Cerita Mody Pernah Digaji Gede Sekarang Nganggur, Frustasi Lamar Kerja Ditolak Terus Hingga Rumah Mau Disita
Ia punya profesi bergengsi sebagai arsitek solusi cloud di Microsoft.
Sebelum dipecat pada Desember 2024, Mody Khan hidup nyaman dengan gaji enam digit dollar per tahun. Bila dirupiahkan kira-kira per tahun, dia bisa mengantongi duit miliaran. Ia punya profesi bergengsi sebagai arsitek solusi cloud di Microsoft.
Kini, setelah sembilan bulan mencari pekerjaan tanpa hasil, ia berada di ujung tanduk. Tabungannya hampir habis, cicilan rumah menunggak, dan risiko kehilangan tempat tinggal semakin nyata.
“Saya punya tabungan, dan hampir semuanya sudah habis,” ujar Khan, pria berusia 50-an yang tinggal di Texas.
“Saya sedang dalam kesulitan," tambahnya dikutip dari Business Insider, Rabu (3/9).
Bukan Orang Baru
Khan bukan orang baru di industri teknologi. Ia berkarier lebih dari satu dekade di bidang IT sebelum bergabung dengan Microsoft pada 2019.
Dalam lima tahun, ia meniti karier dari teknisi kontrak menjadi arsitek solusi cloud. Namun, perjalanan itu berakhir pahit. Desember 2024, Khan diberhentikan karena alasan kinerja tanpa pesangon.
Ia masih diberi kesempatan melamar posisi internal. Ia sudah mencoba lebih dari 30 lowongan di Microsoft, tetapi semuanya berujung penolakan. Sejak itu, ia memperluas pencarian ke luar perusahaan.
Setiap minggu, Khan mengirim lamaran. Beberapa kali ia berhasil menembus tahap wawancara, namun tak satu pun berbuah tawaran.
“Saya sudah menjalani begitu banyak wawancara bagus, sampai saya merasa siap ditawari pekerjaan. Tapi mereka tidak pernah melanjutkan,” katanya.
Lebih frustrasi lagi, banyak perekrut yang awalnya antusias, mengambil resume, lalu tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
“Rasanya seperti perekrut sedang mencari Superman,” ucapnya getir.
Latar Belakang Jadi Masalah
Khan sadar ada beberapa faktor yang mungkin menghambat. Usianya membuat sebagian perusahaan ragu akan kemampuannya mengikuti perkembangan teknologi.
Untuk menepis keraguan itu, ia menempuh sertifikasi AI dari University of Texas. Namun, tantangan lain muncul: banyak perusahaan kini lebih mencari kandidat dengan latar belakang startup, sementara pengalaman Khan didominasi perusahaan besar.
Selain itu, ia khawatir latar belakangnya sebagai imigran Pakistan turut menjadi hambatan. Ia merasa beberapa perekrut atau pewawancara, khususnya yang berasal dari India, menunjukkan bias yang sulit ia abaikan.
Tabungan Menipis
Tabungan Khan kini tinggal sekitar USD10.000 atau Rp150 juta (kurs Rp15.000), cukup untuk bertahan dua bulan ke depan. Jika habis, ia harus mencairkan investasi atau dana pensiun 401(k).
Skor kreditnya sudah turun ratusan poin, dan jika gagal membayar hipotek setelah masa penangguhan berakhir November nanti, rumahnya bisa disita.
“Saya terus melamar, berharap ada yang menerima. Tapi situasinya sangat, sangat berbahaya,” katanya.