Dana Sawit Kalbagsel Meroket 212 Persen, Sokong Penerimaan Negara Awal 2026

Kinerja penerimaan negara di Kalimantan Bagian Selatan pada Januari 2026 melonjak signifikan, didorong kenaikan 212 persen pada **Dana Sawit Kalbagsel** yang mencapai Rp119,8 miliar, memicu rasa penasaran akan dampaknya pada ekonomi regional.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dana Sawit Kalbagsel Meroket 212 Persen, Sokong Penerimaan Negara Awal 2026
Kinerja penerimaan negara di Kalimantan Bagian Selatan pada Januari 2026 melonjak signifikan, didorong kenaikan 212 persen pada **Dana Sawit Kalbagsel** yang mencapai Rp119,8 miliar, memicu rasa penasaran akan dampaknya pada ekonomi regional. (AntaraNews)

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Kalimantan Bagian Selatan (DJBC Kalbagsel) mencatat lonjakan signifikan pada penerimaan dana sawit di wilayahnya. Peningkatan ini terjadi pada periode Januari 2026, menunjukkan tren positif di awal tahun anggaran.

Kepala Kanwil DJBC Kalbagsel, Muhtadi, mengungkapkan bahwa dana sawit naik drastis sebesar 212 persen secara tahunan. Kenaikan ini menjadi faktor pendorong utama kinerja penerimaan, menopang realisasi penerimaan lainnya.

Total realisasi penerimaan di Kalbagsel mencapai Rp441,4 miliar pada Januari 2026, yang sebagian besar ditopang oleh kinerja sektor kelapa sawit. Hal ini mengindikasikan peran krusial komoditas tersebut bagi keuangan negara di Kalimantan.

Lonjakan Signifikan Dana Sawit Kalbagsel

Penerimaan dana sawit di Kalimantan Bagian Selatan mengalami pertumbuhan luar biasa, melonjak dari Rp38,4 miliar pada Januari 2025 menjadi Rp119,8 miliar pada Januari 2026. Angka kenaikan sebesar 212 persen ini mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi yang kuat di sektor kelapa sawit.

Muhtadi menjelaskan bahwa lonjakan ini dipicu oleh peningkatan volume ekspor produk turunan kelapa sawit dari wilayah Kalimantan. Pertumbuhan ekspor komoditas sawit dan turunannya memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap setoran negara.

Kontribusi besar dari sektor sawit ini memperkuat posisi Kalimantan sebagai salah satu sentra produksi kelapa sawit terbesar di Indonesia. Kinerja positif ini diharapkan dapat terus berlanjut sepanjang tahun 2026.

Diversifikasi Sumber Penerimaan Negara

Selain dari dana sawit, penerimaan negara di Kalbagsel juga didukung oleh sektor lain yang menunjukkan kinerja bervariasi. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 Ekspor menyumbang Rp134,4 miliar, tumbuh 2,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, penerimaan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor tercatat Rp90 miliar, terkoreksi 20,3 persen dari realisasi Januari 2025 sebesar Rp112,9 miliar. Penurunan PPN impor ini dipengaruhi oleh penyesuaian aktivitas impor bahan baku industri manufaktur di wilayah kerja Kalbagsel.

Sementara itu, PPN hasil tembakau atau dalam negeri (HT/DN) memberikan kontribusi sebesar Rp76,3 miliar, memperkuat diversifikasi sumber penerimaan. Diversifikasi ini penting agar penerimaan negara tidak hanya bertumpu pada sektor perkebunan dan pertambangan.

Tantangan dan Strategi DJBC Kalbagsel

Meskipun terjadi lonjakan pada dana sawit, DJBC Kalbagsel juga menghadapi tantangan di beberapa sektor lain. Selain penurunan PPN impor, sektor PPh impor mencatat realisasi Rp20,9 miliar, turun 17,2 persen dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp25,3 miliar.

DJBC Kalbagsel juga mencatat nihil penerimaan pada sektor pajak rokok selama periode berjalan. Situasi ini menjadi bahan evaluasi penting dalam pemetaan distribusi hasil tembakau di daerah.

Menyikapi hal ini, Muhtadi menyatakan bahwa DJBC Kalbagsel akan memperkuat strategi jemput bola terhadap eksportir. Selain itu, mereka juga akan mendorong kemudahan sistem logistik guna menjaga momentum pertumbuhan penerimaan sepanjang tahun 2026.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi