KEK Gresik Diperkuat Proyek Hilirisasi, Emil Dardak: Dorong Kemandirian dan Daya Saing Global
Proyek tersebut merupakan bagian dari 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II yang diinisiasi BPI Danantara, dengan melibatkan kolaborasi sejumlah BUMN.
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat hilirisasi terintegrasi berdaya saing global di Asia Tenggara. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) dua proyek strategis sektor mineral, yakni fasilitas produksi brass mill dan brass cup serta pabrik manufaktur emas logam mulia, Rabu (29/4).
Proyek tersebut merupakan bagian dari 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II yang diinisiasi BPI Danantara, dengan melibatkan kolaborasi sejumlah BUMN, antara lain MIND ID, DEFEND ID, dan Pelindo.
Dalam skemanya, katoda tembaga dari smelter akan diolah menjadi brass cup dan brass mill dengan kapasitas 10.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan amunisi nasional. Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) akan mengolah hasil pemurnian logam menjadi emas batangan (bullion) guna memperkuat rantai pasok logam mulia domestik.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa pengembangan industri derivatif di Gresik merupakan langkah konkret dalam mewujudkan kedaulatan ekonomi daerah sekaligus memperkuat struktur ekonomi nasional.
"Definisi maju tentu adalah kemampuan kita mengembangkan industri strategis yang membuat bangsa ini menjadi berdikari. Prasyarat untuk mewujudkan hal tersebut adalah adanya ekosistem yang mumpuni. Itulah sebabnya Jawa Timur ingin menjadi bagian penting dari rantai nilai (value chain) industri nasional," ujar Emil.
Ia menjelaskan, hilirisasi di KEK Gresik kini telah berkembang hingga tahap produk turunan tingkat dua dan tiga. Katoda tembaga yang sebelumnya hanya menjadi bahan mentah, kini diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti copper rod, copper foil, hingga brass cup.
"Kita sudah bergeser ke arah industri derivatif. Katoda tembaga yang dihasilkan smelter kini diolah menjadi brass cup oleh Pindad untuk kebutuhan amunisi. Jadi, peluru yang biasanya diimpor untuk kebutuhan TNI, ke depan akan diproduksi di dalam negeri menggunakan bahan baku lokal," tuturnya.
Kehadiran fasilitas brass mill ini diproyeksikan mampu menekan impor komponen amunisi TNI secara signifikan sekaligus memperkuat kemandirian sektor pertahanan melalui integrasi produksi dalam satu kawasan.
Secara sosial-ekonomi, proyek terintegrasi ini diperkirakan menyerap hingga 7.000 tenaga kerja terampil. Keberhasilan tersebut didukung sinergi lintas BUMN, mulai dari PT Freeport Indonesia sebagai pemasok bahan baku, PT Pindad, PT Antam, hingga PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) melalui PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) sebagai penyedia infrastruktur pelabuhan.
Hilirisasi Global
Untuk mendukung transformasi KEK Gresik sebagai pusat hilirisasi global, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat efisiensi logistik melalui peningkatan infrastruktur, termasuk pelebaran akses jalan tol dan pembenahan jembatan di sekitar kawasan.
"KEK Gresik bukan lagi single commodity, melainkan multi-commodity hub. Dengan dukungan infrastruktur dari Pelindo dan ekosistem industri yang sudah 'nyambung', kawasan ini akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang menyerap ribuan tenaga kerja terampil," tambah Emil.
Kawsan Aglomerasi
Dari sisi makroekonomi, posisi KEK Gresik di kawasan aglomerasi Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan) dinilai memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
"Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di kawasan Gerbangkertosusila mencapai hampir separuh dari perekonomian Jawa Timur. Mengingat Jawa Timur menyumbang seperenam ekonomi nasional, maka perputaran ekonomi di aglomerasi ini saja mencakup hampir 10 persen dari total ekonomi Indonesia. Ini adalah keunggulan kompetitif yang harus kita jaga," tegasnya.