Pemerintah Iran Perintahkan Warganya Hapus WhatsApp dari HP, ini Alasannya
Di tengah ketegangan antara Iran dan Israel, pemerintah Iran mengimbau warganya untuk menghapus aplikasi WhatsApp.
Pemerintah Iran melalui siaran TV nasional meminta warganya untuk menghapus WhatsApp dari smartphone mereka pada Rabu (25/6/2025), dikutip dari Time Magazine. Rupanya, konflik antara Iran dan Israel tidak hanya berkisar pada serangan fisik, tetapi juga melibatkan aspek dunia digital.
Seruan tersebut dilontarkan karena adanya kekhawatiran aplikasi chatting milik Meta itu mengumpulkan data pengguna untuk diserahkan kepada Israel. Selain WhatsApp, masyarakat juga dianjurkan untuk menghindari aplikasi lain yang berbasis lokasi. Menanggapi tuduhan tersebut, WhatsApp mengatakan informasi tersebut tidak benar, karena aplikasi mereka dilengkapi dengan teknologi enkripsi end-to-end. Dengan demikian, pesan yang dikirimkan tidak dapat diakses oleh pihak ketiga, bahkan oleh WhatsApp sendiri.
Konflik antara Israel dan Iran Meluas ke Ranah Perang Siber
Di sisi lain, para ahli dalam bidang keamanan siber mengatakan konflik antara Iran dan Israel kini telah meluas ke ranah digital melalui aktivitas perang siber. Salah satu pakar keamanan siber yang telah berpengalaman bekerja di Microsoft, Christin Flynn Goodwin, mengamati adanya sejumlah peretas terkenal di dunia, termasuk kelompok yang terafiliasi dengan militer Israel dan Iran, terkait dengan kemungkinan dampak dari konflik siber ini.
"Kami telah melihat perang dunia maya selama bertahun-tahun terjadi berkali-kali antara kedua negara ini. Tentara Israel terkenal dengan kemampuan sibernya dan Unit 8200-nya adalah kelas dunia," ungkap Goodwin, seperti yang dilansir oleh My North West.
Sementara itu, personel siber Iran juga memiliki reputasi yang signifikan.
"Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) dan Institut Mabna-nya begitu terkenal untuk urusan siber," kata Goodwin.
Perlu dicatat sejak Israel melancarkan serangan rudal pertamanya ke Teheran minggu lalu, kedua negara telah saling melancarkan serangan di dunia maya. Situasi ini berpotensi menimbulkan konsekuensi yang sangat berbahaya.
Peningkatan Serangan Siber Capai 700 Persen selama Konflik Iran dan Israel
Firma keamanan siber Ragnar Cybersecurity melaporkan serangan siber yang berasal dari Iran mengalami lonjakan hingga 700 persen, dengan fokus utama pada Israel. Dalam perkembangan terbaru, hacker Iran dilaporkan mengirimkan pesan teks yang mengancam serangan teror kepada ribuan warga Israel. Beberapa hari yang lalu, dua perusahaan keamanan siber terkemuka mendesak perusahaan-perusahaan di Amerika untuk memperkuat sistem pertahanan siber mereka. Peningkatan ini diperlukan mengingat catatan sebelumnya di mana hacker yang didukung oleh negara Iran telah secara masif menyerang infrastruktur di AS selama konflik yang lalu.
"Perang dunia maya juga bisa berbahaya. Mungkinkan negara-negara ini memilih untuk menggunakan taktiknya memburu infrastruktur penting seperti kontrol operasional dalam sistem pemanas atau jaringan listrik, atau mungkin air?" ungkap Goodwin.
Pernyataan ini menyoroti potensi ancaman yang lebih luas dari serangan siber yang dapat merusak kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan meningkatnya ketegangan dan serangan yang lebih sering terjadi, penting bagi negara-negara untuk bersiap menghadapi berbagai kemungkinan serangan di dunia maya.
Apakah Hacker Israel Dapat Merusak Ekonomi Iran?
Sementara itu, mengutip Euronews, kelompok peretas yang diduga memiliki keterkaitan dengan Israel baru-baru ini mengklaim bertanggung jawab atas gangguan operasional bank serta mengalirkan USD 90 juta dana curian ke pasar kripto. Selain itu, pejabat Israel melaporkan adanya pesan palsu yang disebarkan kepada publik, yang memperingatkan mengenai potensi serangan teroris terhadap tempat penampungan bom, dengan tujuan untuk menimbulkan kepanikan di masyarakat.
Berdasarkan informasi yang ada, kelompok peretas anti-Iran yang kemungkinan berhubungan dengan Israel, yaitu Gonjeske Darande atau yang dikenal dengan nama Predatory Sparrow, baru-baru ini mengklaim telah menyerang salah satu bank terkemuka di Iran, yaitu Bank Sepah. Akibat serangan tersebut, masyarakat Iran mengalami kesulitan dalam mengakses akun perbankan mereka, serta mengalami kesulitan dalam menarik uang tunai dan mendapatkan kartu bank mereka.
Sebelumnya, pada tahun 2018, Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi kepada Bank Sepah karena dianggap mendukung aktivitas yang merugikan bagi Iran. Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan antara Iran dan Israel terus meningkat, dengan dampak yang signifikan terhadap masyarakat di kedua negara.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5255319/original/048910700_1750155869-1080x1080_01__1_.jpg)