Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Asia, Rabu (29/7), seiring kembali memanasnya ketegangan di Timur Tengah. Mengutip CNBC, kontrak berjangka Brent pengiriman September naik 3,42 persen ke USD 86,97 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,58 persenke USD 82,09 per barel.
Kenaikan terjadi setelah Iran melancarkan serangan terhadap pasukan Amerika Serikat. Komando Pusat AS (U.S. Central Command/Centcom) menulis di X, "Pasukan Korps Garda Revolusi Islam meluncurkan sejumlah rudal balistik dari Iran dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang berpangkalan di Timur Tengah."
Adapun pasukan AS dan Arab Saudi menyerang sejumlah lokasi logistik dan persenjataan di Irak timur pada Selasa sebagai balasan atas lebih dari 30 serangan pesawat nirawak (drone) dalam tiga hari terakhir yang dilakukan oleh "teroris yang berafiliasi dengan Iran," ungkap Centcom.
Advertisement
Isyarat Bahaya di Laut Merah dan Ancaman Houthi
Secara terpisah, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan adanya "aktivitas mencurigakan" di Laut Merah melalui unggahan di X. Badan tersebut menyebut nakhoda sebuah kapal tanker mendengar suara ledakan saat melintas di wilayah selatan Laut Merah. Peringatan diterbitkan pada Selasa, sementara insiden dilaporkan terjadi pada Senin, tanpa rincian tambahan.
Serangan Houthi yang menyasar fasilitas minyak Arab Saudi juga menambah kekhawatiran pasar. "Serangan Houthi terhadap infrastruktur produksi, penyimpanan, dan pelabuhan minyak dapat mengganggu pasokan di seluruh kawasan," tutur Penasihat Industri Eksekutif di Xeneta, Bjorn Vang Jensen, dalam program "Access Middle East" di CNBC pada Selasa.
Rangkaian insiden keamanan maritim dan serangan terhadap infrastruktur energi tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan dari kawasan kunci produsen minyak.
Advertisement
Sehari Sebelumnya Harga Minyak Merosot Hampir 5%
Sebelum lonjakan terbaru, harga minyak dunia ditutup melemah pada Selasa (28/7/2026). Mengutip CNBC, Brent turun 4,8 persen ke USD 84,09 per barel, sementara WTI merosot 4 persen ke USD 79,26 per barel.
Penurunan terjadi di tengah kabar kontak diplomatik Iran dengan Arab Saudi dan Oman terkait Selat Hormuz. Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran yang diunggah di Telegram, para pejabat membahas perlunya "menghilangkan ketidakamanan di Selat Hormuz yang disebabkan oleh tindakan agresif Amerika Serikat," demikian bunyi pernyataan pihak Iran tersebut.
Pada Selasa, jeda pertempuran antara AS dan Iran tampak bertahan sehingga memunculkan harapan de-eskalasi. Teheran membantah laporan terkait kesepakatan gencatan senjata 10 hari dengan AS, meski sempat terjadi jeda serangan untuk sementara waktu.
Di sisi lain, laporan mengenai menipisnya persediaan amunisi AS mencuat. Menurut Axios, Presiden Donald Trump pada Jumat menyatakan sedang mempertimbangkan "serangan besar-besaran" terhadap Iran, namun The New York Times menyebut rencana itu ditunda di tengah kekhawatiran stok persenjataan. Saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One pada Senin dalam perjalanan menuju Michigan, Trump menepis anggapan kekurangan senjata dan menyebut militer memiliki persediaan amunisi yang "melimpah".
Advertisement
Proyeksi Risiko Pasokan dan Arah Harga Minyak
Commonwealth Bank of Australia pada Selasa menyatakan penurunan harga minyak baru-baru ini mencerminkan meredanya kekhawatiran akan eskalasi langsung antara AS dan Iran.
Di saat bersamaan, sentimen kebijakan moneter ikut diperhatikan pelaku pasar. "Lonjakan harga minyak ditambah oleh nada bicara yang cenderung hawkish dari Ketua Kevin Warsh dalam pertemuan FOMC pertamanya sebagai pimpinan The Fed, dan para pedagang masih terpecah pendapat mengenai keputusan bank sentral yang dijadwalkan pada hari Rabu," menurut laporan Kitco.
Meski demikian, Goldman Sachs memperingatkan risiko terhadap pasokan energi global masih tinggi. Dalam sebuah catatan, bank itu menyebut, "jeda dalam permusuhan AS-Iran tampaknya telah meredam ekspektasi bahwa konflik akan meningkat hingga mencakup serangan signifikan terhadap infrastruktur sipil dan energi," demikian pernyataan bank tersebut.
Masih dalam catatan yang sama, Goldman Sachs menilai perselisihan terkait jalur pelayaran vital Selat Hormuz "dapat memicu kembali permusuhan."
Para analis Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah Brent dapat mereda menuju US$ 80 per barel pada akhir tahun, dengan catatan "jika Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya" pada tiga bulan terakhir tahun tersebut.
"Namun, gangguan di Laut Merah dan serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi dapat menjadi sumber risiko baru yang mendorong kenaikan harga minyak mentah serta produk olahannya," tambah para analis.