Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan capaian signifikan dalam **penerimaan bea cukai** hingga periode Agustus 2025. Total realisasi mencapai Rp194,9 triliun, menunjukkan pertumbuhan yang solid. Angka ini merupakan bukti kinerja positif di tengah dinamika ekonomi global.
Realisasi tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu Rp183,2 triliun. Capaian ini telah memenuhi 64,6 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Target APBN untuk sektor ini dipatok sebesar Rp310,4 triliun.
Wakil Menteri Keuangan, Anggito Abimanyu, dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Senin, menegaskan, "Sudah di atas rata-rata itu kenaikan dari penerimaan bea cukai." Pernyataan ini menunjukkan tren positif yang berkelanjutan dalam kinerja penerimaan negara.
Advertisement
Advertisement
Rincian Komponen Penerimaan Bea Cukai
Anggito Abimanyu merinci komponen **penerimaan bea cukai** yang berkontribusi pada capaian tersebut. Penerimaan dari sektor cukai mencapai Rp144 triliun, menunjukkan pertumbuhan 4,1 persen secara tahunan. Meskipun demikian, produksi hasil tembakau (CHT) tercatat mengalami penurunan sebesar 1,9 persen.
Sementara itu, bea keluar menunjukkan lonjakan signifikan hingga 71,7 persen secara tahunan, mencapai Rp18,7 triliun. Kenaikan drastis ini utamanya dipicu oleh kenaikan harga komoditas minyak kelapa sawit (CPO). Selain itu, kebijakan terkait ekspor konsentrat tembaga juga turut menjadi pendorong utama.
Di sisi lain, penerimaan bea masuk justru mengalami kontraksi sebesar 5,1 persen secara tahunan, dengan total Rp32,2 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh implementasi kebijakan perdagangan di sektor pangan. Pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) juga turut memengaruhi kondisi ini.
Advertisement
Advertisement
Faktor Pendorong Kenaikan Penerimaan
Kemenkeu menggarisbawahi bahwa rata-rata **penerimaan bea cukai** bulanan sepanjang tahun 2025 lebih tinggi. Angka ini melampaui rata-rata yang tercatat selama dua tahun terakhir secara konsisten. Pertumbuhan penerimaan bulanan ini berlangsung positif hingga Agustus 2025.
Kondisi positif ini didukung oleh stabilnya dinamika perdagangan global yang berkelanjutan. Harga CPO yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu juga menjadi faktor penting dalam peningkatan penerimaan. Adanya relaksasi ekspor tembaga turut memberikan kontribusi signifikan.
Selain itu, sektor impor masih mencatatkan pertumbuhan yang kuat, khususnya pada barang modal. Pertumbuhan impor ini berperan vital dalam menopang total penerimaan negara. Peningkatan investasi juga menjadi salah satu pendorong utama di balik capaian ini.
Advertisement
Dari sisi cukai, permintaan atas CHT relatif terkendali meskipun ada pergeseran konsumsi. Terjadi fenomena pergeseran dari sigaret kretek mesin (SKM) ke sigaret kretek tangan (SKT) di pasar. Namun, hal ini tidak mengganggu pertumbuhan penerimaan secara keseluruhan.
Advertisement
Strategi Pengawasan dan Kontribusi Lainnya
Penguatan sistem pengawasan kepabeanan dan cukai secara berkelanjutan terus dilakukan oleh Kemenkeu. Langkah ini bertujuan untuk memastikan kepatuhan dan mencegah praktik ilegal yang merugikan negara. Upaya ini menjadi bagian integral dari strategi peningkatan **penerimaan bea cukai**.
Di saat yang sama, proses audit dan penelitian ulang juga semakin diperketat. Pengetatan ini memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan penerimaan negara secara keseluruhan. Kebijakan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga integritas fiskal.
Sumber: AntaraNews
Advertisement