Hilirisasi Tembaga dan Emas Terintegrasi di Gresik Serap Hingga 7.500 Tenaga Kerja
Fasilitas yang dibangun meliputi produksi brass mill dan brass cups dengan kapasitas 10.000 ton per tahun, serta pabrik manufaktur emas logam mulia.
Pengembangan ekosistem hilirisasi tembaga dan emas terintegrasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Gresik diproyeksikan mampu menyerap hingga 7.500 tenaga kerja. Kehadiran proyek ini diharapkan memperkuat posisi Gresik sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri bernilai tambah yang mendorong penguatan ekonomi nasional.
Proyek ini ditandai melalui groundbreaking hilirisasi nasional tahap II oleh Danantara. Ekosistem hilirisasi tersebut merupakan hasil sinergi sejumlah perusahaan negara, antara lain MIND ID, DEFEND ID, ANTAM, Freeport Indonesia, PINDAD, dan PELINDO. Fasilitas yang dibangun meliputi lini produksi brass mill dan brass cups dengan kapasitas 10.000 ton per tahun, serta pabrik manufaktur emas logam mulia berkapasitas 30 ton per tahun.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menekankan bahwa keberhasilan investasi industri tidak hanya diukur dari nilai proyek, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat, khususnya dalam hal penyerapan tenaga kerja dan stabilitas sosial.
"Sinergi lintas sektor menjadi kunci utama, karena kestabilan sosial dan penyerapan tenaga kerja akan menentukan seberapa baik hilirisasi ini terwujud di bumi pertiwi. Tentu, prioritas utama kita adalah memberikan ruang seluas-luasnya bagi tenaga kerja Indonesia," ujar Emil saat menghadiri seremoni groundbreaking hilirisasi tahap II di KEK Gresik dikutip Senin (4/5).
Ia menjelaskan bahwa hilirisasi di KEK Gresik telah bergerak ke tahap produk turunan yang lebih lanjut. Oleh karena itu, kebutuhan tenaga kerja tidak hanya muncul pada fase konstruksi, tetapi juga pada tahap operasional serta pengembangan industri turunannya.
"Potensi penyerapan tenaga kerjanya cukup besar, mencapai 7.000 orang lebih. Mereka akan tersebar di berbagai lini, mulai dari pengolahan katoda tembaga menjadi pipa dan kawat, hingga fasilitas bahan baku amunisi di bawah Defend ID dan pengolahan emas oleh Antam," tuturnya.
Menurut Emil, penciptaan lapangan kerja tersebut juga berpotensi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah, sehingga pembangunan ekonomi dapat berlangsung lebih inklusif.
"Kami sangat mensyukuri adanya keberpihakan afirmasi bagi masyarakat di wilayah Gresik dan Jawa Timur. Inilah tumpuan harapan kita agar Indonesia mampu berkompetisi di kancah global tanpa meninggalkan kesejahteraan masyarakat daerah," imbuhnya.
Pemerataan Ekonomi
Emil menilai bahwa penyerapan tenaga kerja ini dapat memperkuat pemerataan manfaat ekonomi di Jawa Timur, termasuk kawasan Gerbangkertosusila yang memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Ia menekankan bahwa strategi hilirisasi perlu dijalankan melalui kolaborasi agar manfaatnya tidak terpusat, melainkan menyebar ke berbagai sektor dan lapisan masyarakat.
Tahap Awal
"Hilirisasi tahap awal biarlah dirasakan oleh daerah penghasil di hulu. Di Jawa Timur, kita berfokus pada hilirisasi tahap lanjut yang bersifat multi-komoditas. Semangat kita adalah kolaborasi, memastikan kemajuan ini dirasakan bersama, bukan sendiri-sendiri," pungkasnya.