Kinerja BUMA International Group Melejit di Kuartal I 2026, Lampaui Tantangan Operasional
PT BUMA International Group Tbk menunjukkan peningkatan signifikan dalam Kinerja BUMA International Group di Kuartal I 2026, mengatasi tantangan operasional sebelumnya dan membukukan perbaikan struktural yang menjanjikan.
PT BUMA International Group Tbk (BUMA) berhasil mencatatkan peningkatan kinerja yang signifikan pada kuartal pertama tahun 2026, yang berakhir pada 31 Maret. Peningkatan ini menjadi cerminan nyata dari pemulihan berkelanjutan setelah menghadapi berbagai tantangan operasional pada kuartal yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan menunjukkan ketahanan dan kemampuan adaptasi yang kuat di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, menjelaskan bahwa capaian positif ini didukung oleh serangkaian perbaikan struktural yang komprehensif. Fokus utama perusahaan terletak pada peningkatan produktivitas, efisiensi biaya unit, serta penerapan disiplin operasional yang ketat di seluruh lini bisnis. Strategi ini terbukti efektif dalam mendorong pertumbuhan.
Lebih lanjut, Iwan Fuad Salim menegaskan bahwa kinerja Kuartal I 2026 membuktikan keberlanjutan pemulihan yang telah dibangun sepanjang tahun 2025. Meskipun kuartal pertama secara musiman seringkali penuh tantangan, BUMA mampu menunjukkan performa yang solid, mengindikasikan fondasi operasional yang semakin kuat.
Perbaikan Operasional dan Efisiensi Biaya Unit
Perbaikan operasional yang dicapai pada Kuartal I 2026 merupakan kelanjutan dari tren positif yang telah dibangun sepanjang tahun 2025. Di operasional Indonesia, jam nonproduktif berhasil ditekan hingga 14 persen. Penurunan ini didorong oleh penanganan yang efektif terhadap kondisi licin akibat hujan, serta hambatan pada area disposal, jalan angkut, dan kondisi geologi yang seringkali menjadi kendala.
Produktivitas bank cubic meter (BCM) per jam juga menunjukkan peningkatan sebesar 1 persen secara tahunan (YoY), sejalan dengan penurunan cycle time sebesar 1 persen YoY. Capaian ini didukung oleh kondisi jalan angkut yang lebih baik serta berkurangnya waktu antre, yang secara kolektif meningkatkan efisiensi operasional.
Dari sisi biaya, biaya unit per BCM berhasil diturunkan 1 persen YoY, mencerminkan disiplin biaya yang tetap terjaga dengan baik. Biaya tenaga kerja per BCM juga turun 4 persen YoY, berkat disiplin sif yang berkelanjutan dan penempatan operator yang lebih efisien, dengan rasio operator terhadap peralatan turun 3 persen YoY.
Meskipun biaya bahan bakar per BCM naik 3 persen YoY, hal ini sepenuhnya disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar di pasar. Konsumsi bahan bakar per BCM tetap stabil, membuktikan efisiensi armada yang konsisten. Sementara itu, biaya perbaikan dan pemeliharaan per BCM naik 13 persen YoY, sebagai langkah terencana untuk percepatan aktivitas pemeliharaan guna memaksimalkan kesiapan peralatan menghadapi periode operasional yang lebih kering pada kuartal kedua dan ketiga.
Peningkatan Volume Produksi dan Tantangan Kontrak
Melihat perkembangan setelah kuartal pertama, pemulihan operasional BUMA International Group berlanjut hingga April, tercermin dalam peningkatan volume yang signifikan. Peningkatan ini didukung oleh eksekusi yang lebih solid di lapangan dan kondisi cuaca yang mulai membaik, menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk operasi penambangan.
Volume bulanan pengupasan lapisan tanah penutup gabungan di Indonesia dan Australia menunjukkan tren kenaikan yang positif, dari 26,4 juta bank cubic meter (MBCM) pada Februari menjadi 30,4 MBCM pada Maret, dan mencapai 34,3 MBCM pada April.
Produksi batu bara juga mencapai 5,9 juta ton (MT) pada April, yang merupakan peningkatan sekitar 16 persen dan 22 persen di atas rata-rata bulanan Kuartal I 2026. Data ini menggarisbawahi kemampuan perusahaan untuk meningkatkan output produksi secara substansial.
Namun, volume overburden removal secara keseluruhan turun 12 persen YoY menjadi 89 juta MBCM, dan produksi batu bara turun 20 persen YoY menjadi 15 juta ton (MT). Penurunan volume ini terutama mencerminkan berakhirnya kontrak di situs Binungan di Indonesia dan situs Burton di Australia, serta ramp-down di dua situs Indonesia pada tahun 2025. Situs yang beroperasi normal tetap menunjukkan stabilitas kinerja.
Kinerja Keuangan yang Membaik
Pendapatan BUMA International Group tercatat sebesar 318 juta dolar AS, turun 10 persen YoY, sejalan dengan portofolio aktif yang lebih kecil akibat berakhirnya beberapa kontrak. Meskipun demikian, Average Selling Price (ASP) bisnis kontraktor pertambangan naik 3 persen YoY. Kenaikan ini didukung oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi serta kenaikan tarif berjenjang yang terkait dengan harga batu bara.
EBITDA perusahaan melonjak 98 persen YoY menjadi 28 juta dolar AS, dari 14 juta dolar AS pada Kuartal I 2025. Peningkatan ini juga diikuti oleh kenaikan margin EBITDA menjadi 11 persen dari 5 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan efisiensi operasional yang lebih baik.
Perusahaan mencatat rugi bersih sebesar 24 juta dolar AS, yang merupakan perbaikan signifikan dibandingkan rugi bersih sebesar 70 juta dolar AS pada Kuartal I 2025. Perbaikan sebesar 66 persen YoY ini mencerminkan pemulihan EBITDA serta dukungan dari tiga faktor non-operasional.
Faktor-faktor non-operasional tersebut meliputi keuntungan sebesar 12 juta dolar AS dari optimisasi portofolio ACG yang masih berjalan melalui penjualan aset lahan, penurunan kerugian investasi dari 29 Metals sebesar 12 juta dolar AS, serta tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia sebesar 4 juta dolar AS yang dicatat pada Kuartal I 2025. Belanja modal tercatat sebesar 20 juta dolar AS, dialokasikan untuk menjaga keandalan armada dan keberlanjutan operasional. Arus kas bebas (free cash flow) berbalik positif menjadi 2 juta dolar AS, dibandingkan dengan negatif 19 juta dolar AS pada Kuartal I 2025.
Sumber: AntaraNews