Kerusakan PDAM Aceh Akibat Banjir Bandang: Layanan Air Bersih Terganggu di Sejumlah Wilayah

Banjir bandang akhir November 2025 menyebabkan kerusakan parah pada sumber air sejumlah PDAM Aceh, mengganggu pasokan air bersih vital bagi masyarakat. Simak selengkapnya dampak Kerusakan PDAM Aceh dan upaya pemulihannya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kerusakan PDAM Aceh Akibat Banjir Bandang: Layanan Air Bersih Terganggu di Sejumlah Wilayah
Banjir bandang akhir November 2025 menyebabkan kerusakan parah pada sumber air sejumlah PDAM Aceh, mengganggu pasokan air bersih vital bagi masyarakat. Simak selengkapnya dampak Kerusakan PDAM Aceh dan upaya pemulihannya. (AntaraNews)

Banjir bandang yang melanda Provinsi Aceh pada akhir November 2025 telah menimbulkan dampak serius terhadap infrastruktur vital, khususnya pasokan air bersih. Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan daerah air minum (PDAM) di wilayah tersebut mengalami kerusakan parah pada sumber airnya. Akibatnya, produksi dan layanan air bersih kepada masyarakat menjadi terhenti total di beberapa daerah.

Kerusakan ini secara langsung mengancam ketersediaan air minum yang layak bagi ribuan penduduk Aceh yang terdampak bencana. Ketua Perpamsi Aceh, Sulaiman, pada Sabtu (20/12) di Banda Aceh, menegaskan bahwa gangguan pasokan air bersih ini merupakan krisis yang memerlukan penanganan cepat. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka sehari-hari.

Faktor utama kerusakan adalah perubahan alur sungai yang menjadi sumber pasokan air PDAM, serta rusaknya intake dan jalur instalasi air. Wilayah seperti Kabupaten Aceh Tamiang, Kota Langsa, dan Kabupaten Pidie Jaya menjadi beberapa daerah yang paling parah terdampak. Situasi ini menuntut perhatian serius dari berbagai pihak untuk segera memulihkan layanan esensial tersebut.

Dampak Kerusakan Infrastruktur Air Bersih Akibat Bencana

Banjir bandang akhir November 2025 secara signifikan merusak infrastruktur vital PDAM di Aceh, terutama pada bagian sumber air bersih. Sulaiman dari Perpamsi Aceh menjelaskan bahwa perubahan alur sungai menjadi penyebab utama terganggunya pasokan air. Sungai-sungai yang sebelumnya menjadi tumpuan pasokan air kini tidak dapat berfungsi optimal akibat dampak bencana alam tersebut.

Selain kerusakan alur sungai, intake atau bangunan penampungan air juga tidak luput dari terjangan banjir. Kerusakan pada intake ini menghambat proses pengambilan air baku dari sungai. Akibatnya, kapasitas produksi air bersih PDAM menurun drastis, bahkan terhenti sama sekali di beberapa lokasi.

Jalur instalasi air dari sungai menuju titik pengolahan air bersih juga mengalami kerusakan parah. Pipa-pipa dan fasilitas penyaluran lainnya terputus atau tertimbun material banjir. Hal ini semakin memperparah kondisi, membuat air baku tidak dapat dialirkan menuju instalasi pengolahan.

Beberapa PDAM yang terdampak parah antara lain di Kabupaten Aceh Tamiang, Kota Langsa, dan Kabupaten Pidie Jaya. Kerusakan sumber air ini menyebabkan PDAM-PDAM tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Kondisi ini menimbulkan krisis air bersih yang mendesak di tengah upaya pemulihan pascabencana.

Kendala Pasokan Bahan Kimia dan Keterbatasan Listrik Operasional

Selain kerusakan fisik pada sumber air, sejumlah PDAM di Aceh kini menghadapi kendala serius dalam pengadaan bahan kimia untuk pengolahan air bersih. Distribusi bahan kimia esensial seperti tawas terhambat karena jalur darat menuju beberapa wilayah terdampak bencana terputus. Tanpa bahan kimia ini, proses penjernihan air tidak dapat dilakukan secara efektif, bahkan jika air baku tersedia.

Sulaiman menekankan pentingnya bahan kimia tersebut untuk memastikan air yang didistribusikan layak konsumsi. "Jika ini tidak ada, maka pemenuhan air bersih sulit terpenuhi," ujarnya. Keterlambatan pasokan bahan kimia ini dapat memperpanjang durasi krisis air bersih bagi masyarakat yang sudah terdampak.

Masalah lain yang dihadapi PDAM adalah keterbatasan pasokan listrik. Meskipun banyak PDAM memiliki genset sebagai sumber listrik cadangan, Sulaiman menjelaskan bahwa genset tersebut tidak dirancang untuk beroperasi berhari-hari. Genset hanya berfungsi sebagai solusi sementara untuk satu atau dua jam, bukan untuk mengatasi pemadaman listrik jangka panjang yang sering terjadi setelah bencana.

Dari total 23 PDAM di Aceh, baru dua yang dilaporkan pulih 100 persen, yaitu PDAM Tirta Daroy di Kota Banda Aceh dan PDAM Tirta Mountala di Kabupaten Aceh Besar. Sebelumnya, hampir semua PDAM sempat berhenti beroperasi karena ketiadaan suplai listrik. Hal ini menyoroti kerentanan operasional PDAM terhadap gangguan listrik dan urgensi solusi energi yang lebih berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi