasional menjadi langkah yang tak terhindarkan bagi pelaku usaha di sektor ini.
"Hotel dan restoran saat ini harus berusaha keras menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran. Meski ini musim liburan, mereka tidak bisa mengambil risiko besar karena biaya operasional tetap tinggi setiap bulannya," ungkap Deddy.
Dampak dari kondisi ini juga mulai terasa pada tenaga kerja di sektor perhotelan. Menurut Deddy, sejak awal Maret setidaknya 12 hotel dan restoran di Yogyakarta sudah mengurangi jam kerja karyawan. Namun, dalam dua pekan terakhir, jumlahnya meningkat drastis menjadi 45 hotel dan restoran yang melaporkan kebijakan serupa kepada asosiasi.
"Mengurangi jam kerja adalah pilihan paling bijak dibandingkan melakukan PHK. Namun, jika kondisi ini terus berlanjut dalam tiga bulan ke depan, kemungkinan kebijakan PHK akan diambil," kata Deddy.