Di Era AI, Ancaman Kekerasan terhadap Perempuan Semakin Kompleks
Dwi Yuliawati menguraikan peran DeepFake sebagai sarana baru yang memfasilitasi terjadinya kekerasan terhadap perempuan.
Kepala Program UN Women Indonesia, Dwi Yuliawati, menyatakan bahwa tingkat kekerasan terhadap perempuan di ranah digital terus mengalami peningkatan.
Salah satu contoh adalah penyalahgunaan aplikasi DeepFake, yang merupakan teknologi artificial intelligence (AI) yang dapat memanipulasi foto seseorang. Dwi menekankan bahwa penggunaan DeepFake tidak hanya berpotensi menjadi sarana pornografi, tetapi juga dapat digunakan untuk doxing, yaitu penyebaran informasi pribadi, serta penipuan. Dalam konteks kekerasan seksual, aplikasi ini dapat memicu astroturfing, yang menciptakan ilusi tertentu.
“Selanjutnya, kita harus membahas tentang astroturfing. Ini seolah-olah menggambarkan sekelompok perempuan yang memperjuangkan hak-hak mereka. Misalnya, ada yang mengikuti trad wives trend? Exactly. Women energy, bukan? Ini bisa jadi contoh dari astroturfing,” jelasnya dalam acara Kampanye Global UNiTE 2025 untuk 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan pada Kamis, 20 November 2025.
Dwi juga menambahkan bahwa tindakan astroturfing bertujuan untuk mendorong perempuan kembali ke peran tradisional. Meskipun tidak secara langsung merugikan perempuan, tindakan ini dapat menimbulkan kebencian terhadap peran mereka.
“Kebencian yang terjadi di dunia maya ini, seperti yang telah disebutkan, dapat berdampak pada kehidupan nyata. Jadi, ini bukan sekadar dua fenomena yang terpisah, antara dunia nyata dan dunia virtual. Kekerasan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti KDRT,” ujarnya.
Dengan demikian, penting untuk menyadari bahwa kekerasan di dunia digital dapat memiliki konsekuensi nyata yang serius bagi perempuan.
Melawan DeepFake dapat dilakukan dengan teknologi Deep Learning
Dwi menekankan bahwa kekerasan di ranah digital seharusnya tidak perlu ditakuti, melainkan harus dilawan. Untuk menghadapi tantangan seperti DeepFake, ia menyarankan perlunya melakukan deep learning atau penelitian yang mendalam. Aktivitas deep learning ini dapat dioptimalkan dengan memanfaatkan teknologi terkini, seperti ChatGPT atau alat pencarian berbasis AI lainnya.
"Deep learning yang kita gunakan, ChatGPT untuk research, juga dapat dimanfaatkan untuk catfishing dan doxing, sehingga seolah-olah kita memiliki history yang bertentangan dengan apa yang diyakini oleh para pelaku. Kita dapat menciptakan narasi tersebut, lalu mempostingnya di berbagai platform," jelasnya.
Dengan demikian, penting untuk menyadari potensi teknologi dalam menghadapi isu-isu yang muncul di dunia digital.
Dukungan untuk para korban
Pada kesempatan yang sama, Gender Equality and Social Inclusion Analyst UNDP Indonesia, Syamsul Tarigan, menekankan pentingnya dukungan bagi korban kekerasan digital.
Dukungan ini sangat diperlukan agar para korban dapat lebih baik dalam menghadapi kasus yang mereka alami. Teknologi seperti AI dan DeepFake menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi di dunia fisik, tetapi juga di ranah digital atau virtual. Dengan demikian, kekerasan dapat melibatkan siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.
Syamsul menambahkan, "Kekerasan digital itu adalah kekerasan yang nyata, dia bisa membungkam suara-suara. Jika ada aktivis atau jurnalis, tidak mungkin kejahatan ini akan berhenti. Membungkam mereka agar tidak bersuara pada akhirnya dapat mengancam demokrasi kita. Selain itu, yang tak kalah penting, kekerasan digital juga akan memperburuk inequality antara laki-laki dan perempuan," katanya.