BPMA Targetkan Pemulihan Jaringan Migas Aceh Rampung Awal Maret 2026 Pasca Bencana
Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) berupaya keras memulihkan jaringan migas Aceh yang rusak akibat bencana banjir dan longsor, menargetkan operasi penuh pada Maret 2026.
Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menargetkan pemulihan secara keseluruhan jaringan produksi minyak dan gas bumi (Migas) di Aceh yang rusak pascabencana banjir dan longsor dapat selesai pada awal Maret 2026.
Kepala BPMA, Nasri Djalal, menyatakan bahwa "Rata-rata target kita paling lambat Maret, 1 Maret kita sudah bisa on-stream kembali. Paling lambat (pemulihan kerusakan)."
Pernyataan ini disampaikan Nasri Djalal dalam konferensi pers di sela kegiatan Aceh Upstream Oil & Gas Supply Chain Management Summit 2026, di Banda Aceh, menyoroti dampak serius bencana terhadap produksi migas daerah.
Dampak Bencana Terhadap Produksi Migas Aceh
Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh telah menyebabkan gangguan signifikan pada operasional produksi minyak dan gas bumi di wilayah tersebut. Beberapa perusahaan di bawah kewenangan BPMA tidak dapat beroperasi atau memproduksi hasil alam karena area kerjanya dihantam banjir.
Nasri menuturkan, "seluruh wilayah kerja belum bisa berproduksi karena di wilayah kerja dan areanya terdapat banjir." Kerusakan utama terjadi pada jaringan pipa, banyak yang rusak dan bocor, terutama di Kabupaten Aceh Timur yang dikelola PT Medco E & P Malaka, serta Pema Global Energi (PGE) di Aceh Utara.
Kondisi ini secara langsung menghambat aktivitas pekerja dan proses produksi di wilayah terdampak. "Aceh Timur tidak bisa masuk. Artinya orang tidak bisa bekerja di sini," ujar Nasri Djalal, menjelaskan kesulitan akses dan operasional.
Gangguan produksi migas ini telah berlangsung selama dua bulan terakhir, berdampak pada tingkat produksi migas Aceh secara keseluruhan.
Upaya Pemulihan dan Progres BPMA
BPMA terus melakukan berbagai upaya agar seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Aceh bisa berproduksi kembali. Langkah-langkah pemulihan mencakup pembersihan dan perbaikan infrastruktur di semua wilayah kerja yang terdampak bencana.
Sejauh ini, sejak 1 Februari 2026, sudah ada beberapa operasi yang mulai kembali mengalirkan gasnya. Medco Energi adalah salah satu yang sudah mulai berproduksi kembali, menunjukkan progres positif dari upaya perbaikan yang terus dilakukan semaksimal mungkin.
BPMA berkomitmen untuk mempercepat proses pemulihan ini demi menstabilkan kembali sektor migas Aceh. "Tapi ini terus kita lakukan upaya perbaikan," tegas Nasri Djalal, menggarisbawahi dedikasi BPMA dalam menghadapi tantangan ini.
Fokus utama adalah memastikan keamanan dan kelancaran operasional setelah perbaikan selesai, sehingga produksi dapat kembali normal sesuai target waktu yang telah ditetapkan.
Implikasi Ekonomi dan Pendapatan Negara
Gangguan produksi migas di Aceh memiliki implikasi ekonomi yang signifikan, terutama terhadap pendapatan negara. Ketika wilayah kerja tidak berproduksi, artinya tidak ada minyak dan gas yang dapat dijual.
Kondisi ini secara langsung mempengaruhi pendapatan negara bukan pajak (PNBP) yang sangat bergantung pada sektor migas. Nasri Djalal menjelaskan, "Bisa dipastikan, ketika tidak berproduksi artinya tidak ada minyak dan gas yang dijual. Sehingga tidak ada pendapatan negara bukan pajak (PNBP), dan berpengaruh pada pendapatan Aceh."
Penurunan PNBP ini tidak hanya berdampak pada kas negara, tetapi juga pada pendapatan daerah Aceh. Pemulihan jaringan migas Aceh yang cepat dan efektif sangat krusial untuk mengembalikan kontribusi sektor ini terhadap ekonomi lokal dan nasional.
BPMA berharap dengan tercapainya target pemulihan pada Maret 2026, sektor migas Aceh dapat kembali menjadi salah satu pilar penting dalam penerimaan negara dan daerah.
Sumber: AntaraNews