BPS Ungkap Dominasi Gen Z Sulawesi Tengah, Potensi Besar Bonus Demografi
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025 yang menunjukkan Dominasi Gen Z Sulawesi Tengah, menandakan potensi besar bagi pembangunan daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tengah mengumumkan bahwa populasi di wilayah tersebut kini didominasi oleh Generasi Z. Kelompok usia yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an ini menjadi mayoritas dalam struktur kependudukan Sulteng.
Kepala BPS Sulawesi Tengah, Daryanto, menyatakan bahwa dominasi Gen Z mencapai 26,40 persen dari total penduduk. Angka ini diperoleh dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025, yang dirilis pada Sabtu, 16 Mei.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Sulawesi Tengah memiliki jumlah penduduk usia muda yang signifikan. Potensi besar ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah di masa depan.
Struktur Penduduk Sulawesi Tengah: Gen Z Terbanyak
Berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025, Generasi Z menduduki porsi terbesar dalam struktur demografi Sulawesi Tengah. Mereka menyumbang 26,40 persen dari keseluruhan populasi.
Diikuti oleh Generasi Milenial yang menempati posisi kedua dengan 24,41 persen dari total penduduk. Pada tahun 2025, jumlah penduduk Sulawesi Tengah tercatat mencapai 3,16 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,17 persen per tahun.
Daryanto menjelaskan bahwa dominasi Gen Z ini mengindikasikan ketersediaan sumber daya manusia usia muda yang melimpah. Hal ini merupakan aset berharga yang berpotensi mendorong kemajuan pembangunan di Sulawesi Tengah.
Dinamika Angka Kelahiran dan Rasio Ketergantungan
BPS juga mencatat adanya perbedaan signifikan dalam angka kelahiran total di berbagai wilayah Sulawesi Tengah. Kota Palu memiliki angka kelahiran terendah, yaitu 2,07 anak per perempuan, sedangkan angka tertinggi tercatat di Kabupaten Buol.
Perbedaan angka kelahiran antarwilayah ini dipengaruhi oleh beragam faktor. Tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, akses layanan kesehatan, serta pola kehidupan masyarakat di setiap daerah turut berperan dalam membentuk dinamika tersebut.
Selain itu, BPS melaporkan rasio ketergantungan penduduk di Sulawesi Tengah berada pada kisaran 46 persen. Ini berarti setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 46 penduduk usia nonproduktif.
Kelompok usia nonproduktif ini terdiri dari penduduk berusia di bawah 15 tahun dan kelompok usia lanjut 65 tahun ke atas.
Bonus Demografi: Peluang dan Tantangan Pembangunan
Sulawesi Tengah saat ini berada dalam fase bonus demografi, sebuah kondisi di mana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan usia nonproduktif.
Daryanto mengemukakan bahwa bonus demografi ini dapat menjadi peluang emas untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, potensi ini hanya bisa terwujud jika didukung oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang signifikan.
Ketersediaan lapangan kerja yang memadai juga menjadi faktor krusial agar bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal. Keberhasilan dalam memanfaatkan fase ini sangat bergantung pada pengelolaan SDM yang cermat dan strategis.
Oleh karena itu, Daryanto menekankan pentingnya menyiapkan kebijakan yang komprehensif. Kebijakan ini harus mampu meningkatkan kualitas pendidikan, keterampilan tenaga kerja, pelayanan kesehatan, serta menciptakan peluang kerja yang luas bagi generasi muda di Sulawesi Tengah.
Sumber: AntaraNews