PNBP Minerba Capai Rp56 Triliun, Smelter Hilirisasi Dorong Penguatan Industri Mineral
Penguatan penerimaan tersebut ditopang oleh beroperasinya sejumlah proyek smelter dalam ekosistem MIND ID yang menjadi bagian dari program hilirisasi mineral.
Program hilirisasi mineral mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM mencatat realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor minerba pada Januari–April 2026 mencapai Rp48,95 triliun. Hingga 15 Mei 2026, nilainya meningkat menjadi sekitar Rp56 triliun atau tumbuh 6,21 persen secara tahunan.
Penguatan penerimaan tersebut ditopang oleh beroperasinya sejumlah proyek smelter dalam ekosistem MIND ID yang menjadi bagian dari program hilirisasi mineral nasional.
Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan terdapat tiga proyek smelter yang telah selesai dan mulai beroperasi, yakni smelter milik PT Aneka Tambang Tbk di Pomalaa, PT Vale Indonesia Tbk di Sulawesi, serta smelter tembaga PT Freeport Indonesia di JIIPE Gresik.
"Khusus untuk smelter tembaga PT Freeport di JIIPE Gresik, kehadirannya menjadi salah satu tonggak penting untuk memperkuat kapasitas pemurnian konsentrat tembaga dalam negeri," ujar Tri dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI.
Secara keseluruhan, pemerintah mencatat terdapat 14 smelter terintegrasi dalam program hilirisasi mineral nasional, terdiri atas enam smelter nikel, enam smelter bauksit, satu smelter tembaga, dan satu smelter besi.
Dari total tersebut, lima smelter telah selesai dibangun dan sembilan lainnya masih dalam proses penyelesaian dengan total realisasi investasi mencapai 7,8 miliar dolar AS.
Kapasitas industri pengolahan yang terbentuk dinilai cukup besar. Smelter nikel terintegrasi memiliki kapasitas input 24,9 juta ton per tahun dengan output mencapai 924.780 ton per tahun.
Sementara itu, smelter tembaga memiliki kapasitas input dua juta ton per tahun dengan output 460 ribu ton katoda per tahun. Adapun smelter bauksit mampu mengolah input 19,6 juta ton per tahun dengan output alumina sebesar 7,4 juta ton per tahun.
"Angka tersebut menunjukkan bahwa basis industri pengolahan mineral mulai terbentuk," ujar Tri.
Pemerintah menegaskan hilirisasi tidak hanya diukur dari pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga kesiapan operasional dan keberlanjutan industri.
"Pemerintah tidak hanya melihat hilirisasi dari pembangunan fisik semata, tapi juga dari kesiapan operasi, kesinambungan bahan baku, pemenuhan lingkungan serta kepatuhan terhadap ketentuan perizinan," katanya.