Inggris menghadapi lonjakan pencurian bahan bakar sejak konflik Amerika Serikat–Iran memicu kenaikan harga. Analisis Forecourt Eye menyebut nilai BBM yang dicuri mendekati £200.000 per hari, setara sekitar Rp4,8 miliar.
Perusahaan itu mencatat nilai kehilangan melonjak 48% dibanding lima bulan sebelumnya, dengan rata-rata harian mencapai £194.000 (sekitar Rp4,69 miliar). Selain itu, jumlah insiden di SPBU naik sekitar seperlima sejak 28 Februari 2026.
Temuan dihitung dari sampel 550 SPBU representatif dan diekstrapolasi ke 8.359 SPBU di seluruh Inggris. Rata-rata 2.872 insiden terjadi per hari, meningkat dari sekitar 2.400 lima bulan sebelumnya, dilansir dari BBC, Selasa (4/8/2026).
Advertisement
Lonjakan Insiden Seiring Gangguan Pasokan dan Harga
Forecourt Eye melaporkan gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik memicu kenaikan harga di tingkat usaha niaga umum dan harga di pompa. Di saat yang sama, volume BBM yang dicuri dari setiap SPBU disebut naik 24%, dari sekitar 87.000 liter menjadi 108.900 liter per hari.
Insiden yang tercatat mencakup dua pola utama: pelanggan yang pergi tanpa membayar, serta mereka yang mengaku tidak mampu membayar setelah tangki diisi penuh. Beberapa operator juga menyampaikan peningkatan risiko keamanan internal.
Perusahaan pencegah pencurian itu menambahkan laporan mengenai eskalasi perilaku bermasalah, termasuk “penganiayaan, intimidasi, dan kekerasan dari pelanggan yang tertekan”.
Advertisement
Teknologi Pengawasan: Forecourt Eye–Facewatch
Merespons tren ini, Forecourt Eye akan bekerja sama dengan perusahaan pengenalan wajah Facewatch. Lebih dari 2.000 peritel akan ditawari akses gratis ke teknologi pelaporan kejahatan mulai musim gugur tahun ini.
Kolaborasi tersebut diharapkan mempercepat identifikasi pelaku berulang dan mempermudah penindakan berdasarkan bukti visual. Inisiatif ini melengkapi sistem kamera yang sudah umum dipasang di area pengisian bahan bakar.
Forecourt Eye sebelumnya juga mencatat pola serupa pada awal 2022 ketika konflik Rusia–Ukraina memicu lonjakan harga, yang diikuti peningkatan kasus pencurian di SPBU.
Advertisement
Pengelola SPBU Mengaku Kewalahan
Pemilik enam SPBU di bawah bendera Midlands Motor Fuels, Shailesh Parekh, mengatakan sistem CCTV yang padat tidak cukup menghentikan pelaku. Ia menggambarkan situasi yang membuat pelaku usaha kerap pasrah menghadapi kerugian.
“Tidak ada pencegah, tidak ada balasan. Ini letak masalahnya,” kata Parekh.
Parekh menyebut pencurian terjadi hampir setiap hari. Modusnya tidak hanya mengisi bahan bakar kendaraan, tetapi juga mengisi ke wadah tambahan.
Menurutnya, kerugian yang ditanggung tahun lalu mencapai sekitar £40.000 (sekitar Rp968,9 juta) dan berpotensi meningkat tahun ini menyusul kenaikan harga yang terjadi sejak awal 2026.
Advertisement
Pernyataan Pemerintah dan Respons Regulator
Kanselir Inggris John Healey menyatakan pemerintah akan menindak praktik pelambungan harga oleh peritel, jika terbukti. Meskipun belum ada bukti signifikan, ia mengatakan kepada Sunday Telegraph akan mengawasi ketat bila publik merasa dirugikan.
Mantan Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, dan sejumlah menteri menyampaikan nada serupa: pemerintah akan melakukan intervensi jika pelanggan dirugikan oleh pengecer bahan bakar. Pernyataan ini menuai bantahan dari pelaku usaha dan kritik dari Petrol Retailers Association (PRA) yang menilai bahasa pemerintah terlalu agresif.
Competition and Markets Authority (CMA) pada Mei menyebut belum menemukan bukti pelambungan harga beberapa pekan setelah konflik berlangsung. Namun, regulator menelisik alasan di balik kenaikan margin pada Februari–Maret di dua supermarket dan tiga peritel non-supermarket.
British Retail Consortium (BRC) menilai kompetisi antarsupermarket menjadi alasan harga ditekan serendah mungkin, bukan akibat intervensi pemerintah. Mereka juga menyebut tekanan harga banyak dipengaruhi kontribusi Asuransi Nasional, kenaikan pajak kemasan, dan belum direformasinya pajak properti bisnis.
“Meski tekanan tinggi, penjual eceran akan terus berupaya memberikan yang terbaik untuk pelanggan,” tutur direktur pangan dan keberlanjutan BRC, Andrew Opie.
Pada awal tahun ini, Kepala Pusat Kejahatan Bisnis Nasional, Inspektur Lisa Maslen, menegaskan beban pencurian bahan bakar menimpa peritel dan sumber daya kepolisian.
“Kepolisian mengambil langkah proaktif dalam menyelesaikan isu ini, dengan mengidentifikasi pelaku, menghentikan perilaku berulang, dan memastikan mereka diproses secara hukum,” ujar Maslen.