Banjir Parah, PDAM Tirta Peusada Aceh Timur Rugi Rp67 Miliar: Ribuan Pelanggan Terdampak Krisis Air
PDAM Tirta Peusada Aceh Timur alami kerugian fantastis Rp67 miliar akibat banjir, merusak instalasi dan pipa. Ribuan pelanggan terancam krisis air bersih.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Peusada Kabupaten Aceh Timur menghadapi kerugian finansial yang sangat besar. Kerugian ini ditaksir mencapai angka fantastis Rp67 miliar akibat dampak parah bencana banjir. Bencana alam yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu terakhir telah merusak infrastruktur vital.
Direktur PDAM Tirta Peusada, Iskandar, mengungkapkan bahwa kerusakan mencakup instalasi, jaringan pipa, hingga panel listrik. Seluruh komponen penting tersebut terendam air dan lumpur akibat terjangan banjir. Kondisi ini secara langsung mengganggu operasional penyediaan air bersih bagi masyarakat.
Kerugian signifikan ini tersebar di berbagai unit pengelolaan air dan cabang PDAM di Aceh Timur. Wilayah Lhoknibong menjadi salah satu area yang paling parah terdampak banjir. Pemulihan layanan air bersih bagi sekitar 22 ribu pelanggan menjadi prioritas utama pihak PDAM.
Rincian Kerugian Infrastruktur Vital PDAM Aceh Timur
Iskandar merinci bahwa kerugian terbesar melanda beberapa cabang dan unit pengelolaan air di Aceh Timur. Cabang Peureulak mengalami kerugian sekitar Rp15 miliar, sementara Cabang Lhoknibong mencatat kerugian lebih besar, yaitu Rp18 miliar. Angka ini menunjukkan skala kerusakan yang signifikan pada infrastruktur air bersih.
Selain itu, Cabang Ranto Peureulak merugi sekitar Rp6 miliar, dan Unit Pengelolaan Teumpeun Ranto Panjang Peureulak mengalami kerugian Rp17 miliar. Cabang Penaron dan Ranto Selamat juga tidak luput dari dampak banjir, dengan kerugian masing-masing Rp5 miliar dan Rp6 miliar. Total kerugian ini mencerminkan kerusakan menyeluruh pada sistem distribusi air.
Banjir tidak hanya merusak jaringan pipa, tetapi juga merendam enam titik instalasi pengolahan air (IPA) dengan kapasitas bervariasi. Kapasitas IPA tersebut mulai dari 10 hingga 120 liter per detik, yang semuanya terdampak parah. Instalasi terbesar di Lhoknibong, berkapasitas 120 liter per detik, berada di wilayah yang paling parah terendam banjir.
Di kawasan Lhoknibong, tercatat ada sekitar 10 jalur pipa utama yang terendam air dan lumpur. Kondisi sejumlah pipa lainnya masih dalam proses pengecekan karena akses yang sulit dijangkau. Pihak PDAM belum dapat memastikan seluruh kondisi pipa karena sebagian besar masih tertutup material lumpur tebal.
Tantangan Pemulihan dan Dampak pada Pelanggan Air Bersih
Kendala terbesar yang dihadapi PDAM Tirta Peusada saat ini adalah pasokan listrik yang belum normal di wilayah terdampak. Instalasi pengolahan air sangat bergantung pada listrik untuk operasionalnya, sehingga distribusi air ke pelanggan belum bisa kembali sepenuhnya. Panel-panel listrik penggerak pompa juga ikut terendam banjir, memperparah situasi.
Selain masalah listrik, banyak pipa yang berada di badan jalan dan di tepi sungai mengalami putus akibat tergerus derasnya arus banjir. Kerusakan ini menambah daftar panjang pekerjaan perbaikan yang harus dilakukan oleh tim PDAM. Pemulihan jaringan pipa menjadi krusial untuk mengembalikan layanan air bersih.
Tim PDAM terus bekerja keras melakukan pembersihan lumpur dan perbaikan koneksi pipa yang putus di wilayah terdampak. Pembongkaran jaringan di area paling parah, khususnya Lhoknibong, juga sedang diupayakan. Meskipun demikian, proses ini membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.
Dengan sekitar 22 ribu keluarga pelanggan yang tersebar di berbagai wilayah, kebutuhan masyarakat terhadap air bersih pascabencana sangat mendesak. Iskandar menyatakan bahwa pihaknya telah melaporkan kondisi kerusakan ini secara resmi kepada Bupati Aceh Timur dan Kementerian terkait. PDAM sangat mengharapkan bantuan pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan infrastruktur air bersih yang vital ini.
Sumber: AntaraNews