Bea Cukai Kalbagsel Lampaui Target Pendapatan Negara 508,18 Persen di Tahun 2025
Bea Cukai Kalbagsel mencatat kinerja impresif sepanjang tahun 2025, berhasil melampaui target pendapatan negara hingga 508,18 persen berkat lonjakan Bea Keluar dan Cukai yang signifikan.
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Selatan (Kanwil DJBC Kalbagsel) menunjukkan performa gemilang sepanjang tahun 2025. Instansi ini berhasil membukukan realisasi pendapatan negara mencapai Rp899,13 miliar. Angka ini jauh melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar Rp176,93 miliar.
Capaian luar biasa tersebut setara dengan 508,18 persen dari target yang ditetapkan, menunjukkan kontribusi signifikan terhadap kas negara. Kinerja impresif Bea Cukai Kalbagsel ini didorong oleh lonjakan penerimaan yang substansial dari sektor Bea Keluar dan Cukai.
Kepala Kanwil DJBC Kalbagsel, Dwijo Muryono, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh jajaran. Ia juga menegaskan komitmen Bea Cukai Kalbagsel untuk terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah.
Kinerja Impresif Penerimaan Bea dan Cukai
Dwijo Muryono menjelaskan bahwa realisasi Bea Keluar mencapai Rp840,32 miliar, melampaui target Rp117,83 miliar, atau tumbuh 713,15 persen. Sektor cukai juga memberikan kontribusi signifikan dengan sumbangan Rp7,59 miliar, jauh melampaui target Rp0,93 miliar atau tercapai 812,97 persen. "Kami mencatat realisasi Bea Keluar mencapai Rp840,32 miliar dari target Rp117,83 miliar, atau tumbuh 713,15 persen. Sedangkan sektor cukai menyumbang Rp7,59 miliar, jauh melampaui target yang hanya Rp0,93 miliar atau tercapai 812,97 persen," ujar Dwijo.
Berdasarkan unit kerja, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Kotabaru mencatatkan capaian total tertinggi sebesar 611,92 persen. Sementara itu, KPPBC Banjarmasin menyusul dengan capaian sebesar 127,87 persen.
Tren penerimaan bulanan Bea Cukai Kalbagsel menunjukkan grafik yang stabil di atas proyeksi sepanjang tahun. Peningkatan ini terutama terlihat pada periode akhir tahun, menandakan efektivitas strategi pengawasan dan pelayanan yang diterapkan.
Dinamika Perdagangan Internasional di Kalbagsel
Dari sisi perdagangan internasional, produk sawit masih menjadi tulang punggung ekspor di wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah. Komoditas ini mendominasi sebesar 99,64 persen dari total komoditas yang dikenakan Bea Keluar.
Lima besar komoditas utama ekspor meliputi minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan turunannya, bungkil, serta produk kayu olahan (veneering). Negara tujuan ekspor utama dari wilayah tersebut adalah China dengan nilai sekitar Rp2,34 triliun.
Negara tujuan ekspor penting lainnya adalah Singapura sebesar Rp2,26 triliun dan Amerika Serikat senilai Rp2,07 triliun. Selain itu, Pakistan, Brasil, Malaysia, hingga Belanda juga menjadi tujuan ekspor dari wilayah ini.
Volume ekspor tertinggi tercatat pada bulan Agustus dengan total 320,2 ribu ton, sedangkan devisa ekspor tertinggi diraih pada bulan September yang mencapai sekitar Rp3,06 triliun. Aktivitas impor mengalami fluktuasi, dengan volume tertinggi pada Desember sebesar 180 ribu ton. Meskipun demikian, neraca perdagangan di wilayah Kalbagsel tetap mencatatkan surplus yang kuat.
Total surplus perdagangan hingga Desember 2025 mencapai 12.433, meskipun secara persentase tumbuh negatif 15,51 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Kontribusi Penerimaan Lainnya bagi Negara
Selain penerimaan inti dari Bea dan Cukai, Kanwil DJBC Kalbagsel juga mengelola Penerimaan Lainnya yang mencapai total Rp6,42 triliun. Komponen terbesar berasal dari pajak pertambahan nilai (PPN) impor sebesar Rp2,15 triliun.
Disusul oleh pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 ekspor sebesar Rp1,67 triliun dan Dana Sawit sebesar Rp1,25 triliun. Penerimaan PPN HT/DN (Hasil Tembakau/Dalam Negeri) juga mengalami lonjakan pertumbuhan year-on-year hingga 20.000 persen.
Angka ini meningkat dari Rp4,3 miliar pada tahun 2024 menjadi Rp864,4 miliar di tahun 2025. "Melalui capaian ini, Bea Cukai Kalbagsel berkomitmen untuk terus memperkuat fungsi revenue collector sekaligus memberikan fasilitasi perdagangan guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di daerah," kata Dwijo Muryono.
Sumber: AntaraNews