Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mencatat tingkat hunian hotel rata-rata mencapai 70 persen pada akhir tahun 2025. Angka ini dilaporkan oleh Asosiasi Hotel Mataram (AHM) dan terjadi hingga periode 25-28 Desember 2025. Ketua AHM, I Made Adiyasa, menyatakan bahwa okupansi diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan signifikan lagi karena sebagian besar pegawai telah kembali bekerja setelah libur akhir tahun.
Pencapaian 70 persen ini menunjukkan adanya penurunan jika dibandingkan dengan periode akhir tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, okupansi hotel di Kota Mataram tercatat lebih tinggi, bahkan melebihi 75 persen, yang turut memicu kenaikan harga kamar. Kondisi berbeda terjadi tahun ini, di mana harga kamar masih relatif normal dengan ketersediaan kamar yang cukup banyak.
I Made Adiyasa menambahkan bahwa penurunan tingkat hunian ini menjadi perhatian serius bagi pelaku industri perhotelan di Mataram. Berbagai faktor disinyalir menjadi penyebab utama, mulai dari daya beli masyarakat yang melemah hingga kurangnya dukungan promosi dari pemerintah daerah. Situasi ini mendorong perlunya evaluasi dan strategi baru untuk meningkatkan kembali gairah pariwisata lokal.
Advertisement
Advertisement
Okupansi Hotel Mataram Menurun Dibanding Tahun Sebelumnya
Asosiasi Hotel Mataram (AHM) mengungkapkan bahwa tingkat okupansi hotel di Kota Mataram pada akhir tahun 2025 hanya mencapai puncaknya di angka 70 persen. Angka ini tercatat pada periode sibuk libur akhir tahun, yaitu antara tanggal 25 hingga 28 Desember. Menurut I Made Adiyasa, Ketua AHM, okupansi tersebut cenderung "mentok" pada angka tersebut karena masyarakat mulai kembali beraktivitas dan masuk kerja.
Perbandingan dengan tahun 2024 menunjukkan adanya tren penurunan yang signifikan. Pada akhir tahun sebelumnya, okupansi hotel di Mataram mampu menembus angka di atas 75 persen, bahkan menyebabkan lonjakan harga kamar. Namun, pada akhir tahun 2025 ini, kondisi pasar perhotelan di Mataram cenderung lebih stabil dengan harga normal dan ketersediaan kamar yang masih banyak.
Fenomena penurunan okupansi ini menjadi indikator penting bagi industri pariwisata lokal. Meskipun Mataram memiliki potensi wisata yang besar, daya tarik untuk menginap di hotel belum sepenuhnya pulih. Hal ini memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak terkait untuk mengidentifikasi akar masalah dan mencari solusi yang efektif.
Advertisement
Advertisement
Faktor Penyebab Rendahnya Tingkat Hunian Hotel
Salah satu faktor utama yang disoroti oleh AHM terkait penurunan okupansi hotel adalah rendahnya daya beli masyarakat. Hal ini terlihat dari dominasi tamu yang menginap, yang sebagian besar merupakan warga lokal. I Made Adiyasa menduga bahwa masyarakat melakukan rasionalisasi anggaran liburan mereka, sehingga cenderung mengurangi pengeluaran untuk akomodasi.
Selain itu, minimnya event atau acara yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah juga disebut sebagai penyebab kurangnya okupansi. Promosi yang dilakukan sejauh ini masih didominasi oleh inisiatif dari pelaku perhotelan sendiri, tanpa dukungan yang memadai dari pemerintah. Kurangnya sosialisasi digital dan promosi terpadu dari pihak pemerintah menjadi kendala dalam menarik wisatawan.
Keterbatasan anggaran pemerintah daerah juga diakui menjadi salah satu tantangan dalam menggelar event dan promosi. Meskipun demikian, AHM menekankan pentingnya kolaborasi antara industri perhotelan dengan pemerintah. Tanpa sinergi yang kuat, upaya untuk meningkatkan okupansi hotel dan daya tarik pariwisata Mataram akan sulit tercapai secara optimal.
Advertisement
Advertisement
Tren Wisata Lokal dan Pentingnya Kolaborasi Industri-Pemerintah
Penurunan okupansi hotel pada akhir tahun 2025 tidak hanya terjadi di Kota Mataram, melainkan juga di daerah-daerah wisata lainnya. Masyarakat cenderung lebih memilih destinasi wisata lokal di daerah masing-masing. Sebagai contoh, warga yang berada di Pulau Jawa lebih banyak berwisata di Pulau Jawa saja dan tidak melakukan perjalanan ke luar daerah.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran perilaku wisatawan yang lebih mengutamakan efisiensi dan kedekatan lokasi. Oleh karena itu, strategi promosi dan pengembangan pariwisata perlu disesuaikan dengan tren ini. Pemerintah daerah diharapkan dapat lebih proaktif dalam menciptakan event-event menarik yang mampu menggaet wisatawan lokal maupun dari daerah sekitar.
Kolaborasi yang erat antara industri perhotelan dan pemerintah menjadi kunci untuk mengatasi tantangan ini. Pemerintah dapat berperan dalam menyediakan dukungan promosi, infrastruktur, dan regulasi yang mendukung, sementara pelaku industri dapat berinovasi dalam menawarkan paket-paket menarik. Sinergi ini diharapkan mampu mengembalikan gairah pariwisata dan meningkatkan okupansi hotel di Mataram di masa mendatang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews