Data BPS: Freeport Indonesia Masih Jadi Penopang Utama Ekonomi Mimika
Dari sisi proporsi, kontribusi sektor tambang terhadap total PDRB juga mengalami peningkatan, dari 12,35 persen pada 2024 menjadi 14,51 persen pada 2025.
PT Freeport Indonesia (PTFI), bagian dari Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, masih menjadi salah satu fondasi utama perekonomian di Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Mimika.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) daerah, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Mimika pada 2025 tercatat sebesar Rp131,07 triliun. Struktur ekonomi daerah tersebut masih didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian, dengan nilai kontribusi mencapai Rp114,48 triliun.
Dari sisi proporsi, kontribusi sektor tambang terhadap total PDRB juga mengalami peningkatan, dari 12,35 persen pada 2024 menjadi 14,51 persen pada 2025.
Dalam hal penerimaan negara, pada 2025 PTFI mencatat kontribusi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar 4 persen atau sekitar 112,4 juta dolar AS, serta kontribusi untuk pemerintah daerah sebesar 6 persen atau 168,6 juta dolar AS. Total kontribusi langsung tersebut mencapai sekitar 281 juta dolar AS atau setara Rp4,5 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS). Selain itu, kontribusi royalti tercatat sebesar 345,8 juta dolar AS atau sekitar Rp5,9 triliun.
Dari aspek ketenagakerjaan, total ekosistem tenaga kerja PTFI pada 2025 mencapai sekitar 34.000 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 6.630 karyawan langsung dan 27.707 tenaga kerja kontraktor, yang sebagian besar terserap di wilayah operasional Papua serta fasilitas hilirisasi seperti smelter dan Precious Metals Refinery (PMR) di Gresik.
Selain kontribusi langsung, aktivitas PTFI juga memberikan efek berganda (multiplier effect) melalui rantai pasok serta kegiatan ekonomi turunan lainnya.
Di bidang sosial, perusahaan mencatat belanja program pengembangan masyarakat sebesar 86,2 juta dolar AS pada 2025. Program tersebut difokuskan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hasiman, menilai kontribusi PTFI dalam beberapa tahun terakhir semakin signifikan, terutama setelah proses divestasi yang membuat kepemilikan Indonesia mencapai 51 persen.
"Kontribusi Freeport untuk negara itu besar sekali, baik dari dividen maupun pajak. Sekarang juga terus berekspansi hingga ke hilirisasi, sehingga tidak hanya kontribusi fiskalnya besar, tapi juga potensi serapan tenaga kerja," ujar Ferdy.
Ia menambahkan bahwa keberadaan PTFI menjadikan Papua sebagai salah satu kontributor penting bagi perekonomian nasional, khususnya melalui komoditas strategis seperti emas dan tembaga.
"Tembaga itu penting untuk industri, termasuk ekosistem baterai kendaraan listrik. Ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global," ujarnya.
Ferdy juga menyoroti transformasi operasional PTFI dari tambang terbuka (open pit) ke tambang bawah tanah (underground) sebagai capaian signifikan dengan standar internasional dan nilai investasi besar.
"Investasinya sangat besar, bisa mencapai 15 miliar dolar AS sampai 20 miliar dolar AS. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang perusahaan di Indonesia," kata dia.
Menurutnya, kontribusi PTFI terhadap perekonomian daerah, khususnya Mimika, tetap dominan, termasuk melalui kepemilikan saham daerah sebesar 10 persen yang memberikan tambahan dividen bagi pemerintah daerah.
Transparansi Pengelolaan
Namun demikian, ia menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana tersebut.
"Freeport sudah berkontribusi besar untuk negara dan daerah. Harapannya, dana itu benar-benar digunakan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan masyarakat Papua," ujarnya.
Kontribusi Pembangunan Nasional
Ia juga menilai PTFI telah berkontribusi dalam pembangunan sosial melalui penyediaan fasilitas seperti rumah sakit dan infrastruktur olahraga di Mimika, serta mendorong transfer pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat lokal.
Ke depan, Pemerintah Provinsi Papua Tengah menargetkan pendapatan daerah dalam APBD 2026 sebesar Rp2,43 triliun. Dengan kontribusi yang besar terhadap struktur ekonomi dan fiskal daerah, PTFI diproyeksikan tetap menjadi salah satu kontributor utama dalam mendukung pencapaian target tersebut.