Jejak Saling Serang Perang Siber Israel dan Iran
Ketegangan Iran dan Israel terjadi juga di dunia maya. Keduanya terlibat dalam perang siber yang menyerang sistem air, pelabuhan, hingga SPBU nasional.
Ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran tidak lagi hanya terjadi di medan tempur fisik. Dua musuh bebuyutan itu terlibat dalam perang siber yang semakin agresif, saling menyerang infrastruktur vital masing-masing negara. Mulai dari sistem air, pelabuhan, hingga jaringan transportasi nasional menjadi target peretasan.
Dalam beberapa tahun terakhir, pola serangan balasan antara kedua negara menunjukkan peningkatan, baik dari sisi skala maupun dampak. Aksi saling retas ini bukan hanya dilakukan oleh aktor negara, tapi juga oleh kelompok proksi siber yang mewakili kepentingan masing-masing.
Salah satu kasus besar terjadi pada Mei 2020, ketika sistem logistik Pelabuhan Shahid Rajaee di Iran lumpuh akibat serangan siber. Laporan Washington Post menyebut Israel berada di balik serangan itu, sebagai balasan atas upaya peretasan sistem air Israel sebelumnya.
Serangan ini menyebabkan antrean truk dan kapal kargo selama berjam-jam. Bagi Iran, ini bukan hanya gangguan teknis, tapi tamparan terhadap sistem logistik nasional di kawasan strategis Selat Hormuz.
Balasan Iran, Retas Sistem Air dan Kamera Israel
Tak lama setelah itu, Iran merespons dengan serangan terhadap sistem air dan limbah Israel, termasuk enam fasilitas pengolahan. Tujuan utama serangan adalah mengubah kadar bahan kimia dalam air, berpotensi membahayakan warga sipil. Untungnya, Israel berhasil mendeteksi serangan tersebut sebelum menimbulkan kerusakan.
Tahun berikutnya, kelompok hacker pro-Iran bernama Black Shadow meretas kamera jalanan dan sistem asuransi Israel, mencuri data pengguna, dan menuntut tebusan. Setelah permintaan tak ditanggapi, mereka membocorkan sebagian data ke publik.
Serangan Berlanjut ke SPBU dan Kereta Api Iran
Serangan siber tidak hanya terjadi di satu sisi. Pada Juli 2021, sistem tiket dan pengumuman kereta api Iran terganggu total. Layar-layar digital di stasiun menampilkan pesan mengejek pemerintah: "Tertunda karena serangan siber. Hubungi Pemimpin Tertinggi." Banyak pihak menduga Israel atau kelompok proksinya berada di balik insiden ini.
Serangan terbesar terjadi pada Oktober 2022, ketika ribuan SPBU Iran lumpuh akibat peretasan sistem subsidi bahan bakar. Sistem digital gagal membaca kartu subsidi warga, menyebabkan antrean panjang dan kekacauan nasional.
Pengamat dari Institute for National Security Studies (INSS) memperingatkan bahwa eskalasi ini berisiko menyeret sektor sipil lebih dalam. “Saat SPBU, air, dan transportasi diserang, yang jadi korban pertama adalah rakyat biasa,” ujar analis siber INSS, Rami Efrati.
Lembaga seperti Microsoft Threat Intelligence dan Mandiant (Google Cloud) juga mencatat lonjakan aktivitas serangan siber dari kedua negara sepanjang 2022–2024.