Pendapatan BUMA Anjlok 16%, Simak Biangkeroknya
Tekanan pada kinerja keuangan ini terutama dipicu oleh penurunan volume operasional akibat berbagai gangguan di awal tahun.
PT BUMA Internasional Grup Tbk (IDX: DOID) mencatat penurunan pendapatan signifikan sepanjang tahun buku 2025. Tekanan pada kinerja keuangan ini terutama dipicu oleh penurunan volume operasional akibat berbagai gangguan di awal tahun.
Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, menyampaikan dalam laporan keuangan konsolidasi yang telah diaudit, pendapatan Grup tercatat sebesar USD 1,48 miliar atau turun 16% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Penurunan ini terjadi di tengah kondisi operasional yang menantang, mulai dari cuaca buruk hingga penyelesaian sejumlah kontrak tambang.
Adapun penurunan pendapatan BUMA sejalan dengan melemahnya kinerja operasional sepanjang 2025. Volume overburden removal tercatat turun 19% YoY menjadi 439 juta bank cubic meters (MBCM), sementara produksi batu bara turun 6% menjadi 84 juta ton.
"Kinerja FY2025 Terdampak oleh Gangguan di Awal Tahun Volume overburden removal turun 19% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 439 juta bank cubic meters (MBCM), sementara produksi batu bara turun 6% menjadi 84 juta ton (MT)," kata Iwan dikutip dari Keterbukaan Informasi BEI, Sabtu (28/3/2026).
Penurunan ini mencerminkan dampak gangguan operasional yang terjadi pada kuartal pertama, ditambah kendala cuaca yang menghambat aktivitas tambang.
"Mencerminkan gangguan pada kuartal pertama, kendala cuaca, serta kontribusi yang lebih rendah dari site yang mengalami ramp-down dan yang telah selesai beroperasi," ujarnya.
Selain itu, kontribusi dari sejumlah site juga berkurang seiring proses ramp-down dan berakhirnya kontrak di Indonesia dan Australia. Di sisi lain, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) kontraktor tambang relatif stabil, hanya turun tipis 1% YoY.
"Pendapatan turun 16% YoY menjadi USD 1,48 miliar, terutama disebabkan oleh penurunan volume, sementara Average Selling Price (ASP) kontraktor tambang relatif stabil (-1% YoY), didukung oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi," ujarnya.
Tekanan Kinerja Keuangan
Turunnya pendapatan turut berdampak pada kinerja profitabilitas Grup. EBITDA tercatat sebesar USD 175 juta dengan margin 14%, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya akibat volume yang menurun, kenaikan biaya bahan bakar, serta tingginya biaya pesangon.
Jika tidak memperhitungkan biaya pesangon, EBITDA tercatat sebesar USD 207 juta dengan margin 17%. Meski demikian, tekanan dari sisi operasional tetap menjadi faktor utama yang membebani kinerja.
BUMA juga membukukan rugi bersih sebesar USD 128 juta.
"Grup mencatat rugi bersih sebesar USD 128 juta, yang dipicu oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset pada operasional di Australia dan Amerika Serikat," ujarnya.
Faktor Kerugian
Iwan mengatakan, kerugian ini dipengaruhi oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset (impairment) di Australia dan Amerika Serikat.
Meski menghadapi tekanan, Grup mencatat arus kas bebas (free cash flow) positif sebesar USD 8 juta, berbalik dari posisi negatif USD 60 juta pada 2024. Bahkan pada kuartal IV 2025, arus kas bebas mencapai USD 57 juta, menjadi yang tertinggi sepanjang tahun.
"FY2025 merupakan tahun yang menantang bagi Grup. Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat," pungkasnya.