Bos AirAsia Bantah Minta Bailout ke Pemerintah Malaysia

Isu keuangan disorot, Bos AirAsia tegaskan perusahaan dalam kondisi aman dan tak minta bailout ke pemerintah.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Bos AirAsia Bantah Minta Bailout ke Pemerintah Malaysia
Maskapai penerbangan Airasia. dok: Indonesia Airasia

Co-founder AirAsia Tony Fernandes menepis kabar terkait permohonan dana bantuan (bailout) kepada Pemerintah Malaysia di tengah sorotan publik atas kondisi finansial maskapai berbiaya murah (low-cost carrier) tersebut.

Lewat pengarahan media secara daring yang diikuti dari Jakarta, Jumat, Fernandes menegaskan bahwasanya AirAsia tidak memerlukan dana penyelamatan dari pemerintah guna menjaga kelangsungan bisnisnya. Ia pun menggarisbawahi sama sekali tidak ada pembahasan bersama Pemerintah Malaysia mengenai bantuan tersebut.

Fernandes membeberkan bahwa AirAsia mengantongi likuiditas lebih dari 1 miliar ringgit (setara Rp4,35 triliun), sehingga posisi keuangan perusahaan berada dalam tingkat yang aman untuk membiayai operasionalnya.

"Jadi kami baik-baik saja. Kami masih bisa bertahan dan semuanya baik-baik saja," kata Fernandes.

Di samping itu, AirAsia tengah menjajaki pembiayaan utang senilai kurang lebih USD 1 miliar sekaligus mengupayakan penambahan modal saham di Indonesia dan Filipina.

Fernandes menerangkan bahwa langkah pencarian pembiayaan utang tersebut bukan bertujuan menghimpun modal baru, melainkan bagian dari skema perbaikan struktur pendanaan agar memperoleh suku bunga serta syarat yang lebih menguntungkan.

Fernandes tak menampik jika lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) turut menekan beban operasional maskapai. Ia menggambarkan kuartal II sebagai fase yang menantang lantaran harga rata-rata jet fuel melonjak 66 persen dari kuartal sebelumnya hingga menyentuh USD 183 per barel.

Optimis Situasi Membaik

Indonesia Air Asia (Foto: AirAsia)
Indonesia Air Asia (Foto: AirAsia)

Meski demikian, ia meyakini situasi akan berangsur membaik seiring langkah penyesuaian tarif yang diterapkan AirAsia guna mengompensasi kenaikan biaya avtur.

Di tengah gempuran tekanan biaya operasional ini, Fernandes memastikan tidak ada satu pun armada AirAsia yang berhenti beroperasi (grounded) akibat kendala gagal bayar.

Penjelasan ini disampaikan guna meluruskan pemberitaan media mengenai tindakan Pemerintah Malaysia yang dikabarkan mengontak Malaysia Airlines dan Batik Air untuk menyusun skenario darurat, termasuk opsi mengambil alih rute dan penumpang AirAsia jika performa keuangannya memburuk.

Bantah Tudingan Negosiasi

Fernandes kembali membantah tudingan adanya negosiasi dengan Pemerintah Malaysia menyangkut bantuan penyelamatan atau bailout.

Saat ini, AirAsia mengoperasikan sekitar 250 pesawat, dengan 10 armada tambahan yang dijadwalkan siap terbang pada Oktober mendatang. Sebelumnya, grup ini juga telah mengembalikan 25 unit pesawat berusia tua.

Merujuk pada catatan per 30 Juni 2026, total liabilitas lancar yang dicatatkan AirAsia berada di angka 18,4 miliar ringgit atau setara Rp80,2 triliun.

Rekomendasi