Perang Iran dan Israel makin memanas. Kedua negara saling melancarkan operasi militer skala besar. Perang besar ini terjadi setelah Iran meluncurkan rentetan drone dan rudal ke wilayah Israel pada Minggu (14/4) dinihari waktu setempat.
Iran dan Israel mengusung nama operasi militer yang berbeda baik misi dan sasaran target. Iran mengusung operasi militer yang diberi nama True Promise, sementara Israel mengambil nama Rising Lion.
Dilansir dari Al Jazeera, operasi Kebangkitan Singa adalah inisiatif militer dan intelijen Israel untuk melumpuhkan program pengayaan nuklir dan kemampuan militer Iran.
Operasi ini mencakup serangan udara besar-besaran dan misi sabotase rahasia, yang dijalankan tidak hanya oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tetapi juga oleh Mossad, badan intelijen Israel.
Channel News Asia menyatakan, operasi dimulai dengan serangkaian serangan udara pada Jumat pagi, yang dikabarkan menghantam puluhan lokasi strategis, termasuk fasilitas utama pengayaan nuklir Iran di Natanz. Ledakan terdengar di seluruh Teheran.
Lebih dari 200 jet tempur Angkatan Udara Israel menyerang lebih dari 100 titik yang diklaim Israel sebagai target nuklir, militer, dan infrastruktur di seluruh Iran. Termasuk fasilitas nuklir utamanya di Natanz, menurut laporan Aljazeera, pada Jumat, 13 Juni 2025.
Akibat serangan itu, dua ilmuwan nuklir utama Iran termasuk di antara enam ilmuwan yang tewas. Kantor berita Iran Tasnim menyebut dua korban itu, Mohammad Mehdi Tehranchi dan Fereydoun Abbasi, sebagai ilmuwan nuklir terkemuka.
Serangan itu juga mengakibatkan tiga petinggi militer Iran meninggal dunia, yakni Mayor Jenderal Mohammad Bagheri selaku Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Hossein Salami selaku Komandan IRGC, dan Jenderal Gholam Ali Rashid yang memimpin markas pusat militer Iran.
Dikutip dari Antara, serangan udara Israel dimulai sekitar pukul 03.00 waktu setempat (23.30 GMT/06:30 WIB) dan menyasar fasilitas militer, instalasi nuklir, serta kawasan permukiman, menurut laporan media Iran.
Salah satu sasaran penting serbuan Israel adalah situs radar Subashi di Provinsi Hamedan, bagian barat Iran, yang dikenal sebagai pusat radar strategis negara tersebut. Selain itu, pusat militer dan radar di Provinsi Kermanshah serta fasilitas militer di Provinsi Lorestan juga menjadi target.
Di Tabriz, Barak Militer Seydava, sistem radar di sekitar kota, dan sejumlah titik strategis lainnya turut diserang. Sementara itu, di Provinsi Khuzestan yang kaya akan minyak di bagian barat daya Iran, beberapa pusat penting termasuk gerbang perbatasan menuju Irak ikut menjadi sasaran.
Advertisement
Pejabat Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dalam sebuah pernyataan usai serangan menegaskan serangan ke Israel tersebut disebut dengan 'Operation True Promise'. Operasi pembalasan berskala besar, yang diluncurkan dengan nama sandi "Ya Ali ibn Abi Talib."
Dikutip dari Press TV, Analis politik Shabbir Rizvi menjelaskan operasi True Promise merupakan operasi militer yang dilancarkan Iran untuk memenuhi janji balas dendam secara pasti terhadap rezim Israel.
Operasi ini diluncurkan untuk membalas serangan Israel ke Konsulat Iran di Damaskus, Suriah pada 1 April 2024 lalu. Serangan Israel ini meratakan gedung Konsulat Iran dan menyebabkan 11 orang meninggal.
Mereka di antaranya sembilan warga Iran, dua warga Suriah, dan satu warga Lebanon. Dua di antaranya merupakan komandan pasukan elite di Korps Garda Revolusi Iran.
Seperti dilansir media lokal Iran, Press TV, Minggu (14/4/2024), Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam pernyataan pertama pada Sabtu (14/4) malam waktu setempat mengumumkan dilancarkannya serangan balasan terhadap Israel, yang disebutnya sebagai "Operasi Janji Sejati".
"Dalam merespons berbagai kejahatan rezim Zionis, termasuk serangan terhadap bagian konsuler Kedutaan Besar Iran di Damaskus dan kematian martir sejumlah komandan dan penasihat militer negara kami di Suriah, Divisi Dirgantara IRGC meluncurkan puluhan rudal dan drone terhadap target-target tertentu di dalam wilayah pendudukan," demikian bunyi pernyataan pertama yang dirilis Garda Revolusi Iran.
Dalam pernyataan kedua, Garda Revolusi Iran menyebut pembalasan dilaksanakan setelah organisasi internasional "bungkam dan mengabaikan" selama 10 hari sejak serangan terjadi di Suriah, terutama Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tidak mengecam atau menghukum Israel atas serangan mematikan itu -- sesuai Pasal 7 Piagam PBB.
Garda Revolusi Iran, dalam pernyataannya, mengklaim rentetan serangan telah "berhasil" menghantam dan menghancurkan target militer Israel.
"Dengan menggunakan kemampuan intelijen strategis, rudal dan drone untuk menyerang target-target pasukan teroris Zionis di wilayah pendudukan, berhasil mengenai dan menghancurkan mereka," tegas Garda Revolusi Iran dalam pernyataannya.
Menurut IRGC, Operasi True Promise akan dilakukan dalam beberapa tahap hingga persyaratan untuk melakukan pembalasan dipenuhi.
Menteri Pertahanan Iran Mohammed Reza Ashtiani juga memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak membuka wilayah mereka kepada Israel untuk melakukan serangan terhadap Iran, dan memperingatkan akan adanya tanggapan tegas.
Sebelum serangan diluncurkan, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam khotbah Idulfitri sempat bersumpah untuk "menghukum" rezim Israel atas "kesalahan" yang menargetkan fasilitas diplomatik Iran. Khamenei mengatakan tak akan bertele-tele dan rezim Israel akan dihukum.
Ali Khamenei menyebut serangan Israel itu "kejahatan" dan memperingatkan bahwa Israel akan mengalami "nasib pahit dan mengerikan."
Garda Revolusi kemudian membalas dengan meluncurkan operasi "True Promise 3" pada Jumat malam, yang menyerang target militer di wilayah Israel.